JAKARTA – Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menyoroti tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang kian meningkat akibat ketidakpastian pasar keuangan global. Ia menegaskan, Bank Indonesia (BI) perlu mengambil langkah yang lebih berani, taktis, dan terukur untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi.
Menurut Misbakhun, dinamika global saat ini—mulai dari kebijakan suku bunga tinggi The Federal Reserve yang berlangsung lebih lama (high for longer) hingga meningkatnya tensi geopolitik—menuntut respons kebijakan moneter yang tidak biasa. Otoritas moneter, kata dia, tidak boleh bersikap pasif dengan hanya menunggu mekanisme pasar bekerja secara alami.
“Bank Indonesia perlu melakukan intervensi yang lebih agresif namun tetap terukur, baik di pasar valuta asing maupun obligasi. Volatilitas yang dibiarkan terlalu liar akan membentuk sentimen negatif di pasar,” ujar Misbakhun Kamis, (5/2/2025).
Ia menegaskan, BI sejatinya memiliki instrumen kebijakan yang lengkap serta cadangan devisa yang memadai untuk memastikan tekanan terhadap rupiah tidak berlebihan hingga berdampak pada sektor riil dan daya beli masyarakat.
Lebih lanjut, Misbakhun menekankan bahwa stabilisasi nilai tukar tidak semata-mata berkaitan dengan pergerakan angka, tetapi juga menyangkut upaya menjaga kepercayaan investor dan pelaku usaha. Karena itu, ia mendorong optimalisasi instrumen moneter, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan berbagai instrumen pro-market lainnya, guna menarik kembali arus masuk modal (capital inflow) sekaligus menahan keluarnya dana asing (capital outflow).
Di sisi lain, Misbakhun menggarisbawahi kuatnya fundamental ekonomi nasional. Ia menilai Indonesia menunjukkan ketahanan yang relatif lebih baik dibandingkan negara-negara sekelas, tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, inflasi yang terjaga dalam sasaran, serta kinerja neraca perdagangan yang solid.
“Fundamental ekonomi kita tidak rapuh. Di tengah ketidakpastian global yang menekan banyak negara, Indonesia justru menunjukkan resiliensi yang kuat. Ini menjadi modal besar yang harus terus dikapitalisasi, sembari BI meredam gejolak nilai tukar agar tidak mengganggu capaian ekonomi yang sudah berada di jalur yang tepat,” katanya.
Menutup pernyataannya, Misbakhun menegaskan Komisi XI DPR RI akan terus mengawal dan mendukung langkah strategis Bank Indonesia dan pemerintah dalam bauran kebijakan fiskal dan moneter. Menurutnya, sinergi antarlembaga menjadi kunci penting untuk memitigasi risiko global sekaligus menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional.
Penulis : lazir
Editor : ameri













