RENTAK.ID – Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia memiliki masa depan cerah dan tidak berada dalam kondisi “gelap” seperti yang dikhawatirkan oleh sebagian masyarakat.
Namun, di sisi lain, tagar #IndonesiaGelap justru menggema di media sosial, mencerminkan keresahan publik terhadap kondisi sosial dan ekonomi tanah air.
Dalam pidatonya di Kongres VI Partai Demokrat di Jakarta, Selasa malam, Prabowo menepis anggapan pesimistis.
“Indonesia di atas Jepang, di atas Inggris, di atas Prancis, kok Indonesia gelap?” ujar Presiden, merujuk pada prediksi ekonomi global yang menempatkan Indonesia di posisi keempat ekonomi terbesar dunia pada 2050.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar dan mampu melakukan penghematan di berbagai sektor untuk dialokasikan ke bidang yang lebih penting.
Prabowo menekankan bahwa perubahan membutuhkan pengorbanan, terutama bagi mereka yang telah lama menikmati kenyamanan.
Namun, di luar optimisme yang disampaikan pemerintah, keresahan di masyarakat tidak bisa diabaikan. Tagar #IndonesiaGelap menjadi trending di X pada 17 Februari 2025, dengan lebih dari 81.000 unggahan.
Ungkapan ini kemudian berkembang menjadi slogan dalam berbagai aksi demonstrasi mahasiswa, yang menyoroti masalah ekonomi, ketimpangan sosial, dan kebijakan pemerintah yang dinilai belum berpihak pada rakyat kecil.
Salah satu pemicu munculnya tagar ini adalah meningkatnya harga bahan pokok dan energi, yang memperburuk daya beli masyarakat.
Selain itu, isu ketenagakerjaan, seperti sulitnya lapangan kerja dan ancaman otomatisasi, turut menyumbang kekhawatiran.
“Bagi sebagian orang, ekonomi digital dan AI membawa harapan. Tapi bagi buruh dan pekerja sektor konvensional, ini ancaman besar,” ujar Dian, seorang mahasiswa yang ikut dalam aksi unjuk rasa.
Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Dr. Rendra Pratama, menilai bahwa optimisme pemerintah harus diimbangi dengan kebijakan konkret yang memperkuat sektor-sektor strategis.
“Prediksi ekonomi 2050 memang menarik, tetapi tanpa kebijakan yang membangun daya saing dan pemerataan kesejahteraan, kita bisa kehilangan momentum,” katanya.
Di tengah perdebatan ini, masyarakat Indonesia berada di persimpangan jalan. Apakah negara ini benar-benar menuju era keemasan, atau justru tengah memasuki masa ketidakpastian yang lebih gelap?
Jawabannya tidak hanya bergantung pada narasi pemerintah, tetapi juga pada bagaimana kebijakan diterapkan dan dirasakan oleh rakyat.***
Editor : Ayham
Sumber Berita: Antaranews.com






