JAKARTA – PO Antar Lintas Sumatera (ALS) bukan sekadar perusahaan otobus biasa. Sejak berdiri pada 29 September 1966, ALS telah menjadi ikon transportasi darat di Indonesia, menghubungkan Sumatera dan Jawa dengan rute yang tak hanya panjang tetapi juga penuh kenangan. Tak heran, banyak yang menyebut ALS sebagai raja jalanan lintas pulau yang melegenda.
Awal Mula: Dari Truk Pengangkut Hasil Bumi ke Armada Bus Legendaris
ALS lahir dari gagasan visioner H. Sati Lubis bersama enam rekannya, yakni Nursewan, Jasanti, Jagu Lembang, Muhammad Arif Lubis, dan Hanafiah. “Mereka duduk bersama, membicarakan ide untuk membangun usaha angkutan penumpang,” ungkap Chandra Lubis, Direktur Utama PT ALS, dalam sebuah wawancara di kanal YouTube Perpalz TV sebagaimana dikutip dalam rakyattoday.com
Sebelum dikenal sebagai operator bus besar, ALS awalnya bergerak di bidang angkutan barang, menggunakan truk untuk mengangkut hasil bumi dari Mandailing Natal, Sumatera Utara. Baru setelah resmi berdiri berdasarkan akta notaris pendirian nomor 50, ALS mulai melayani angkutan penumpang dengan dua unit bus Chevrolet C-50.
Ekspansi Rute: Menembus Hutan Sumatera Hingga ke Jawa Timur
Markas ALS yang awalnya berada di Kotanopan, Mandailing Natal, kemudian dipindahkan ke Amplas, Medan, seiring dengan berkembangnya bisnis. Rute pertama mereka adalah Medan-Kotanopan dan Medan-Bukittinggi. Seiring waktu, pada tahun 1972, ALS mulai memperluas jangkauan ke Banda Aceh, Padang, Pekanbaru, Jambi, dan Bengkulu.
Pada masa itu, belum ada kapal feri yang mampu mengangkut kendaraan besar ke Pulau Jawa. Namun, ALS tak gentar. Setelah layanan penyeberangan untuk kendaraan besar mulai tersedia sekitar tahun 1980, ekspansi rute pun meluas hingga ke Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Solo, bahkan sempat menjajal Bali sebelum rute tersebut ditutup pada 2003.
Rute Medan-Jember: Lebih Jauh dari Amsterdam ke Moskow
Dari sekian banyak trayek, rute Medan-Jember menjadi yang terjauh dengan jarak sekitar 3.000 km. Perjalanan ini memakan waktu sekitar satu minggu—lebih jauh dibandingkan jarak Amsterdam ke Moskow yang ‘hanya’ sekitar 2.433 km. “Bayangkan, naik bus dari Sumatera ke Jawa Timur. Itu bukan sekadar perjalanan, tapi petualangan,” kata salah satu penumpang setia ALS.
ALS: Bukan Sekadar Transportasi, Tapi Penghubung Kehangatan Antar Saudara
Bukan tanpa alasan ALS dikenal dengan semboyan, “Naik Sebagai Penumpang, Turun Sebagai Saudara.” Hubungan hangat antara penumpang dan kru sudah menjadi bagian dari budaya ALS. Perjalanan yang panjang membuat interaksi di dalam bus berkembang menjadi cerita-cerita persahabatan yang tak terlupakan.
Seorang penumpang, Andi, mengisahkan pengalamannya, “Awalnya kami semua orang asing di dalam bus, tapi setelah tiga hari perjalanan, rasanya seperti keluarga. Bahkan, ada yang bertemu jodohnya di bus ALS!”
Julukan ‘Raja Paket’ dan Keunikan Nomor Pintu
Selain melayani penumpang, ALS juga terkenal sebagai pengangkut paket andalan, dengan ciri khas barang-barang menumpuk di atap bus. “Tarifnya lebih terjangkau dibandingkan jasa ekspedisi kargo biasa,” ujar seorang kru ALS.
Uniknya, setiap armada ALS memiliki nomor pintu (Nopin) yang mencerminkan siapa pemilik bus tersebut. Karena dikelola oleh keluarga besar, angka ketiga pada Nopin menjadi penanda. Misalnya, Nopin yang berakhiran ‘1’ dimiliki oleh keluarga H. Sati Lubis, sedangkan ‘3’ milik keluarga H. Rasyad Nasution, dan seterusnya. Kini, kepemilikan tersebut diteruskan ke generasi kedua dan ketiga.
Kenangan yang Tak Lekang Oleh Waktu
Ribuan kilometer perjalanan bersama ALS meninggalkan banyak kisah. Seperti yang dikatakan Todung Mulya Lubis, anak dari H. Sati Lubis, dalam salah satu buku Dari Kediktatoran Sampai Miss Saigon: “Ayah saya adalah sosok yang dekat dengan rakyat kecil. Dia membangun bisnis ini bukan hanya untuk keuntungan, tapi untuk menghubungkan orang-orang.”
Bagi para penumpang setia, ALS bukan sekadar bus. Ia adalah bagian dari cerita hidup, jembatan yang menghubungkan rindu, harapan, dan persaudaraan di setiap kilometer lintasan panjangnya. (RKL)
Penulis : Rahmat Kurnia Lubis
Editor : Erka













