Survei IPO Agustus 2026: Elektabilitas Gerindra Tertinggi, PDIP dan Golkar Membayangi

- Penulis

Senin, 10 Agustus 2026 - 08:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah saat hasil survei (foto. ipo)

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah saat hasil survei (foto. ipo)

JAKARTA – Peta persaingan partai politik menuju Pemilu masih menunjukkan persaingan yang ketat. Partai Gerindra untuk sementara berada di posisi teratas dalam elektabilitas apabila pemilihan anggota DPR RI digelar saat ini.

Temuan terbaru Indonesia Political Opinion (IPO) mencatat Gerindra meraih elektabilitas sebesar 17,5 persen. Partai yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto itu unggul atas PDIP yang memperoleh 12,8 persen.

Posisi ketiga ditempati Partai Golkar dengan elektabilitas 10,4 persen, sedangkan Partai Demokrat berada di urutan keempat dengan 8,1 persen.

Selanjutnya, PKB memperoleh dukungan 7,0 persen, PAN 5,1 persen, PKS 4,6 persen, dan Partai NasDem 4,4 persen.

Sementara itu, sejumlah partai lainnya masih berada di bawah angka dua persen. PSI tercatat memperoleh 1,9 persen, PPP 1,6 persen, Perindo 0,9 persen, Partai Gerakan Rakyat 0,5 persen, Partai Gelora 0,4 persen, dan Partai Hanura 0,2 persen.

Adapun Partai Ummat, Partai Buruh, PKN, serta Partai Garuda belum memperoleh dukungan yang terukur dalam survei tersebut.

Yang menarik, jumlah pemilih yang belum menentukan pilihan masih cukup besar. IPO mencatat 24,6 persen responden mengaku belum menentukan pilihan atau memilih merahasiakan pilihannya.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah mengatakan, posisi Gerindra di urutan pertama tidak terlepas dari status partai tersebut sebagai pengusung Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Dedi, meski elektabilitas Gerindra mengalami penurunan dibandingkan survei sebelumnya, partai tersebut masih mampu mempertahankan posisi puncak.

“Gerindra masih menjadi pilihan mayoritas masyarakat. Meskipun jika dibandingkan dengan periode survei sebelumnya terjadi penurunan, tetapi itu tetap menempatkan Gerindra sebagai parpol dengan elektabilitas tertinggi saat ini,” kata Dedi.

Dedi melihat perubahan peta elektabilitas tersebut sebagai bagian dari dinamika preferensi politik masyarakat. Basis dukungan yang sebelumnya kuat kepada PDIP, menurut dia, mulai mengalami pergeseran seiring dengan perubahan posisi partai-partai politik dalam pemerintahan.

“Jika sebelumnya PDIP mendominasi dukungan pada berbagai survei nasional, kini sebagian basis pemilih terlihat mulai beralih kepada Gerindra seiring posisi partai tersebut sebagai kekuatan utama dalam pemerintahan,” ujarnya.

Ia menilai posisi Gerindra sebagai partai penguasa memberikan peluang untuk memperbesar basis pemilih. Terlebih, tingkat penerimaan publik terhadap kebijakan pemerintah dapat ikut memengaruhi elektabilitas partai.

“Tentu dimaklumi sebagai parpol penguasa, Gerindra cenderung mampu mengambil alih porsi pemilih yang sebelumnya dikuasai PDIP. Jika kebijakan Presiden ke depan kian diterima publik, bukan tidak mungkin elektabilitas Gerindra semakin kuat di posisi puncak,” kata Dedi.

Meski Gerindra berada di posisi pertama, hasil survei IPO belum menunjukkan persaingan yang benar-benar terkunci. Tingginya angka pemilih yang belum menentukan pilihan menjadi sinyal bahwa peta politik masih sangat mungkin berubah.

Sebanyak 24,6 persen responden yang belum menentukan pilihan menjadi kelompok penting yang berpotensi mengubah konstelasi elektabilitas partai. Karena itu, setiap partai masih memiliki kesempatan untuk merebut dukungan pemilih melalui konsolidasi organisasi, penguatan kader, serta komunikasi politik yang lebih efektif.

Dengan waktu menuju Pemilu yang masih tersedia, posisi masing-masing partai dalam survei belum dapat dianggap sebagai gambaran final. Perubahan kebijakan pemerintah, isu politik, kinerja elite, hingga strategi komunikasi partai berpotensi memengaruhi pilihan masyarakat.

Survei nasional IPO tersebut digelar pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026. Penelitian melibatkan 1.200 responden yang dipilih menggunakan metode multistage random sampling.

Survei memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error sekitar ±2,9 persen.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Deddy Sitorus Bicara Putusan MK soal Gibran, Singgung Hak Angket DPR
Ansufri Sambo Pimpin Partai Ummat, Kepengurusan Baru Siapkan Mesin Politik Menuju Pemilu 2029
IPW Soroti Sidak Lapas Cibinong, Ombudsman Dinilai Melampaui Kewenangan
GKSR Usulkan Ambang Batas Parlemen 1 Persen, Nilai PT 5 Persen Bertentangan dengan Putusan MK
Prabowo Lantik Suahasil Nazar sebagai Menteri Keuangan, Gantikan Purbaya Yudhi Sadewa
HUT ke-25 Demokrat, AHY Tegaskan Dukungan untuk Pemerintahan Prabowo
Ruslani Dapat Nomor Urut 3 di Pilkades Sukadanau, Usung Perubahan Total
AHY Dukung Prabowo Tutup Kebocoran Negara, Kekayaan yang Diselamatkan Harus Kembali ke Rakyat

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:10 WIB

Deddy Sitorus Bicara Putusan MK soal Gibran, Singgung Hak Angket DPR

Minggu, 27 September 2026 - 10:34 WIB

Ansufri Sambo Pimpin Partai Ummat, Kepengurusan Baru Siapkan Mesin Politik Menuju Pemilu 2029

Jumat, 25 September 2026 - 19:23 WIB

IPW Soroti Sidak Lapas Cibinong, Ombudsman Dinilai Melampaui Kewenangan

Jumat, 18 September 2026 - 14:39 WIB

GKSR Usulkan Ambang Batas Parlemen 1 Persen, Nilai PT 5 Persen Bertentangan dengan Putusan MK

Selasa, 15 September 2026 - 05:56 WIB

Prabowo Lantik Suahasil Nazar sebagai Menteri Keuangan, Gantikan Purbaya Yudhi Sadewa

Berita Terbaru