Pemulihan Trauma Anak Jadi Prioritas Pendidikan PAUD Pascabanjir Langkat

- Penulis

Sabtu, 31 Januari 2026 - 19:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Murid dan gutu PAUD di Langkat (dok. rentak.id)

Murid dan gutu PAUD di Langkat (dok. rentak.id)

LANGKAT – Setelah banjir besar melanda Kabupaten Langkat dan menyisakan kerusakan luas, perhatian pemerintah tak hanya tertuju pada bangunan sekolah yang porak-poranda. Di balik tembok yang runtuh dan ruang kelas yang terendam, ada luka batin anak-anak dan pendidik yang tak kalah mendesak untuk dipulihkan.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pun mengirimkan tim pendampingan psikososial ke Langkat pada 28–30 Januari 2026. Langkah ini diambil untuk membantu murid dan tenaga pendidik PAUD bangkit dari trauma emosional pascabencana, sekaligus memastikan layanan pendidikan anak usia dini tetap berjalan di tengah proses rehabilitasi sekolah.

Direktur PAUD Kemendikdasmen, Nia Nurhasanah, menegaskan bahwa pemulihan fisik semata tidak cukup untuk menghidupkan kembali proses belajar-mengajar. Menurutnya, kestabilan emosi anak dan guru merupakan fondasi utama sebelum aktivitas pendidikan kembali normal.

“Sering kali pemulihan pascabencana hanya diukur dari jumlah bangunan yang diperbaiki. Padahal bagi anak usia dini, hilangnya rasa aman adalah dampak paling besar. PAUD harus kembali menjadi ruang yang menenangkan dan membuat anak merasa terlindungi,” ujar Nia saat membuka kegiatan pendampingan di Langkat.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Gogot Suharwoto. Ia menekankan bahwa kehadiran negara dalam situasi bencana adalah untuk memulihkan harapan dan rasa aman anak-anak, bukan sekadar membangun kembali gedung sekolah.

“Pemulihan psikososial menjadi kunci agar pembelajaran PAUD bisa kembali hidup dan bermakna,” kata Gogot.

Beratnya dampak banjir terasa nyata di kalangan pendidik. Aisya, pengelola PAUD Azkiyah, mengisahkan sekolah dan rumahnya terendam banjir selama sembilan hari. Seluruh sarana belajar rusak, menyisakan kekhawatiran akan kelangsungan pendidikan anak-anak didiknya.

Pengalaman serupa dialami Rusmayanti dari PAUD Al-Hafiz. Ia harus bertahan di pengungsian selama hampir dua pekan. Fokus utama saat itu adalah membersihkan sisa banjir agar tidak memicu penyakit, sehingga banyak bukti fisik kerusakan sekolah yang tidak sempat didokumentasikan.

“Kami lebih memikirkan kesehatan anak-anak. Barang-barang yang rusak sudah keburu dibersihkan,” ujarnya.

Menanggapi kondisi tersebut, Direktorat PAUD menyiapkan mekanisme bantuan yang fleksibel namun tetap akuntabel. Pengajuan bantuan tetap dapat dilakukan dengan menyertakan foto dampak banjir serta estimasi kerugian yang masuk akal, meski dokumentasi tidak sepenuhnya lengkap.

Bantuan pemerintah dibagi dalam tiga skema, yakni Program Revitalisasi untuk kerusakan sedang dan berat, Bantuan Peningkatan Mutu bagi kerusakan ringan termasuk pengadaan Alat Peraga Edukatif (APE) sederhana, serta koordinasi pengecekan garansi vendor untuk perangkat TIK seperti laptop dan papan interaktif digital. Untuk buku-buku yang rusak, Kemendikdasmen juga berkoordinasi dengan Pusat Perbukuan guna mengirimkan pengganti ke Langkat.

Di tengah keterbatasan fasilitas, para pendidik PAUD justru didorong untuk berinovasi. Lingkungan sekitar dimanfaatkan sebagai media pembelajaran kontekstual yang interaktif, tanpa bergantung sepenuhnya pada alat peraga pabrikan.

Pendekatan ini dinilai tidak hanya menjaga keberlanjutan stimulasi belajar anak, tetapi juga membantu membangun ketahanan mental mereka dalam menghadapi situasi darurat.

Sebagai tindak lanjut, Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat saat ini melakukan pendataan cepat terhadap seluruh satuan PAUD terdampak melalui Dapodik guna menentukan prioritas bantuan. Upaya pemulihan di Langkat diharapkan menjadi model penanganan bencana di sektor pendidikan anak usia dini di daerah lain.

Bagi pemerintah, keberhasilan pemulihan pascabencana bukan sekadar berdirinya kembali gedung sekolah, melainkan saat anak-anak kembali merasa aman dan mampu tersenyum di ruang belajar mereka.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Tinjau Kesiapan TKA SD, Wamendikdasmen Pastikan Siswa Tak Perlu Cemas
RI–India Perkuat Aliansi Kampus, Bidik Riset Bisnis dan Ekonomi Global
Revisi UU Sisdiknas Menguat, DPR Janjikan Sistem Guru Lebih Adil dan Setara
TKA SMP Gelombang Pertama Berjalan Lancar, Partisipasi Capai Hampir 2 Juta Siswa
TKA SMP di Curug Berjalan Hangat, Murid Antusias Ikuti Asesmen Tanpa Tekanan
Alarm Pendidikan! 91 Persen Kasus Kekerasan di Sekolah adalah Kekerasan Seksual
FSGI Warning Keras: Lonjakan Korban MBG Makin Mengkhawatirkan
Revitalisasi Sekolah Digeber, 71 Ribu Satuan Pendidikan Siap Berbenah di 2026

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 11:21 WIB

Tinjau Kesiapan TKA SD, Wamendikdasmen Pastikan Siswa Tak Perlu Cemas

Kamis, 9 April 2026 - 08:57 WIB

RI–India Perkuat Aliansi Kampus, Bidik Riset Bisnis dan Ekonomi Global

Rabu, 8 April 2026 - 04:30 WIB

Revisi UU Sisdiknas Menguat, DPR Janjikan Sistem Guru Lebih Adil dan Setara

Selasa, 7 April 2026 - 21:27 WIB

TKA SMP Gelombang Pertama Berjalan Lancar, Partisipasi Capai Hampir 2 Juta Siswa

Selasa, 7 April 2026 - 07:30 WIB

TKA SMP di Curug Berjalan Hangat, Murid Antusias Ikuti Asesmen Tanpa Tekanan

Berita Terbaru

Inara Rusli/Instagram Inara Rusli

Hiburan

Pemeriksaan Inara Rusli Akan Dijadwal Ulang

Rabu, 15 Apr 2026 - 19:33 WIB

Hiburan

Dinar Candy Tolak Tawaran Rp1 Miliar untuk Kencan

Rabu, 15 Apr 2026 - 19:24 WIB