JAKARTA – Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia kian menjadi perhatian setelah Fitch Ratings memberikan outlook negatif terhadap peringkat kredit Indonesia.
Pengamat ekonomi politik sekaligus mantan Anggota DPR RI periode 2014–2024, Hafisz Tohir, mengingatkan pemerintah agar segera mengambil langkah konkret untuk menjaga kepercayaan investor.
Hafisz menyebut, peringkat kredit Indonesia masih berada di level BBB atau kategori layak investasi (investment grade). Namun, outlook negatif yang ditetapkan sejak 4 Maret 2026 menjadi peringatan terhadap risiko ekonomi yang perlu diantisipasi.
“Setelah MSCI, sekarang Fitch Ratings kasih peringatan untuk Indonesia. Status kita masih BBB, layak investasi, tapi outlook negatif. Dua langkah lagi kita bisa masuk kategori junk atau tidak layak investasi,” kata Hafisz, Rabu (28/10/2026)
Menurut dia, terdapat tiga persoalan yang menjadi perhatian pasar, yakni melemahnya kerangka kebijakan ekonomi, meningkatnya beban utang, serta penurunan cadangan devisa.
Hafisz menyoroti cadangan devisa Indonesia yang disebut turun dari US$156,5 miliar pada Desember 2025 menjadi US$146,3 miliar pada September 2026. Penurunan US$10,2 miliar tersebut setara dengan sekitar 5,3 bulan impor.
Hafisz juga menyoroti kondisi pasar keuangan pada Rabu, 28 Oktober 2026. Berdasarkan data yang disampaikannya, rupiah berada di level Rp18.165 per dolar AS, melemah 8,7 persen dalam setahun dan mendekati Rp18.200 per dolar AS.
Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun mencapai 7,4 persen. IHSG pada perdagangan pagi terkoreksi 1,03 persen ke level 5.211.
Tekanan juga terlihat dari arus modal asing. Hafisz menyebut investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) Rp2,03 triliun pada 26 Oktober 2026. Sejak MSCI mengumumkan konsultasi pada 15 Oktober 2026, total penjualan bersih asing disebut mencapai Rp11,98 triliun.
Menurut Hafisz, perkembangan tersebut perlu menjadi perhatian karena gejolak pasar keuangan berpotensi meningkatkan biaya pendanaan pemerintah dan dunia usaha.
Hafisz memperingatkan, kenaikan biaya utang dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah. Dengan asumsi total utang mencapai Rp10.300 triliun, kenaikan bunga satu persen secara sederhana setara dengan tambahan sekitar Rp103 triliun per tahun jika berlaku terhadap seluruh utang.
“Uang itu seharusnya bisa digunakan untuk kebutuhan lain, seperti sekolah dan pembangunan jalan. Kalau beban bunga meningkat, ruang anggaran pemerintah bisa semakin tertekan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan risiko jika peringkat Indonesia turun ke kategori junk. Sebagian dana pensiun dan perusahaan asuransi global yang terikat aturan investasi berdasarkan peringkat kredit dapat melepas surat utang Indonesia.
Dampaknya berpotensi merembet ke pelemahan rupiah, kenaikan biaya pendanaan, dan meningkatnya harga barang impor. UMKM, menurut Hafisz, menjadi salah satu sektor yang perlu diantisipasi dampaknya akibat kenaikan biaya kredit maupun bahan baku.
Di tengah tekanan tersebut, Hafisz menyinggung langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait pembenahan struktur pasar saham. Ia menyebut 82 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi akan dikeluarkan dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026, disertai penerapan batas auto-rejection sebesar tujuh persen.
Sementara itu, konsultasi MSCI dijadwalkan berlangsung hingga 30 April 2027, dengan keputusan final pada Juni 2027.
Bagi Hafisz, pembenahan pasar modal perlu diikuti langkah konkret pemerintah untuk memperkuat kepercayaan investor dan menjaga stabilitas ekonomi.
“Pasar menunggu bukti, bukan janji. Ini alarm kolektif bahwa pemerintah perlu mengambil langkah nyata untuk memulihkan kepercayaan,” katanya.
Hafisz menegaskan, peringkat kredit Indonesia saat ini belum turun dari level BBB. Outlook negatif merupakan peringatan terhadap risiko ke depan, sehingga pemerintah masih memiliki ruang untuk memperkuat fondasi ekonomi dan menjaga kepercayaan pasar.
Ia menilai Indonesia memiliki modal ekonomi besar, mulai dari sumber daya alam yang melimpah, pasar domestik yang luas, hingga generasi muda yang kreatif.
“Indonesia ini negara dengan potensi luar biasa. Kita terlalu berharga untuk disejajarkan dengan Zimbabwe. Saatnya memperkuat kolaborasi untuk UMKM, bukan saling menyalahkan,” pungkasnya.
Penulis : lazir
Editor : ameri






