MALUKU UTARA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berkomitmen meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) melalui penguatan fasilitas sekolah luar biasa (SLB). Upaya ini diwujudkan lewat Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, digitalisasi pembelajaran, serta penguatan pendidikan vokasional di berbagai SLB, khususnya di wilayah Indonesia Timur.
Salah satu penerima bantuan revitalisasi adalah SLBN Pulau Morotai di Provinsi Maluku Utara. Sekolah ini memperoleh bantuan sebesar Rp1,39 miliar. Setelah ruang kelas dan ruang keterampilan direhabilitasi secara menyeluruh, puluhan murid kini lebih antusias belajar dan mengembangkan potensi diri.
Sebelumnya, proses pembelajaran kerap terganggu karena kondisi bangunan yang rusak dan belum pernah diperbaiki sejak berdiri pada 2013. Atap kelas sering bocor sehingga murid harus dipindahkan ke ruangan lain saat hujan.
Kepala SLBN Pulau Morotai, Nilla Timbuleng, menjelaskan bahwa ruang keterampilan yang dulu rusak parah kini telah aktif kembali. “Sekarang kami bisa kembali mengajarkan berbagai kompetensi, mulai dari bermain musik hingga membuat kerajinan tangan dari batok kelapa, yang menjadi potensi lokal Morotai,” ujarnya, Jumat (20/5/2026).
Selain revitalisasi, sekolah ini juga menerima bantuan Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP) yang mendukung pembelajaran berbasis teknologi. Menurut Nilla, kehadiran perangkat tersebut membuat murid semakin bersemangat belajar, sekaligus membuka peluang pengembangan materi keterampilan seperti kerajinan tangan dan musik.
Perubahan serupa juga terjadi di SLBN Raja Ampat, Papua Barat Daya. Sejak direvitalisasi pada September 2025, sekitar 20 anak berkebutuhan khusus kini dapat mengakses layanan pendidikan khusus secara lebih mudah sejak Januari 2026. Sebelumnya, banyak anak tidak dapat bersekolah karena SLB terdekat berada di Kota Sorong.
Pelaksana Tugas Kepala SLBN Raja Ampat, Fandy Dawenan, menyebut banyak murid baru pertama kali bersekolah meski usianya sudah cukup besar. “Sekarang mereka bisa mendapatkan pendidikan, terapi, dan pelatihan keterampilan di daerah sendiri,” katanya.
Program revitalisasi tidak hanya menyasar sekolah negeri, tetapi juga SLB swasta di wilayah Indonesia Timur. Salah satunya SLB St. Elisabeth Pupung di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Kepala sekolah, Vinsensius Wandu, menjelaskan bahwa bantuan revitalisasi memungkinkan sekolah yang sebelumnya menumpang di rumah warga kini memiliki fasilitas belajar yang layak. Sekolah tersebut kini dilengkapi ruang kelas, perpustakaan, ruang administrasi, serta selasar untuk mendukung aktivitas belajar murid yang sebagian besar berasal dari desa-desa di Kecamatan Rana Mese.
Seorang murid, Devan Saputra, mengaku senang dengan fasilitas baru yang tersedia. Ia merasa lebih nyaman belajar dan tidak lagi malu karena sekolahnya kini memiliki bangunan sendiri.
Selain perbaikan fasilitas, Kemendikdasmen juga memperkuat pendidikan vokasional melalui pembentukan Lembaga Sertifikasi Profesi pihak pertama (LSP-P1). Salah satu pelaksana program ini adalah SLBN Halmahera Barat yang membuka kompetensi keterampilan sepeda motor.
Kepala sekolah, Ismawati Muhammad, menjelaskan bahwa pelatihan tersebut mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Khusus Penyandang Disabilitas yang terdaftar di Kementerian Ketenagakerjaan. Dengan sertifikasi tersebut, lulusan diharapkan memiliki bekal keterampilan yang diakui untuk memasuki dunia kerja.
Sepanjang 2025, Kemendikdasmen melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus telah menyalurkan bantuan revitalisasi kepada 382 SLB di seluruh Indonesia. Wilayah Indonesia Timur menjadi prioritas, dengan sedikitnya 65 SLB menerima bantuan di kawasan Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Papua, dengan total anggaran lebih dari Rp90 miliar.
Penulis : lazir
Editor : ameri













