FKBI Kritik Penundaan Pelabelan Gizi Produk Tinggi Gula, Garam, dan Lemak hingga 2027

- Penulis

Senin, 15 September 2025 - 06:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tulus Abadi (dok. Pribadi)

Tulus Abadi (dok. Pribadi)

JAKARTA – Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) menyampaikan keprihatinan mendalam atas penundaan penerapan kebijakan pelabelan gizi khusus atau nutri-level pada produk makanan dan minuman tinggi gula, garam, dan lemak (GGL).

Kebijakan yang awalnya direncanakan untuk mengendalikan lonjakan obesitas dan diabetes ini ditunda hingga tahun 2027, meskipun prevalensi penyakit tidak menular sudah berada di level darurat nasional.

FKBI menilai penundaan tersebut merupakan bentuk pengabaian terhadap hak konsumen untuk mendapatkan informasi yang jelas dan perlindungan kesehatan yang adil. Dalam 10 tahun terakhir, angka obesitas di Indonesia meningkat dua kali lipat.

Sementara itu, jumlah penderita diabetes telah mencapai 19,5 juta jiwa, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan beban penyakit tertinggi di Asia Tenggara.

“Menunda pelabelan nutri-level sama saja dengan menunda perlindungan bagi jutaan konsumen yang setiap hari terpapar produk tinggi GGL tanpa informasi yang memadai. Ini bukan hanya soal regulasi, tapi menyangkut nyawa dan kualitas hidup masyarakat,” tegas Tulus Abadi, Ketua FKBI, Minggu (14/9/2025).

FKBI juga menyoroti laporan Reuters yang mengungkap adanya tekanan diplomatik dari pemerintah Amerika Serikat pada era Presiden Donald Trump. Beberapa produsen makanan asal AS disebut memprotes kebijakan ini karena khawatir ekspor mereka ke Indonesia berkurang hingga US$54 juta per tahun.

Menurut FKBI, kedaulatan kebijakan pangan Indonesia tidak boleh dipengaruhi oleh kepentingan dagang negara lain.

“Kami menolak keras segala bentuk intervensi yang melemahkan perlindungan konsumen Indonesia. Regulasi gizi harus berpihak pada rakyat, bukan pada neraca perdagangan asing,” tegas Tulus.

FKBI menekankan pentingnya pelabelan gizi sebagai instrumen strategis untuk meningkatkan literasi gizi dan mendorong industri melakukan reformulasi produk. Dengan label visual berbasis warna dan informasi yang jelas, konsumen dari berbagai latar belakang pendidikan dapat lebih mudah memilih produk yang sehat dan aman.

Menurut FKBI, keberadaan label ini juga dapat menekan prevalensi penyakit seperti diabetes dan obesitas sekaligus mengurangi beban biaya kesehatan nasional.

Sebagai tindak lanjut atas penundaan kebijakan ini, FKBI merencanakan beberapa langkah strategis, di antaranya:

Mendorong percepatan regulasi serta meningkatkan kesadaran konsumen mengenai pentingnya pelabelan gizi yang transparan.

Mengajukan audiensi dengan BPOM dan Kementerian Kesehatan untuk menyampaikan rekomendasi teknis, testimoni konsumen terdampak, dan data dampak kesehatan.

Mengembangkan simulasi dampak regulasi terhadap prevalensi penyakit dan beban ekonomi nasional, termasuk potensi penghematan biaya kesehatan bila pelabelan diterapkan lebih awal.

Menggalang dukungan dari organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan media guna membentuk koalisi advokasi yang kuat dan berkelanjutan.

FKBI juga mendesak pemerintah untuk segera menerapkan kebijakan ini sambil mempercepat harmonisasi regulasi lintas sektor, terutama pada produk minuman manis dalam kemasan yang menjadi salah satu penyumbang terbesar tingginya konsumsi gula di masyarakat.

Penulis : dafri jh

Editor : ameri

Berita Terkait

BULOG Bagikan 350 Ribu Paket Sembako di May Day 2026, Bantu Ringankan Beban Buruh
AHY Dorong Percepatan Flyover dan Underpass untuk Atasi Perlintasan Rawan di Bekasi
KSPI Alihkan Aksi May Day 2026 ke Monas Usai Bertemu Presiden Prabowo
ATR/BPN Permudah Pengaduan Masyarakat Lewat Kanal Digital, Ini Cara dan Aksesnya
Tragedi Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, DPR Soroti Dugaan Kegagalan Sistem Keselamatan KAI
Kemnaker Perkuat Kompetensi Mahasiswa Polteknaker Hadapi Transformasi Digital dan Peluang Green Jobs 2026
Barantin Perkuat Laboratorium Karantina Hewan, Jamin Keamanan Pangan Nasional 2026
Penataan Pulau Penyengat Kian Digenjot, Destinasi Wisata Budaya Melayu di Kepri Makin Tertata

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 16:19 WIB

BULOG Bagikan 350 Ribu Paket Sembako di May Day 2026, Bantu Ringankan Beban Buruh

Kamis, 30 April 2026 - 11:34 WIB

AHY Dorong Percepatan Flyover dan Underpass untuk Atasi Perlintasan Rawan di Bekasi

Rabu, 29 April 2026 - 13:56 WIB

KSPI Alihkan Aksi May Day 2026 ke Monas Usai Bertemu Presiden Prabowo

Selasa, 28 April 2026 - 18:53 WIB

ATR/BPN Permudah Pengaduan Masyarakat Lewat Kanal Digital, Ini Cara dan Aksesnya

Selasa, 28 April 2026 - 10:44 WIB

Tragedi Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, DPR Soroti Dugaan Kegagalan Sistem Keselamatan KAI

Berita Terbaru