JAKARTA – Kemacetan panjang yang selama ini kerap terjadi di kawasan Bitung, Kabupaten Tangerang, perlahan mulai dicarikan solusi permanen. Kementerian Pekerjaan Umum kini tengah mengebut pembangunan Underpass Bitung di jalur Pantura Serang–Tangerang guna mengurai kepadatan kendaraan sekaligus memperlancar arus logistik menuju kawasan industri di wilayah tersebut.
Proyek ini diharapkan mampu meningkatkan mobilitas masyarakat dan mempercepat distribusi barang menuju kawasan pergudangan serta industri di Bitung dan sekitarnya yang selama ini menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi di Tangerang.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pembangunan underpass merupakan langkah strategis jangka panjang untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan sekaligus memperbaiki kelancaran transportasi di jalur nasional tersebut.
“Diharapkan juga dapat memperlancar mobilitas perekonomian masyarakat yang melewati jalan nasional,” kata Dody, Senin (11/5/2026).
Keberadaan Underpass Bitung memang sudah lama dinanti masyarakat. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu titik kemacetan parah akibat bertemunya arus kendaraan dari arah Serang, Jakarta, dan Curug. Kepadatan biasanya terjadi pada jam sibuk pagi maupun sore hari, termasuk antrean kendaraan menuju akses Tol Tangerang–Merak.
Lokasi pembangunan berada di ruas nasional Batas Kabupaten Serang/Tangerang hingga Batas Kota Tangerang yang merupakan bagian dari koridor Pantura Pulau Jawa. Jalur ini memiliki peran vital sebagai penghubung mobilitas masyarakat, distribusi logistik, hingga akses menuju kawasan industri di Tangerang dan sekitarnya.
Pembangunan Underpass Bitung dikerjakan pada STA 0+125 hingga STA 0+475 dengan panjang underpass mencapai 350 meter. Konstruksi menggunakan desain single cell dua lajur satu arah untuk arus kendaraan dari Tangerang menuju Serang.
Desain tersebut merupakan hasil penyesuaian dari konsep awal double cell menjadi single cell demi menjaga keamanan utilitas strategis nasional berupa jalur pipa milik PT Pertamina Gas yang berada di sekitar lokasi proyek. Penyesuaian ini juga dilakukan agar proses konstruksi lebih efektif.
Tak hanya membangun terowongan utama, Kementerian PU melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Banten turut melakukan pelebaran jalan di sejumlah titik untuk meningkatkan kapasitas lalu lintas dan mengurangi bottleneck kendaraan.
Pada Segmen 1 setelah underpass menuju entry ramp Tol Bitung sepanjang 150 meter, jalan diperlebar dari dua lajur menjadi tiga lajur untuk arah Serang menuju Tangerang. Kemudian pada Segmen 2 di bawah kolong Tol Tangerang–Merak sepanjang 125 meter, jalan diperlebar dari satu lajur menjadi dua lajur.
Sementara pada Segmen 3 setelah kolong tol hingga taper exit ramp Tol Bitung sepanjang 200 meter, pelebaran dilakukan dari dua lajur menjadi tiga lajur termasuk taper kendaraan.
Penataan arus lalu lintas tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas jalan sekaligus memperlancar pergerakan kendaraan di kawasan yang selama ini menjadi titik perlambatan lalu lintas.
Hingga saat ini progres pembangunan Underpass Bitung telah mencapai 27,32 persen dan ditargetkan rampung pada 2027. Proyek tersebut juga telah didukung berbagai dokumen teknis mulai dari feasibility study sejak 2018 yang direviu kembali pada 2024, dokumen lingkungan, Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin), hingga review Detail Engineering Design (DED).
Untuk pembangunan proyek ini dibutuhkan lahan seluas 11.257 meter persegi dengan progres pembebasan lahan mencapai 9.094 meter persegi. Adapun sisa lahan milik PT Pertamina Gas seluas 2.163 meter persegi yang berada di sekitar lokasi underpass disebut telah memperoleh izin prinsip.
Selama proses pembangunan berlangsung, masyarakat diimbau mengantisipasi potensi kepadatan lalu lintas di sekitar area proyek serta tetap mematuhi rambu dan arahan petugas di lapangan.
Penulis : lazir
Editor : ameri













