Pembatasan Gawai di Sekolah Berdampak Positif, Murid Lebih Fokus Belajar dan Aktif Bersosialisasi

- Penulis

Senin, 27 Juli 2026 - 09:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

YOGYAKARTA – Kebijakan pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah mulai menunjukkan dampak positif. Di SMP Bumi Cendekia Yogyakarta, suasana saat jam istirahat kini berubah.

Jika sebelumnya banyak murid menghabiskan waktu dengan menatap layar telepon genggam atau laptop, kini mereka lebih banyak bermain bersama teman, berolahraga, hingga membaca buku di sela kegiatan belajar.

Penerapan kebijakan tersebut sejalan dengan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan.

Meski demikian, sekolah tetap memanfaatkan teknologi digital sebagai bagian dari proses pembelajaran, hanya saja penggunaannya diatur agar lebih bijak dan sesuai kebutuhan.

Kepala SMP Bumi Cendekia Yogyakarta, Wisnu Utomo, menegaskan sekolah tidak melarang murid membawa perangkat digital. Laptop maupun telepon genggam tetap diperbolehkan, tetapi penggunaannya dibatasi dan diawasi guru.

“Kami mendukung penuh Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026. Yang paling penting bukan melarang penggunaan gawai, tetapi membangun etika dalam memanfaatkannya. Harapan kami, yang membatasi penggunaan HP nantinya bukan hanya sekolah atau orang tua, tetapi muncul dari kesadaran anak itu sendiri,” ujar Wisnu.

Ia menjelaskan, laptop kini hanya digunakan satu hari dalam sepekan, sedangkan telepon genggam dipakai ketika benar-benar dibutuhkan dalam kegiatan belajar mengajar. Kebijakan itu diterapkan setelah sekolah melihat penggunaan perangkat digital yang terlalu sering justru mengganggu konsentrasi murid.

Menurut Wisnu, sebelumnya guru juga membutuhkan waktu lebih lama untuk memulai pelajaran karena perhatian murid masih terfokus pada perangkat masing-masing. Setelah aturan diberlakukan, kondisi di kelas berubah signifikan.

“Murid kini lebih siap mengikuti pelajaran saat guru masuk kelas. Mereka juga lebih sering berinteraksi dengan teman, aktif berolahraga, dan memanfaatkan waktu luang untuk membaca buku,” katanya.

Guru Bahasa Indonesia SMP Bumi Cendekia, Triana Ratnasari, mengatakan teknologi tetap menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Misalnya saat mempelajari materi drama, murid menonton contoh pementasan melalui YouTube. Sementara pada materi berita, mereka mencari referensi menggunakan gawai, kemudian menyusun analisis dan tanggapan secara manual.

“Anak-anak tetap memanfaatkan teknologi sebagai sumber belajar. Yang kami latih adalah kemampuan mereka mengolah informasi dan menyampaikan pendapat dengan pemikiran sendiri, bukan bergantung sepenuhnya pada teknologi,” jelas Triana.

Ia menambahkan, murid juga mulai mengenal pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Namun, karena penggunaan gawai dibatasi dan sebagian besar tugas dikerjakan di sekolah, AI dimanfaatkan sebagai alat pendukung pembelajaran, bukan sekadar jalan pintas menyelesaikan tugas.

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa kebijakan pembatasan penggunaan gawai bertujuan membangun budaya penggunaan teknologi yang sehat sejak usia dini.

“Kami di Kementerian telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai. Tujuannya agar murid terbiasa tidak bergantung pada handphone. Sejak dini mereka harus memahami bahwa telepon genggam hanyalah alat pendukung pembelajaran, bukan sesuatu yang digunakan secara berlebihan,” ujar Fajar saat berada di Yogyakarta, dikutip Senin,  (27/7/2026).

Menurut Fajar, pembatasan penggunaan gawai juga merupakan langkah untuk menjaga kesehatan mental murid di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Karena itu, keberhasilan kebijakan ini memerlukan kolaborasi seluruh unsur pendidikan.

“Pendidikan mengenal konsep Tri Pusat Pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kini kita perlu memperkuat sinergi menjadi empat pilar pendidikan agar seluruh ekosistem mampu mendampingi anak menggunakan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab,” tuturnya.

Dampak kebijakan tersebut juga dirasakan langsung oleh para murid. Gian Aji Alfatarazi, siswa kelas IX, mengaku kini lebih sering bermain sepak bola bersama teman dan mengisi waktu luang dengan membaca novel, termasuk novel berbahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan bahasa asingnya.

Pengalaman serupa disampaikan Reksa. Meski awalnya kecewa karena penggunaan laptop dibatasi, ia kini justru lebih banyak berdiskusi dengan teman-temannya dan memahami alasan sekolah menerapkan aturan tersebut demi menciptakan lingkungan belajar yang lebih fokus, sehat, dan produktif.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

20 Talenta Vokasi Indonesia Siap Bertarung di WorldSkills Competition 2026 Shanghai
Kekerasan Anak Terjadi di Rumah, Sekolah hingga Pesantren, DPR Soroti Sistem Perlindungan
SatuBeasiswa Indonesia Himpun 465 Jenis Beasiswa dari Berbagai Lembaga
PTGMI Lumajang Edukasi 100 Santri, Ajarkan Cara Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut
200 Mahasiswa Dikukuhkan di AMN Surabaya, Kemdiktisaintek: Keragaman adalah Kekuatan
Sekolah di Yogyakarta Perkuat Literasi dan Numerasi Lewat STEM Berbasis PISA
GEMPHAR Gelar Pelatihan dan Pembekalan Saksi Jelang Pilkades Sukadanau
Dua Ruang Kelas Roboh Akibat Gempa Nagekeo, Guru SD Katolik Doki Tak Berhenti Mengajar

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 09:08 WIB

20 Talenta Vokasi Indonesia Siap Bertarung di WorldSkills Competition 2026 Shanghai

Rabu, 16 September 2026 - 15:09 WIB

Kekerasan Anak Terjadi di Rumah, Sekolah hingga Pesantren, DPR Soroti Sistem Perlindungan

Rabu, 16 September 2026 - 14:01 WIB

SatuBeasiswa Indonesia Himpun 465 Jenis Beasiswa dari Berbagai Lembaga

Rabu, 16 September 2026 - 10:23 WIB

PTGMI Lumajang Edukasi 100 Santri, Ajarkan Cara Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut

Minggu, 13 September 2026 - 08:15 WIB

200 Mahasiswa Dikukuhkan di AMN Surabaya, Kemdiktisaintek: Keragaman adalah Kekuatan

Berita Terbaru