SLAWI – Program revitalisasi sekolah yang digulirkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mulai menunjukkan hasil nyata.
Sejak diluncurkan pada Mei 2025, program revitalisasi sekolah yang dilaksanakan secara swakelola ini tidak hanya menghadirkan fasilitas pendidikan yang lebih baik, tetapi juga memberi dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitar.
Salah satunya dirasakan oleh Muhammad Ma’mun, warga Pasarean, Adiwerna, Tegal. Ia kini bekerja sebagai tukang bangunan dalam pembangunan ruang kelas di SLBN Slawi, Jawa Tengah. Dengan lokasi sekolah yang hanya berjarak enam kilometer dari rumah, Ma’mun bisa tetap dekat dengan keluarga sambil memperoleh penghasilan tambahan.
“Kebetulan saya tinggal tidak jauh dari sekolah, jadi bisa bolak-balik tanpa meninggalkan keluarga. Penghasilannya juga lumayan,” ujar Ma’mun, Senin (18/8/2025).
Ma’mun mengaku bangga bisa ikut berkontribusi membangun fasilitas untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Ia menilai revitalisasi sekolah membawa harapan baru bagi siswa dan orang tua agar pendidikan lebih inklusif.
Di SLBN Slawi, pembangunan tiga ruang baru – ruang bina diri dan bina wicara, ruang serbaguna, serta kantin – ditargetkan selesai pada Desember 2025. Kepala SLBN Slawi, Ninik Basri Martini, menegaskan bahwa seluruh pekerja yang terlibat adalah warga sekitar, termasuk beberapa orang tua siswa yang berprofesi sebagai pekerja bangunan.
“Kami ingin prosesnya akuntabel dan transparan, melibatkan komite sekolah, orang tua, hingga mendapat pendampingan teknis dari perguruan tinggi. Bahkan, bahan bangunan kami beli dari toko material lokal,” kata Ninik.
SLBN Slawi merupakan satu dari 156 Sekolah Luar Biasa (SLB) penerima program Revitalisasi Satuan Pendidikan. Program ini sejalan dengan Asta Cita Presiden dalam Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) dan menjadi prioritas Kemendikdasmen untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045.
Selain SLB, program revitalisasi juga menyasar 604 SMK, 48 SKB, dan 11 PKBM di seluruh Indonesia. Di SMKN 3 Banyumas, misalnya, pembangunan ruang seni musik, kelas, dan toilet melibatkan 40–50 pekerja lokal sehingga manfaat program dapat dirasakan langsung masyarakat.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa revitalisasi sekolah harus memberi nilai tambah bagi masyarakat.
“Kami berharap program ini menggerakkan ekonomi warga sekitar, baik dari pekerja bangunan, penyedia makanan, hingga toko material. Semua dilakukan dengan sistem swakelola yang transparan dan akuntabel,” ujar Tatang.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak segan melaporkan jika ada praktik pungutan liar.
Dengan revitalisasi sekolah, pemerintah berharap kualitas layanan pendidikan semakin merata, inklusif, dan mampu mencetak generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Penulis : lazir
Editor : ameri













