Dua Ruang Kelas Roboh Akibat Gempa Nagekeo, Guru SD Katolik Doki Tak Berhenti Mengajar

- Penulis

Sabtu, 5 September 2026 - 07:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gempa bumi NTT bikin kelas roboh murid dan guru tetap belajar dan mengajar (foto. kemendikdasmen)

Gempa bumi NTT bikin kelas roboh murid dan guru tetap belajar dan mengajar (foto. kemendikdasmen)

JAKARTA – Gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 tak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan, tetapi juga memaksa aktivitas pendidikan berpindah dari ruang kelas ke tempat-tempat darurat.

Di SD Katolik Doki, dua ruang kelas roboh dan empat ruang lainnya mengalami kerusakan berat. Meski kondisi sekolah belum memungkinkan untuk digunakan seperti biasa, para guru memilih tidak menghentikan proses belajar mengajar.

Ruang kelas yang rusak membuat guru dan murid harus mencari tempat alternatif. Posko pengungsian pun menjadi ruang belajar sementara agar anak-anak tetap mendapatkan pendampingan setelah gempa.

Kepala SD Katolik Doki, Maria Sefiriana Sebo, mengatakan para guru langsung menyesuaikan pola pembelajaran dengan situasi yang dihadapi para peserta didik.

Sejak 20 Agustus 2026, guru mulai memberikan pendampingan kepada murid di sejumlah posko pengungsian. Guru kelas juga menyiapkan lembar kerja yang kemudian dibagikan melalui grup WhatsApp paguyuban orang tua murid.

“Guru harus bergerak cepat menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi pascagempa. Kami tetap berupaya memastikan anak-anak mendapatkan pendampingan meskipun ruang kelas tidak dapat digunakan,” kata Maria.

Belajar di Posko, Guru Hadapi Kelas Rangkap

Pembelajaran di posko pengungsian bukan perkara mudah. Satu lokasi bisa dihuni sekaligus oleh peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), hingga sekolah menengah pertama (SMP).

Kondisi tersebut membuat guru harus menerapkan pembelajaran kelas rangkap. Di sisi lain, posko masih menjadi tempat warga beraktivitas sehingga suasananya belum sepenuhnya mendukung kegiatan belajar.

“Kesulitan Bapak dan Ibu guru dalam mendesain pembelajaran kelas rangkap dikarenakan di setiap posko bergabung dari beberapa kelas mulai dari jenjang TK, SD, dan SMP,” ujar Maria.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, sekolah bersama orang tua murid dan pemerintah setempat kemudian membangun posko belajar khusus di tiga titik.

Lokasi posko ditentukan berdasarkan jangkauan tempat tinggal para murid. Bangunan sederhana itu dibuat menggunakan rangka bambu dan terpal sehingga dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar sementara.

Di tengah keterbatasan fasilitas, guru kembali menjalankan tugasnya. Materi pembelajaran pun disesuaikan dengan kebutuhan dan jenjang pendidikan peserta didik.

Untuk murid kelas 1 hingga 3, pembelajaran lebih banyak diarahkan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Sementara itu, peserta didik kelas tinggi mendapatkan penguatan literasi, numerasi, serta materi-materi esensial lainnya.

Bukan Hanya Belajar, Trauma Anak Juga Jadi Perhatian

Bagi SD Katolik Doki, menjaga keberlangsungan pendidikan pascagempa bukan sekadar memastikan anak tetap belajar. Kondisi psikologis peserta didik juga menjadi perhatian penting.

Gempa yang menyebabkan kerusakan bangunan sekolah turut meninggalkan rasa takut pada sebagian anak. Karena itu, pendampingan psikososial menjadi bagian dari upaya pemulihan.

Pada 26 Agustus 2026, dukungan psikososial dan pemulihan trauma dilakukan bersama tim relawan Argem (Arrow Generation Movement) Kota Kupang.

Pendampingan tersebut membantu anak-anak berangsur kembali beraktivitas. Perlahan, rasa takut dan kepanikan yang muncul setelah gempa mulai berkurang.

“Antusias anak-anak mulai nampak dan tidak takut atau masih panik,” kata Maria dalam keterangan yang disampaikan pada 2 September 2026.

