JAKARTA – Teknisi ponsel Indonesia mendapat kesempatan menguji kemampuan di level internasional melalui Final CGC Indonesia 2026 yang digelar Perkumpulan Teknisi Ponsel Indonesia (Tespoin) pada 26-27 September 2026.
Kompetisi reparasi ponsel tersebut menjadi ajang mempertemukan teknisi terbaik sekaligus mendorong peningkatan kompetensi, keterampilan, dan profesionalisme teknisi ponsel Indonesia.
Ceremony Final CGC Indonesia 2026 berlangsung di halaman Kantor Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 51, Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor mengatakan perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat kebutuhan kompetensi tenaga kerja ikut berubah. Dunia kerja tidak lagi hanya membutuhkan tenaga kerja yang bisa bekerja, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“Kita tahu dunia usaha sekarang ini berubah lebih cepat, teknologi terus berkembang, jenis pekerjaan berubah, dan kebutuhan kompetensi juga semakin tinggi,” kata Afriansyah dalam sambutannya.
Menurut dia, CGC Indonesia menjadi contoh bagaimana kompetensi dapat berkembang mengikuti kebutuhan industri dan profesi.
“Teknisi ponsel bukan sekadar orang yang memperbaiki perangkat saja. Dibutuhkan pengetahuan, keterampilan, ketelitian, pengalaman, disiplin, dan kemampuan memecahkan masalah,” ujarnya.
Afriansyah menilai semakin canggih teknologi ponsel, semakin tinggi pula standar kompetensi yang harus dimiliki teknisi. Salah satunya keterampilan micro soldering yang membutuhkan ketelitian, pengalaman, keterampilan tangan, serta kemampuan memecahkan masalah.
“Kompetisi adalah ruang untuk mengukur kemampuan kita, seberapa terampil, seberapa presisi, seberapa cepat menyelesaikan masalah, dan seberapa siap kita bersaing dengan teknisi dari daerah maupun negara-negara lain,” katanya.
Ia meminta peserta tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi menjadikan kompetisi sebagai kesempatan untuk belajar, membangun jejaring, sekaligus meningkatkan standar profesi.
“Jangan hanya mengejar kemenangan saja. Jadikan kompetisi ini sebagai kesempatan untuk belajar, mengukur kemampuan, membangun jejaring, dan meningkatkan standar profesi,” tutur Afriansyah.
Kompetensi Perlu Diakui
Afriansyah juga menekankan pentingnya standardisasi dan pengakuan kompetensi. Menurutnya, dunia kerja membutuhkan bukti kompetensi, konsumen membutuhkan kepercayaan, sementara industri membutuhkan tenaga kerja yang memenuhi standar.
“Kita ingin semakin banyak tenaga kerja Indonesia yang tidak hanya terampil, tetapi kompetensinya dapat dibuktikan dan diakui di tingkat nasional maupun internasional,” katanya.
Ia menambahkan, Kemnaker terus mendorong pelatihan vokasi, pemagangan, sertifikasi, serta program upskilling dan reskilling. Namun, upaya tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha dan industri, lembaga pendidikan dan pelatihan, asosiasi profesi, komunitas, serta masyarakat.
Dalam konteks tersebut, Afriansyah mengapresiasi peran Tespoin yang dinilai dekat dengan pelaku profesi dan memahami kebutuhan teknis di lapangan.
“Saya berharap jejaring ini terus berkembang, bukan hanya sebagai komunitas, tetapi menjadi ruang untuk belajar, meningkatkan kompetensi, mengembangkan usaha, dan berbagi pengetahuan,” ujarnya.
Final CGC Indonesia 2026 juga menjadi bagian menuju CGC World Cup di Guangzhou, Tiongkok, pada 9-10 Oktober 2026. Ajang tersebut menjadi kesempatan bagi teknisi Indonesia untuk mengukur kemampuan dengan peserta dari berbagai negara.
“Ketika kita membawa Indonesia ke tingkat dunia, yang dibawa bukan hanya nama pribadi, tetapi juga nama profesi, komunitas, dan bangsa Indonesia,” kata Afriansyah.
CGC Indonesia 2026 juga disebut menjadi bagian dari rangkaian Indonesia Skills Competition (ISC) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 25-29 Oktober 2026. ISC menjadi wadah untuk menjaring talenta terbaik dari berbagai jalur sebelum dipersiapkan menuju kompetisi tingkat Asia.
Afriansyah berharap CGC Indonesia tidak berhenti sebagai kompetisi dua hari. Menurutnya, pembangunan kompetensi harus menjadi proses berkelanjutan seiring perubahan dunia kerja.
“Kalau hari ini kita belum menjadi yang terbaik, kita tahu apa yang harus kita perbaiki. Kalau hari ini menjadi juara, kita juga tetap harus terus belajar. Sebab dunia kerja terus berubah dan kompetensi tidak pernah selesai,” ujarnya.
Ia menegaskan budaya belajar harus menjadi bagian dari perjalanan setiap tenaga kerja Indonesia.
“Event boleh berlangsung beberapa hari, tetapi pembangunan kompetensi harus berlangsung sepanjang hayat. Kompetensi harus melahirkan kompetensi yang lebih baik, kompetensi yang lebih baik harus meningkatkan produktivitas, dan produktivitas harus membuka lebih banyak kesempatan kerja,” pungkasnya.
Penulis : lazir
Editor : ameri






