Prediksi Harga Emas Satu Bulan ke Depan: Masih Berpeluang Naik, Tapi Dibayangi Koreksi Jangka Pendek

- Penulis

Senin, 18 Mei 2026 - 10:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Emas (foto. masterimportir)

Emas (foto. masterimportir)

JAKARTA – Harga emas diperkirakan masih bergerak dalam tren menguat dalam satu bulan ke depan, meski pasar global diperkirakan tetap dibayangi volatilitas akibat kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS), tensi geopolitik, hingga aksi ambil untung investor.

Sejumlah lembaga keuangan global masih mempertahankan pandangan bullish terhadap emas sebagai aset safe haven. Goldman Sachs, UBS, JP Morgan hingga Bank of America kompak memprediksi harga emas dunia berpotensi melanjutkan penguatan pada pertengahan 2026 ini.

Dalam jangka pendek, selama satu bulan ke depan, harga emas diperkirakan bergerak di kisaran tinggi dan berpotensi kembali mencetak rekor baru jika ketidakpastian global meningkat.

UBS bahkan menaikkan target harga emas hingga US$6.200 per troy ons pada pertengahan 2026. Sementara JP Morgan menilai reli emas belum selesai karena pembelian bank sentral dunia masih tinggi.

Analis melihat ada beberapa faktor utama yang akan mempengaruhi pergerakan emas dalam beberapa pekan mendatang. Pertama, arah kebijakan suku bunga The Fed. Jika bank sentral AS memberi sinyal pelonggaran moneter lebih cepat, harga emas berpotensi melonjak karena investor cenderung beralih ke aset lindung nilai.

Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik global juga diperkirakan menopang harga emas. Konflik di sejumlah kawasan dan ketidakpastian ekonomi global membuat investor mencari instrumen investasi yang lebih aman.

Permintaan dari bank sentral dunia juga masih menjadi penopang utama harga emas. Berdasarkan data World Gold Council, pembelian emas oleh bank sentral terus meningkat sejak beberapa tahun terakhir dan diperkirakan masih berlanjut sepanjang 2026.

Meski demikian, analis mengingatkan potensi koreksi jangka pendek tetap terbuka. Penguatan dolar AS atau kenaikan imbal hasil obligasi AS dapat menekan harga emas sementara waktu.

Survei Reuters yang dikutip sejumlah lembaga keuangan juga memperkirakan harga emas global masih berada dalam tren kuat pada 2026 dengan rata-rata proyeksi di atas US$4.700 per troy ons.

Di dalam negeri, pergerakan harga emas Antam diperkirakan masih mengikuti arah harga emas global dan nilai tukar rupiah. Jika rupiah melemah terhadap dolar AS, maka harga emas domestik berpotensi naik lebih tinggi.

Secara keseluruhan, dalam satu bulan ke depan harga emas diprediksi masih berada dalam fase bullish dengan peluang kenaikan terbuka lebar. Namun investor tetap diminta mewaspadai fluktuasi harian karena pasar masih sangat sensitif terhadap perkembangan ekonomi global dan kebijakan bank sentral AS.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Ateng Sutisna Desak Pemerintah Benahi Pasar Modal, Ancaman Turun Kelas MSCI Jadi Peringatan
Investasi Rp1.010 Triliun Diklaim Tumbuh, Hafisz Tohir Soroti Lelang SUN Anjlok 50 Persen
Di Tengah Ancaman Krisis Pangan Global, Indonesia Klaim Punya Stok Beras 25 Juta Ton
50 Orang Terkaya Kuasai Kekayaan Setara 55 Juta Penduduk, Hafisz Tohir Soroti Ketimpangan Indonesia
Belanja Online hingga Transaksi Kripto Sumbang Pajak Rp58,75 Triliun
Black October Guncang Dunia Digital, ICSF Ingatkan Indonesia Rawan Serangan Siber
Beras SPHP Dikemas Ulang Jadi 50 Kg, BULOG Turunkan Satgas Khusus ke Seluruh Indonesia
Wamentan Dorong Koperasi Beli Susu Peternak Langsung, Ini Targetnya

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 13:51 WIB

Investasi Rp1.010 Triliun Diklaim Tumbuh, Hafisz Tohir Soroti Lelang SUN Anjlok 50 Persen

Minggu, 1 November 2026 - 14:20 WIB

Di Tengah Ancaman Krisis Pangan Global, Indonesia Klaim Punya Stok Beras 25 Juta Ton

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:47 WIB

50 Orang Terkaya Kuasai Kekayaan Setara 55 Juta Penduduk, Hafisz Tohir Soroti Ketimpangan Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 14:20 WIB

Belanja Online hingga Transaksi Kripto Sumbang Pajak Rp58,75 Triliun

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:01 WIB

Black October Guncang Dunia Digital, ICSF Ingatkan Indonesia Rawan Serangan Siber

Berita Terbaru