RENTAK.ID, JAMBI – Revitalisasi Kawasan Cagar Budaya Nasional Candi (KCBN) Muarajambi, saat ini menjadi agenda prioritas Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi di bawah naungan Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Hal ini dilakukan atas dasar upaya untuk mendorong pengakuan dan usulan Muarajambi sebagai situs Warisan Dunia UNESCO.
Kawasan ini memiliki luas 3.981 hektar dan telah ditetapkan sebagai warisan budaya nasional berdasarkan penetapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 259/M/2013.
Penataan KCBN Muarajambi akan menerapkan konsep harmonisasi dengan ekosistem alam di sekitarnya. KCBN Muarajambi sendiri telah menjadi fokus pelestarian karena situs ini memiliki bentuk struktur bata yang khas dan nilai historis yang menarik.
Terletak di lahan yang dikelilingi oleh parit sebagai jalur transportasi dan pengendalian banjir, struktur bata yang telah diinventarisasi berjumlah 88 buah yang sembilan diantaranya telah dilakukan pemugaran
Di antaranya Candi Astano, Candi Kembarbatu, Candi Tinggi, Candi Tinggi I, Candi Gumpung, Candi Gumpung I, Candi Gedong I, Candi Gedong II, dan Candi Kedaton.
Candi Muarajambi merepresentasikan keunikan yang luar biasa dalam tradisi spiritual dan pendidikan Buddhisme di Asia Tenggara.
Situs ini tidak hanya memiliki nilai sejarah dan budaya yang mendalam, tetapi juga meninggalkan jejak atas pertukaran pengetahuan dan nilai spiritual antar generasi.
Pelestarian candi-candi tersebut bertujuan untuk menajamkan akal budi, menguatkan rasa kemanusiaan, serta menyusuri jejak masa lampaunya sebagai poros edukasi Budhisme tertua dengan area terluas di Asia Tenggara.
Pada tahun 2022 telah dilakukan Program Revitalisasi KCBN Muarajambi, termasuk di dalamnya pemugaran, perencanaan pemugaran, normalisasi parit keliling, dan penataan lingkungan.
Pada tahun 2024 ini akan dilakukan pembangunan museum, pemugaran Candi Kotomahligai dan Candi Paritduku, perencanaan pemugaran Candi Sialang dan Candi Alun-Alun, serta penataan lingkungan Candi Kotomahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong, dan Candi Astano, serta normalisasi parit dan kolam.
Pada Sabtu (3/2/2024) lalu, Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat (BKHM) mengajak media massa nasional untuk berkunjung ke kawasan Muarajambi dan mempublikasikan upaya Revitalisasi KCBN Muarajambi.
Kegiatan ini bertajuk Diskusi Kebijakan dan Kebudayaan dengan Media Massa dihadiri oleh 25 wartawan dari berbagai media nasional dan diawali dengan pembukaan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan, Fitra Arda dan Kepala Unit Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V, Agus Widiatmoko.
Revitalisasi KCBN Muarajambi merupakan sebuah langkah tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan budaya serta kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia.
Selain berfokus pada pelestarian cagar budaya, revitalisasi KCBN Muarajambi juga mengembangkan pelindungan alam dan lingkungan.
Dalam menjalankan aktivitasnya, kawasan ini akan dibentuk tata kelola di bawah naungan Museum dan Cagar Budaya. Untuk mendukung upaya revitalisasi ini, Direktorat Jenderal Kebudayaan (Ditjenbud) telah memusatkan agenda ke Muarajambi.
Misalnya, Ditjenbud melaksanakan Festival Kenduri Swarnabhumi dan Pasar Dusun Karet (PADUKA) sebagai upaya untuk menguatkan nilai dari kawasan ini. PADUKA merupakan tempat untuk menjual makanan atau minuman khas masyarakat Desa Muarajambi.
Pembangunan KCBN Muarajambi juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat bahwa kebudayaan bukan sekedar cagar budaya dan seni tari, tetapi lebih dari itu, kebudayaan adalah metode dalam pembangunan dan menyiapkan fondasi dasar bagi kemajuan bangsa.
Investasi kebudayaan seperti pementasan, membuka ruang inklusif, dan membangun ekonomi kerakyatan secara jangka panjang. Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V, Agus Widiatmoko menambahkan bahwa KCBN Muarajambi jangan hanya dipandang sebagai destinasi pariwisata, melainkan sebagai pusat peradaban yang mencerminkan warisan budaya.
“Kita harus melihat Muarajambi sebagai pusat peradaban yang menyediakan ruang untuk belajar dan penelitian yang mendalam,” ucap Agus.
Peran masyarakat sangat penting dalam pembangunan KCBN Muarajambi ini. Masyarakat diharapkan dapat menjadi wahana bagi pengembangan ekonomi lokal dan pemajuan pendidikan. ***













