Kekerasan Anak Terjadi di Rumah, Sekolah hingga Pesantren, DPR Soroti Sistem Perlindungan

- Penulis

Rabu, 16 September 2026 - 15:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian (dok. rentak.id)

Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian (dok. rentak.id)

JAKARTA – Rentetan kasus kekerasan terhadap anak di rumah, sekolah hingga pesantren menjadi alarm serius bagi sistem perlindungan anak. Sejumlah kasus bahkan melibatkan orang dewasa yang dikenal dan dipercaya korban.

Di Cianjur, anak perempuan 16 tahun diduga mengalami kekerasan seksual oleh ayah kandungnya sejak September 2025. Di Pati, pengasuh pesantren ditetapkan sebagai tersangka dugaan kekerasan seksual terhadap santriwati. Sementara di Subang, wakil kepala sekolah SMA menjadi tersangka dugaan pencabulan terhadap 11 siswa.

Kasus serupa juga ditangani polisi di Cirebon dengan korban sedikitnya tujuh anak perempuan berusia 6–9 tahun.

Data SIMFONI PPA Kementerian PPPA mencatat 11.771 anak menjadi korban kekerasan seksual sepanjang 2024. Kasus kekerasan terhadap anak yang tercatat juga meningkat dari 14.446 kasus pada 2021 menjadi 19.626 kasus pada 2024.

Anggota Komisi VIII DPR RI menilai perlindungan anak tidak boleh hanya mengandalkan penindakan setelah kasus terjadi.

“Pertanyaan mendasarnya, mengapa sistem perlindungan kita sering baru bekerja setelah seorang anak mengalami kekerasan berulang kali?” ujarnya, Rabu (16/9/2026).

Menurutnya, anak sering takut melapor karena ancaman, rasa malu, ketergantungan, atau ketimpangan relasi kuasa dengan pelaku.

“Kanal pengaduan harus aman, mudah dijangkau anak, menjaga kerahasiaan korban, dan cepat ditindaklanjuti,” katanya.

Ia juga meminta sekolah, pesantren, keluarga dan pemerintah memperkuat pencegahan serta memastikan korban mendapat pendampingan hukum, kesehatan dan psikologis.

“Pemulihan anak tidak selesai ketika pelaku ditangkap. Anak tidak seharusnya menanggung sendiri beban untuk menyelamatkan dirinya,” tandasnya.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Semarak Hari Santri Nasional 2026, Klanting Gelar Pawai Ta’aruf dan Penyerahan Beasiswa Pendidikan Santri
Bahasa Indonesia Mulai Dilirik Anak Muda Rusia, 234 Ribu Orang di Dunia Belajar BIPA
Kemendikdasmen Raih Nusantara Awards 2026, Ini Terobosan Pendidikan yang Dapat Apresiasi
Berburu Kursi PTN, 450 Siswa SMAN 8 Bandung Andalkan Hasil TKA 2026
5.700 Mahasiswa Timor-Leste Kuliah di Indonesia, Riset Bersama Diperluas
Pemerintah Perluas Wajib Belajar 13 Tahun, Revitalisasi TK Melonjak Jadi 13.831 Unit
Dua Tahun Belajar Pagi-Sore, SMAN 7 Pontianak Akhirnya Dapat Bantuan Revitalisasi
Kunjungi Rumah Mahasiswa Unram, Lalu Hadrian Ungkap Pentingnya KIP Kuliah

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 13:51 WIB

Semarak Hari Santri Nasional 2026, Klanting Gelar Pawai Ta’aruf dan Penyerahan Beasiswa Pendidikan Santri

Minggu, 1 November 2026 - 09:22 WIB

Bahasa Indonesia Mulai Dilirik Anak Muda Rusia, 234 Ribu Orang di Dunia Belajar BIPA

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:53 WIB

Kemendikdasmen Raih Nusantara Awards 2026, Ini Terobosan Pendidikan yang Dapat Apresiasi

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:17 WIB

Berburu Kursi PTN, 450 Siswa SMAN 8 Bandung Andalkan Hasil TKA 2026

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:05 WIB

5.700 Mahasiswa Timor-Leste Kuliah di Indonesia, Riset Bersama Diperluas

Berita Terbaru

Resident Evil Extinction dibintangi Milla Jovovich. (Constantin Film International GmbH & Davis Films-Impact Pictures Inc.)

Hiburan

Film Resident Evil: Extinction Tayang Malam Ini di Trans TV

Minggu, 1 Nov 2026 - 14:31 WIB