JAKARTA – Gelombang serangan siber sepanjang Oktober 2026 menjadi peringatan serius bagi dunia digital. Salah satu yang menyita perhatian adalah insiden peretasan Binance, bursa kripto raksasa, dengan nilai kerugian yang disebut mencapai 6,3 miliar dolar AS.
Ketua sekaligus Pendiri Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), Ardi Sutedja K, menyebut Oktober tahun ini layak dijuluki Black October. Menurut dia, insiden tersebut memperlihatkan semakin besarnya ancaman kejahatan siber terhadap ekosistem keuangan global.
“Ini bukan lagi kejahatan digital biasa. Serangan terhadap Binance menunjukkan bahwa pelaku siber memiliki kemampuan menyerang sistem berskala besar dan menimbulkan kerugian luar biasa,” kata Ardi dalam keterangannya, Sabtu (31/10/2026).
Ia mengingatkan, ancaman siber ke depan akan semakin kompleks seiring perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan komputasi kuantum.
AI berpotensi dimanfaatkan peretas untuk menemukan celah keamanan, membuat penipuan lebih meyakinkan, hingga menjalankan serangan secara otomatis. Sementara itu, perkembangan komputer kuantum memunculkan ancaman harvest now, decrypt later, yakni pencurian data terenkripsi saat ini untuk dibongkar ketika teknologi kuantum semakin maju.
“AI dan komputasi kuantum akan mengubah peta ancaman keamanan digital. Karena itu, organisasi harus mulai memperkuat sistem perlindungan, termasuk mempersiapkan teknologi kriptografi pascakuantum,” ujarnya.
Di tengah ancaman tersebut, Ardi menilai Indonesia masih memiliki pekerjaan besar dalam membangun ketahanan siber. Salah satu persoalannya adalah pola penanganan yang cenderung reaktif, yakni baru bergerak setelah terjadi kebocoran data atau peretasan.
Ia menyebut kondisi itu sebagai Iceberg of Ignorance atau gunung es ketidaktahuan. Perhatian sering hanya tertuju pada masalah yang terlihat, sementara persoalan mendasar seperti lemahnya tata kelola data dan manajemen risiko justru terabaikan.
“Setiap kali terjadi kebocoran data, perhatian publik hanya ramai beberapa hari. Padahal, akar masalahnya belum tentu diselesaikan. Kita harus berhenti hanya melakukan pemulihan setelah serangan dan mulai membangun perlindungan sejak awal,” tegasnya.
Ardi juga menyoroti kecenderungan organisasi yang berlomba mengadopsi AI, cloud, dan Internet of Things (IoT) tanpa diimbangi kesiapan keamanan.
Menurut dia, penggunaan teknologi canggih tanpa perlindungan memadai justru membuka peluang serangan. Karena itu, keamanan siber harus menjadi bagian penting dari setiap proses transformasi digital.
Ia mendorong empat pilar budaya digital, yakni kecakapan, etika, keamanan, dan budaya digital, diterapkan secara nyata mulai dari lingkungan pendidikan hingga perusahaan.
“Keamanan digital bukan hanya tanggung jawab bagian teknologi informasi. Ini tanggung jawab bersama. Manajemen risiko juga bukan penghambat inovasi, melainkan perlindungan agar transformasi digital berjalan aman dan berkelanjutan,” kata Ardi.
Ia mengingatkan, Indonesia tidak boleh menunggu terjadinya serangan besar untuk membenahi pertahanan digital.
“Jangan sampai kita baru sadar pentingnya keamanan siber setelah data masyarakat bocor atau sistem lumpuh. Ketahanan digital harus dibangun sekarang, bukan setelah semuanya terlambat,” pungkasnya.
Penulis : lazir
Editor : ameri






