TIONGKOK – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, memimpin delegasi Indonesia dalam pertemuan dengan Tianjin Medical Products Administration (TJMPA) dan perusahaan bioteknologi terkemuka Tiongkok, CanSino Biologics Inc., Rabu (5/11/2025).
Pertemuan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi ilmiah, inovasi pengembangan vaksin, serta harmonisasi regulasi antara Indonesia dan Tiongkok.
Dari pihak TJMPA hadir Deputy Director Zhang Shengxi, bersama jajaran pejabat teknis. Sementara dari CanSinoBIO turut hadir Chief Operating Officer and Executive Director Chao Shoubai, Chief Scientific Officer Zhu Tao, Chief Commercial Officer Jeanne Wang, dan Vice President for International Business Wang Hongyi.
Dalam sambutannya, Taruna Ikrar menekankan pentingnya kemitraan jangka panjang yang berorientasi pada peningkatan ketahanan kesehatan.
“Pertemuan ini menegaskan urgensi kolaborasi ilmiah dan regulatori antara Indonesia dan Tiongkok untuk mempercepat ketersediaan vaksin yang aman dan berkualitas, sekaligus membangun kapasitas manufaktur biologi yang berkelanjutan,” ujarnya di kutip, Sabtu (8/11/2025)
Deputy Director TJMPA Zhang Shengxi menyebut pertemuan ini berada dalam kerangka kerja sama antara National Medical Products Administration (NMPA) Tiongkok dan BPOM RI. Fokus utama kolaborasi mencakup pertukaran informasi regulatori, harmonisasi standar pengawasan obat dan vaksin, serta pembentukan ekosistem inovasi bioteknologi.
Dalam sesi paparan, TJMPA menjelaskan sistem pendaftaran obat di Tiongkok dan peran otoritas provinsi dalam pengawasan industri farmasi. Sementara itu, CanSinoBIO memaparkan pengembangan kapasitas sebagai perusahaan biofarmasi terintegrasi yang mencakup riset, produksi, hingga distribusi global di lebih dari 10 negara, termasuk Indonesia dan Meksiko.
Salah satu pembahasan utama dalam diskusi adalah kemajuan kerja sama antara CanSinoBIO dan mitra di Indonesia, termasuk pengembangan vaksin inhalasi tuberkulosis berbasis vektor adenovirus tipe 5, serta vaksin konjugat meningokokus tetravalen. Kemajuan penelitian klinis, proses pendaftaran, dan langkah alih teknologi juga menjadi perhatian.
Taruna Ikrar turut menjelaskan peran BPOM sebagai regulator nasional yang menjamin keamanan, khasiat, dan mutu obat serta produk biologi. Ia memaparkan peningkatan kapasitas regulatory science BPOM, penerapan inspeksi berbasis risiko yang sesuai standar WHO dan PIC/S, serta reformasi kerangka good manufacturing practices (GMP) untuk produk bioteknologi dan terapi lanjut.
Salah satu capaian penting kolaborasi yang disorot adalah produksi lokal vaksin Pneumonia Konjugat PCV13 (Pneucia13) yang melibatkan CanSino sebagai produsen bahan aktif dan PT Etana Biotechnologies Indonesia sebagai pelaksana proses fill-finish di dalam negeri.
“Inisiatif ini menjadi tonggak penting dalam mewujudkan kemandirian vaksin nasional,” tegas Taruna.
Selain PCV13, BPOM juga mengapresiasi perkembangan vaksin tuberkulosis inhalasi AdTB105K yang dikembangkan bersama melalui platform Ad5-vector untuk mencegah infeksi baru maupun reaktivasi TB laten.
Menutup pertemuan, Taruna berharap kemitraan strategis ini dapat terus diperkuat.“Kami berharap kolaborasi ini semakin berkembang dan menghasilkan vaksin inovatif yang aman, efektif, dan berkualitas, sehingga memberi manfaat besar bagi masyarakat Indonesia dan Tiongkok,” tutupnya.
Penulis : guntar
Editor : ameri













