JAKARTA – Tercatat setiap tahunnya, Indonesia menghadapi paradoks yang memprihatinkan: di satu sisi, 13 juta ton makanan terbuang sia-sia, sementara di sisi lain, 26 juta penduduk masih mengalami kelaparan.
Data dari PBB (UNDP – United Nation Development Project) mengungkap bahwa jumlah makanan yang terbuang ini mencapai 25% dari total produksi pangan nasional.
Berbagai faktor menjadi penyebab pemborosan makanan, mulai dari kebiasaan membeli dalam jumlah besar tanpa perhitungan, penyimpanan yang tidak tepat sehingga makanan cepat rusak, hingga praktik restoran yang membuang makanan tidak terjual.
Selain itu, pesta-pesta seringkali menyisakan makanan dalam jumlah berlebihan yang akhirnya berakhir di tempat sampah.
Melihat kondisi ini, Prakarsa Lintas Agama untuk Hutan Tropis (Interfaith Rainforest Initiative/IRI) Indonesia dan Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) merasa terpanggil untuk turut serta mengatasi permasalahan tersebut.
Kedua organisasi ini pun menjalin kerja sama strategis yang ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Desa Wisata KISUCI (Komunitas Iklim Sungai Cikeas), Cipambuan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu, (16/2/2025).
MoU ini ditandatangani oleh National Facilitator IRI Indonesia, Dr. Hayu Prabowo, dan Ketua Umum PJMI, H. Ismail Lutan. Salah satu inisiatif utama dari kerja sama ini adalah gerakan ‘berbagi makanan berlebih’ yang akan dimulai pada bulan Ramadan mendatang.
“Tahap pertama yang akan kita lakukan adalah berbagi makanan ‘sisa’ di bulan Ramadan ini. Makanan sisa yang dimaksud adalah makanan yang tidak habis terjual oleh restoran-restoran. Kita akan mengumpulkannya dan mendistribusikannya kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Hayu, yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (LPLH-SDA MUI).
Menurut Hayu, pihaknya telah bekerja sama dengan sejumlah komunitas masjid untuk mendistribusikan makanan tersebut kepada masyarakat miskin.
“Sewaktu saya menjadi Takmir Masjid Aburizal Bakri Kuningan, Jakarta Selatan, hal ini sudah saya praktikkan. Makanan yang tidak habis dalam setiap kegiatan kami bagikan kepada gelandangan dan dhuafa di sekitar Kuningan. Program ini adalah perluasan dari apa yang sudah kami lakukan sebelumnya,” tambahnya.
Ketua Umum PJMI, H. Ismail Lutan, menyambut baik gerakan ini. Menurutnya, ada ironi besar dalam distribusi makanan di Indonesia.
“Di satu sisi, banyak orang dengan mudahnya membuang makanan dalam jumlah fantastis, sementara di sisi lain, jutaan orang hampir kelaparan. Ini ironis sekali. Padahal, makanan berlimpah. Oleh karena itu, gerakan ini sangat baik dan harus kita sukseskan agar distribusi makanan lebih merata. Jika hal ini bisa diwujudkan, maka tidak akan ada lagi masyarakat Indonesia yang kelaparan,” ujar Ismail Lutan.
Selain upaya mengurangi pemborosan makanan dan memastikan distribusi yang lebih adil, kerja sama ini juga menandai komitmen bersama dalam meningkatkan kesadaran publik serta mengadvokasi kebijakan terkait konservasi hutan tropis.
Ruang lingkup kerja sama ini mencakup tiga aspek utama. Pertama, pelatihan dan edukasi bagi jurnalis tentang konservasi hutan tropis, perubahan iklim, dan peran masyarakat adat.
Kedua, produksi serta distribusi konten media yang informatif dan edukatif melalui berbagai platform, baik online maupun offline.
Ketiga, advokasi kebijakan publik guna mendorong regulasi yang lebih ketat dalam perlindungan hutan tropis dan mitigasi perubahan iklim.
Langkah kolaboratif antara IRI dan PJMI ini diharapkan tidak hanya mengurangi pemborosan makanan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan. ***













