RENTAK.ID – Kota Solo kembali menggelar Festival Jenang Solo (FJS) yang ke-14 dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-280.
Acara ini berlangsung di Pamedan Mangkunegaran dan koridor Ngarsopuro sejak pagi hingga selesai.
Tahun ini, FJS mengusung tema “Mustika Jenang Nusantara”, yang menggambarkan kekayaan kuliner jenang sebagai bagian dari warisan budaya yang bernilai tinggi.
Menurut Heru Mataya, Direktur Artistik FJS 2025, tema ini terinspirasi dari buku legendaris “Mustika Rasa” yang diterbitkan pada tahun 1967 atas prakarsa Presiden Soekarno.

Buku tersebut mendokumentasikan ragam resep masakan Nusantara, yang sekaligus menjadi bentuk penghormatan terhadap keberagaman kuliner Indonesia.
“Jenang bukan sekadar makanan, tetapi memiliki makna mendalam sebagai bagian dari identitas budaya,” ujar Heru dalam siaran persnya di Rumah Sinten.
Senada dengan itu, Tunjung W Sutirto, inisiator tema “Mustika Jenang Nusantara”, menegaskan bahwa jenang memiliki dimensi lebih dari sekadar kuliner.
“Jenang adalah gastronomi yang mencerminkan rasa, pengetahuan, makna kehidupan, serta kreativitas pembuatnya. Setiap daerah memiliki varian jenang yang unik dan menjadi kebanggaan lokal,” katanya.

Selain menjadi simbol budaya, jenang juga berperan dalam memperkuat integrasi sosial masyarakat.
Rangkaian Acara: Dari Kirab hingga Pasar Jenang
Festival Jenang Solo 2025 menghadirkan berbagai kegiatan menarik, termasuk pembagian 10.000 takir jenang Nusantara, acara masak jenang besar, marut kelapa massal untuk anak-anak, serta kirab jenang yang akan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Selain itu, ada pergelaran seni dan pasar jenang, tempat di mana para pembuat jenang dari berbagai daerah unjuk kebolehan.
Sebanyak 110 peserta dari 60 tim PKK kelurahan dan kecamatan di Solo, serta berbagai komunitas, turut serta dalam festival ini.

Mereka tidak hanya menampilkan jenang tradisional seperti jenang sumsum, jenang ketan hitam, dan bubur lemu, tetapi juga berinovasi dengan kreasi jenang baru.
Salah satu daya tarik utama FJS 2025 adalah kehadiran 17 jenis jenang khas Keraton Mataram, yang berasal dari Kartasura hingga era Paku Buwono II di Desa Sala.
Tak hanya itu, jenang khas dari daerah lain seperti jenang Bali juga akan diperkenalkan dan dibagikan kepada masyarakat.
Bagi pengunjung yang ingin menikmati jenang lebih banyak, tersedia Pasar Jenang di Pamedan Puro Mangkunegaran mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB.

Berbeda dari pembagian jenang gratis, jenang di pasar ini dijual untuk mendukung para perajin jenang agar tetap eksis.
Dengan berbagai kegiatan yang dihadirkan, Festival Jenang Solo 2025 bukan hanya menjadi ajang kuliner, tetapi juga bentuk pelestarian budaya yang mempererat solidaritas masyarakat.
Acara ini sekaligus memperkuat posisi Solo sebagai kota dengan tradisi kuliner yang kaya dan beragam.***
Editor : Ayham
Sumber Berita: RRI.co.id