Bantuan Terpal dan ATK Dukung Pembelajaran

Kebutuhan belajar di posko juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Sekolah menerima bantuan terpal dan alat tulis kantor (ATK) dari Taman Baca Pelangi (TPB).

Bantuan tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar sementara, terutama ketika sekolah masih dalam tahap pemulihan akibat kerusakan yang ditimbulkan gempa.

Maria berharap dukungan terhadap guru tidak berhenti pada bantuan sarana. Menurutnya, guru juga membutuhkan peningkatan kapasitas agar mampu menghadapi situasi pembelajaran darurat.

Ia berharap para guru mendapatkan pelatihan khusus mengenai desain pembelajaran kelas rangkap. Pelatihan tersebut dinilai penting karena kondisi pascabencana menuntut guru mampu mengelola pembelajaran dengan jumlah peserta didik, jenjang, dan situasi yang beragam.

“Pengalaman pascagempa menunjukkan bahwa kemampuan guru beradaptasi sangat dibutuhkan ketika pembelajaran harus berlangsung di luar ruang kelas. Karena itu, kami berharap ada pelatihan yang dapat membantu guru mendesain pembelajaran kelas rangkap dengan lebih baik,” ujar Maria.

Enam Ruang Kelas Masuk Program Revitalisasi

Di tengah proses pemulihan, SD Katolik Doki juga memiliki harapan baru untuk mengembalikan kegiatan belajar ke ruang kelas yang lebih layak.

Sekolah tersebut telah masuk dalam program revitalisasi Angkatan 3 Tahap 1. Dalam rangkaian program itu, pihak sekolah telah mengikuti bimbingan teknis (bimtek) di Surabaya dan telah memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS).

Melalui program revitalisasi tersebut, sebanyak enam ruang kelas di SD Katolik Doki akan mendapatkan rehabilitasi.

Program itu menjadi bagian penting dari upaya pemulihan sarana pendidikan setelah gempa. Sambil menunggu proses rehabilitasi berjalan, para guru tetap memilih berada di sisi murid, mengajar dari posko sederhana dan memastikan pendidikan tidak ikut berhenti bersama runtuhnya ruang kelas.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Semarak Hari Santri Nasional 2026, Klanting Gelar Pawai Ta’aruf dan Penyerahan Beasiswa Pendidikan Santri
Bahasa Indonesia Mulai Dilirik Anak Muda Rusia, 234 Ribu Orang di Dunia Belajar BIPA
Kemendikdasmen Raih Nusantara Awards 2026, Ini Terobosan Pendidikan yang Dapat Apresiasi
Berburu Kursi PTN, 450 Siswa SMAN 8 Bandung Andalkan Hasil TKA 2026
5.700 Mahasiswa Timor-Leste Kuliah di Indonesia, Riset Bersama Diperluas
Pemerintah Perluas Wajib Belajar 13 Tahun, Revitalisasi TK Melonjak Jadi 13.831 Unit
Dua Tahun Belajar Pagi-Sore, SMAN 7 Pontianak Akhirnya Dapat Bantuan Revitalisasi
Kunjungi Rumah Mahasiswa Unram, Lalu Hadrian Ungkap Pentingnya KIP Kuliah

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 13:51 WIB

Semarak Hari Santri Nasional 2026, Klanting Gelar Pawai Ta’aruf dan Penyerahan Beasiswa Pendidikan Santri

Minggu, 1 November 2026 - 09:22 WIB

Bahasa Indonesia Mulai Dilirik Anak Muda Rusia, 234 Ribu Orang di Dunia Belajar BIPA

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:53 WIB

Kemendikdasmen Raih Nusantara Awards 2026, Ini Terobosan Pendidikan yang Dapat Apresiasi

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:17 WIB

Berburu Kursi PTN, 450 Siswa SMAN 8 Bandung Andalkan Hasil TKA 2026

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:05 WIB

5.700 Mahasiswa Timor-Leste Kuliah di Indonesia, Riset Bersama Diperluas

Berita Terbaru

Resident Evil Extinction dibintangi Milla Jovovich. (Constantin Film International GmbH & Davis Films-Impact Pictures Inc.)

Hiburan

Film Resident Evil: Extinction Tayang Malam Ini di Trans TV

Minggu, 1 Nov 2026 - 14:31 WIB