RENTAK.ID – Buku Panduan Program Sastra yang baru-baru ini diluncurkan dan dimasukkan ke dalam kurikulum merdeka mendapat perhatian dari anggota DPR RI, Fahmy Alaydroes.
Menurutnya, buku tersebut memuat banyak kata-kata dan kalimat vulgar yang bermakna sadis, cabul, kekerasan seksual, pedofilia, dan juga LGBT, yang tentunya tidak pantas untuk dibaca oleh anak-anak di seluruh sekolah di Indonesia.
“Buku-buku sastra yang bernilai picisan ini diloloskan oleh Kemendikbud sebagai bacaan sastra untuk guru dan anak-anak di seluruh sekolah di Indonesia.
Fahmy menyebut, tindakan Kemendikbud tersebut seringkali memicu kontroversi dan kegaduhan serta bertentangan dengan nilai dan tujuan luhur pendidikan nasional.
“Kementerian yang dipimpin oleh Nadiem Makarim ini telah banyak meninggalkan catatan buruk, dan cenderung menentang nilai-nilai Pancasila dan konstitusi kita,” ujarnya, Kamis, 30 Mei 2024.
Alih-alih hendak meninggalkan ‘legacy’ dan kurikulum merdeka yang digaungkan, Fahmy mengkritisi bahwa hal tersebut malah menjadikan dunia pendidikan kita berpotensi liar dan mendapat asupan bacaan yang tidak pantas serta merusak moral.
Anggota DPR RI dari Dapil Jawa Barat V ini menegaskan bahwa Kemendikbud harus segera menarik buku tersebut dan merevisinya.
Fahmy menyarankan pihak Kemendikbud untuk membuang semua buku bacaan yang tidak layak dan mengganti dengan buku-buku bacaan sastra lain yang lebih beradab.
Sebagai sebuah negara yang memiliki keanekaragaman budaya serta kepercayaan yang berbeda-beda, sangat penting bagi kita untuk memperhatikan nilai-nilai luhur Pancasila dan konstitusi kita yang tercakup dalam kurikulum merdeka.
Hal ini tentunya harus ditegakkan dengan mengeluarkan bahan bacaan yang memiliki nilai edukasi yang bermanfaat bagi siswa dan sesuai dengan usia para siswa.
Pemerintah dan Kemendikbud haruslah menganggap serius hal ini dan memperbaiki kurikulum sebagai acuan pendidikan yang baik dan benar.
Banyak praktisi pendidikan dan kalangan masyarakat yang menyambut baik kritik yang disampaikan oleh Fahmy Alaydroes ini.













