Festival Bau Nyale 2025: Perpaduan Budaya, Wisata, dan Keberlanjutan di The Mandalika

- Penulis

Senin, 17 Februari 2025 - 13:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Festival Bau Nyale 2025: Perpaduan Budaya, Wisata, dan Keberlanjutan di The Mandalika (YouTube Lagu mbok Pictures)

Festival Bau Nyale 2025: Perpaduan Budaya, Wisata, dan Keberlanjutan di The Mandalika (YouTube Lagu mbok Pictures)

Festival Bau Nyale 2025: Perpaduan Budaya, Wisata, dan Keberlanjutan di The Mandalika
Festival Bau Nyale 2025: Perpaduan Budaya, Wisata, dan Keberlanjutan di The Mandalika (YouTube Lagu mbok Pictures)

RENTAK.ID – Festival budaya tahunan Bau Nyale 2025 resmi digelar di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), Nusa Tenggara Barat (NTB), membawa semarak tradisi yang dipadukan dengan kemeriahan pariwisata modern.

Festival ini kembali menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin menyaksikan langsung perburuan nyale, cacing laut yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika dalam legenda setempat.

Pembukaan festival pada 14 Februari 2025 diwarnai dengan pertunjukan peresean, seni bela diri khas Sasak yang mempertemukan dua petarung menggunakan rotan dan perisai kulit kerbau.

Keesokan harinya, Pemilihan Putri Mandalika sukses menobatkan Baiq Uswatun Hasanah sebagai ikon kecantikan dan kebijaksanaan dalam budaya Lombok.

Pusat Perayaan di The Mandalika, Kuatkan Identitas Pariwisata Lombok

Tahun ini, hampir seluruh rangkaian acara Festival Bau Nyale dipusatkan di kawasan The Mandalika, dengan puncak perayaan pada 18-19 Februari 2025 di Pantai Seger Kuta.

Keputusan ini diambil sebagai strategi memperkuat identitas festival sebagai daya tarik utama pariwisata Lombok Tengah.

“Aspek branding menjadi fokus kami. Dengan dipusatkan di The Mandalika, festival ini akan semakin dikenal luas dan bisa menarik lebih banyak wisatawan,” ungkap H. Lendek Jayadi, Asisten II Setda Lombok Tengah.

Karnaval Putri Mandalika dan Parade 1.000 Peserta

Salah satu agenda paling dinanti adalah Karnaval Putri Mandalika yang akan digelar pada 17 Februari 2025.

Sebanyak 1.000 perempuan dari berbagai daerah di Lombok akan mengenakan busana khas Sasak dan berparade di Kuta Beach Park (KBP), The Mandalika.

Mereka tidak hanya menampilkan keindahan budaya lokal tetapi juga menyampaikan pesan tentang pelestarian tradisi di tengah modernisasi.

Kolaborasi ITDC untuk Festival yang Nyaman dan Ramah Lingkungan

Sebagai pengelola kawasan The Mandalika, Injourney Tourism Development Corporation (ITDC) memastikan festival berlangsung aman, nyaman, dan ramah lingkungan.

General Manager The Mandalika, Wahyu M. Nugroho, menegaskan kesiapan pihaknya dalam menyukseskan acara ini.

“Selain fasilitas penunjang, kami juga bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Tengah untuk menjaga kebersihan area festival. Sebanyak 20 tenaga kebersihan dan 30 petugas keamanan akan dikerahkan untuk memastikan kenyamanan pengunjung,” katanya.

Selain itu, ITDC menyediakan toilet portabel, tenda UMKM, dan area khusus bagi wisatawan agar festival ini juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.

Legenda yang Hidup dalam Perayaan Bau Nyale

Festival Bau Nyale lebih dari sekadar hiburan—ia adalah warisan budaya yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Tradisi ini berasal dari kisah Putri Mandalika, yang mengorbankan dirinya demi kedamaian rakyatnya dan kemudian berubah menjadi nyale.

Hingga kini, masyarakat Sasak percaya bahwa menangkap nyale di pantai saat fajar membawa keberuntungan.

Dengan konsep yang lebih modern namun tetap mempertahankan nilai budaya, Festival Bau Nyale 2025 diharapkan tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga penggerak ekonomi berbasis budaya yang berkelanjutan di The Mandalika.***

Editor : Ayham

Sumber Berita: TBNews.go.id

Berita Terkait

Jejak Majapahit Dihidupkan Kembali, Menbud Fadli Zon Sulap Candi Jabung Jadi Pusat Ekosistem Budaya
Menatap Sunyi yang Retak: Ulasan atas Kumpulan Cerpen “Jangan Tatap Mataku”
Banyuwangi Art Exhibition 2025 Hadirkan 157 Karya, Lukisan Bupati Ditawar Rp 1 Triliun
Banjir dan Longsor Rusak Situs Budaya, LKKI Minta Pemerintah Bertindak Cepat
Tari Sufi Kian Hidup di Pesantren Indonesia, Perpaduan Dzikir dan Keindahan Gerak
Ketua Teater Imago Medan Tanggapi Aspirasi Kolaborasi dengan TENA: “Kapal Seni Perlu Bahan Bakar, Bukan Sekadar Ide”
Naskah Monolog “Pisang Terakhir”
Kemenag Akhiri Tugas Penyelenggaraan Haji dengan Indeks Kepuasan Jamaah Capai 88,46

Berita Terkait

Senin, 26 Januari 2026 - 08:28 WIB

Jejak Majapahit Dihidupkan Kembali, Menbud Fadli Zon Sulap Candi Jabung Jadi Pusat Ekosistem Budaya

Sabtu, 10 Januari 2026 - 09:56 WIB

Menatap Sunyi yang Retak: Ulasan atas Kumpulan Cerpen “Jangan Tatap Mataku”

Senin, 22 Desember 2025 - 07:07 WIB

Banyuwangi Art Exhibition 2025 Hadirkan 157 Karya, Lukisan Bupati Ditawar Rp 1 Triliun

Minggu, 21 Desember 2025 - 10:01 WIB

Banjir dan Longsor Rusak Situs Budaya, LKKI Minta Pemerintah Bertindak Cepat

Rabu, 12 November 2025 - 19:23 WIB

Tari Sufi Kian Hidup di Pesantren Indonesia, Perpaduan Dzikir dan Keindahan Gerak

Berita Terbaru

Sisana hujan (ilustrasi dibikin ài _ rentak.id)

Prakiraan Cuaca

BMKG: Jakarta Mendung Tebal, Hujan Ringan Mengintai Sejumlah Wilayah

Jumat, 10 Apr 2026 - 08:21 WIB