JAKARTA – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) terus menguatkan kedaulatan Bahasa Indonesia melalui berbagai program prioritas.
Salah satu upaya utama adalah penyelenggaraan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif, sebuah sistem pengujian berbasis daring yang mengukur tingkat kemahiran seseorang dalam berbahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tulisan.
UKBI Adaptif dapat diakses melalui laman ukbi.kemendikdasmen.go.id, sehingga peserta dari berbagai lokasi dapat mengikuti ujian dengan lebih mudah.
Hingga kini, jumlah peserta UKBI telah mencapai satu juta orang, termasuk 534 warga negara asing dari 68 negara.
“Tentu kami sangat bangga, karena ini menunjukkan bahwa UKBI telah menjadi indikator penting dalam mengukur kemahiran berbahasa Indonesia, baik di tingkat satuan pendidikan, perguruan tinggi, maupun instansi lainnya,” ujar Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, dalam acara Pelaksanaan UKBI Adaptif bersama Rekan Media di Aula Sasadu, Kompleks Badan Bahasa, Jakarta, pada Senin (24/3/2025).
UKBI Jadi Syarat Beasiswa dan Kelulusan Mahasiswa
Hafidz menambahkan bahwa Sertifikat UKBI kini telah dimanfaatkan dalam berbagai bidang. Misalnya, sebagai syarat pendaftaran Beasiswa Unggulan dan untuk mendukung program literasi di Sekolah Menengah Kejuruan Pusat Keunggulan (SMK PK).
Selain itu, 60 perguruan tinggi di Indonesia telah menjadikan UKBI Adaptif sebagai persyaratan kelulusan mahasiswa.
Di sektor ketenagakerjaan, UKBI Adaptif juga diterapkan sebagai syarat jabatan tertentu, seperti Widyabasa dan Penerjemah di beberapa lembaga pemerintahan.
Tersebar di 38 Provinsi, Jawa Timur Tertinggi
Saat ini, UKBI Adaptif telah diterapkan di 38 provinsi dan 500 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah peserta tertinggi, yaitu 151.249 orang. Sementara itu, di tingkat kabupaten/kota, Kabupaten Sidoarjo mencatatkan 19.649 peserta, sedangkan Kota Jakarta Selatan mencapai 25.898 peserta.
“UKBI adalah salah satu cara menjaga kedaulatan Bahasa Indonesia. Kami berharap jumlah pesertanya terus meningkat, terutama di lingkungan pendidikan,” pungkas Hafidz.
Mahasiswa Asing Antusias Ikut UKBI
Menariknya, UKBI Adaptif juga diminati oleh pemelajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Salah satunya adalah Noha Gharib Ahmed dari Mesir. Ia menilai UKBI sebagai bukti kemahiran bagi mahasiswa asing yang ingin belajar di Indonesia.
“UKBI sangat penting bagi mahasiswa asing. Ini menjadi bukti bahwa mereka sudah bisa berbahasa Indonesia dan layak kuliah di sini. Tidak cukup hanya TOEFL, karena nantinya mereka juga akan menjadi duta Indonesia di negara asal,” ujar Noha.
Hal senada disampaikan oleh Maram Alarnab dari Suriah. Ia bahkan mendorong rekan-rekan penutur asing lainnya untuk mengikuti UKBI.
“Saya merekomendasikan teman-teman dari negara saya untuk ikut UKBI. Sertifikatnya bisa digunakan untuk mencari pekerjaan juga,” katanya.
Tingkatan Skor UKBI
UKBI Adaptif terdiri atas lima seksi ujian, yaitu mendengarkan, merespons kaidah, membaca, menulis, dan berbicara. Hasilnya dikategorikan dalam tujuh peringkat:
Istimewa (725–800)
Sangat Unggul (641–724)
Unggul (578–640)
Madya (482–577)
Semenjana (405–481)
Marginal (326–404)
Terbatas (251–325)
Dengan semakin luasnya penerapan UKBI, ujian ini diharapkan dapat terus meningkatkan penggunaan dan kecintaan terhadap Bahasa Indonesia, baik di dalam maupun luar negeri. ***













