Membedah Misteri Gunung Padang: Temuan Terbaru dan Upaya Pelestariannya

- Penulis

Kamis, 13 Februari 2025 - 14:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Kementerian Kebudayaan menggelar Diskusi Publik bertajuk “Melihat Kembali Nilai-nilai Penting Situs Cagar Budaya Nasional Gunung Padang: Suatu Upaya Pelestarian Cagar Budaya Berkelanjutan”.

Acara ini berlangsung di Graha Gedung A Lantai 3, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan dihadiri lebih dari 250 peserta dari berbagai latar belakang, termasuk peneliti, akademisi, pemerintah, ikatan profesi, jurnalis, serta komunitas budaya.

Diskusi ini bertujuan untuk mengangkat kembali pentingnya Situs Gunung Padang sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional serta bagaimana nilai-nilainya dapat menjadi stimulan dalam upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya.

Selain itu, forum ini juga menjadi wadah untuk mempublikasikan temuan terbaru berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan oleh para ahli.

Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, menekankan bahwa diskusi ini menjadi langkah awal dalam mewacanakan kelanjutan penelitian di Situs Gunung Padang.

“Adanya diskusi ini bertujuan untuk membahas secara komprehensif arah dan kelanjutan penelitian terhadap Situs Gunung Padang. Ini membutuhkan kerja sama berbagai pihak agar dapat terwujud,” ujarnya.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, dalam sambutannya menegaskan bahwa penelitian lebih mendalam harus terus dilakukan untuk mendapatkan informasi yang lebih valid mengenai situs ini. Ia juga membuka kemungkinan keterlibatan para ahli dari luar negeri dalam proses penelitian.

“Kita masih berada di tahap awal penelitian. Jika ingin menggali lebih dalam tentang Gunung Padang, kita harus berkolaborasi dengan berbagai lembaga dan mengundang para ahli, termasuk dari luar negeri, untuk melakukan riset megalitik di sini,” jelasnya.

Selain itu, Fadli menekankan pentingnya forum diskusi antara para ahli, pemerintah, dan pihak terkait agar dapat merumuskan strategi penelitian lanjutan serta pelestarian situs ini.

“Sebagai orang awam, pertanyaan yang paling mendasar adalah: tempat ini apa, dan kapan dibuatnya? Itulah yang ingin kita dengar dari enam narasumber kita hari ini. Perdebatan dan polemik mengenai Situs Gunung Padang harus menghasilkan sintesis yang menjawab rasa ingin tahu masyarakat,” kata Fadli Zon.

Gunung Padang telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 023/M/2014. Dalam diskusi ini, para ahli arkeologi, geologi, dan sejarah memaparkan temuan serta pandangan mereka mengenai situs ini.

Arkeolog Junus Satrio Atmodjo menjelaskan bahwa Gunung Padang merupakan tinggalan budaya megalitik berupa punden berundak yang tersusun dari batuan berbentuk balok dengan lima teras bertingkat.

“Bangunan ini digunakan sebagai tempat pemujaan kepada leluhur, yang konsepnya memang berupa teras bertingkat,” terangnya.

Dr. Taqyuddin, S.Si., M.Hum., menyoroti pentingnya situs ini dalam konteks pelindungan dan pemanfaatan cagar budaya agar bisa diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bukti kejayaan peradaban Nusantara.

Sementara itu, Prof. Ris. Dr. Sutikno Bronto, M.Sc., mengingatkan bahwa Gunung Padang adalah situs unik dari sisi arkeologi dan geologi, tetapi rentan terhadap bencana alam. Oleh karena itu, diperlukan perhatian khusus dalam pelestariannya.

Prof. Dr. Danny Hilman Natawidjaja, M.Sc., mengungkapkan hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa seluruh lapisan batuan kolom di bagian atas bukit Gunung Padang merupakan susunan buatan manusia dan bukan terbentuk secara alami.

Dr. Lutfi Yondri menekankan perlunya penelitian berkelanjutan untuk mengungkap lebih banyak informasi tentang situs ini serta mengembangkan potensi pariwisata yang dapat mendukung ekonomi lokal sekaligus melestarikan kebudayaan Indonesia.

Dr. Ali Akbar menambahkan bahwa hasil uji laboratorium dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menunjukkan bahwa situs ini telah berusia ribuan tahun.

“Situs ini memiliki makna spiritual dan historis yang kuat. Ini mengarah pada kemungkinan bahwa Gunung Padang bukan hanya struktur alami, tetapi juga dibentuk oleh manusia sejak ribuan tahun lalu,” paparnya.

Diskusi publik ini menjadi langkah penting dalam upaya menggali lebih dalam sejarah Gunung Padang serta memastikan pelestariannya untuk generasi mendatang.***

 

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Kebun Hantu Hadir di TIM, Mengungkap “Hantu” yang Tersimpan dalam Tubuh Aktor
Candi Batujaya Karawang Jangan Terbengkalai, DPR Dorong Pengembangan Wisata 3A
Revitalisasi Keraton Surakarta Dimulai, 13 Kawasan Jadi Sasaran Penataan
Restorasi Besar Candi Prambanan Disiapkan, 218 Candi Perwara Masih Runtuh
GEMPHAR Gelar Pelatihan dan Pembekalan Saksi Jelang Pilkades Sukadanau
GEMPHAR Gelar Santunan Anak Yatim dan Lomba Tahfiz Al-Qur’an di Sukadanau
Kebakaran Desa Adat Sade Lombok Hanguskan 167 Bangunan, Keris dan Naskah Kuno Ikut Musnah
Fadli Zon Ajak Anak Indonesia Lestarikan Permainan Tradisional di Hari Anak Nasional 2026

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:28 WIB

Kebun Hantu Hadir di TIM, Mengungkap “Hantu” yang Tersimpan dalam Tubuh Aktor

Senin, 28 September 2026 - 11:16 WIB

Candi Batujaya Karawang Jangan Terbengkalai, DPR Dorong Pengembangan Wisata 3A

Jumat, 25 September 2026 - 14:01 WIB

Revitalisasi Keraton Surakarta Dimulai, 13 Kawasan Jadi Sasaran Penataan

Rabu, 9 September 2026 - 07:51 WIB

Restorasi Besar Candi Prambanan Disiapkan, 218 Candi Perwara Masih Runtuh

Senin, 7 September 2026 - 13:31 WIB

GEMPHAR Gelar Pelatihan dan Pembekalan Saksi Jelang Pilkades Sukadanau

Berita Terbaru

Hiburan

Sarwendah Ajukan 102 Bukti untuk Pertahankan Hak Asuh Anak

Rabu, 28 Okt 2026 - 22:58 WIB