RENTAK.ID. JAMBI – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) terlibat dengan masyarakat setempat dalam upaya revitalisasi Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muaro Jambi, di Provinsi Jambi.
Salah satu aksi yang dilakukan adalah pelatihan wirausaha di Pasar Dusun Karet (Paduka), yang berada di dalam kompleks KCBN Muaro Jambi.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V Jambi, Agus Widiatmoko, menyebut bahwa pihaknya bekerja sama dengan dunia usaha dalam menyelenggarakan program pelatihan manajemen, khususnya tentang UMKM bersama salah satu Bank di Indonesia.
“Kita bekerja sama dengan dunia usaha. Kita latih manajemennya, tentang UMKM dengan salah satu bank di Indonesia,” kata Agus Widiatmoko dalam sela kunjungan ke KCBN Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Sabtu (3/2/2024).

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V Jambi, Agus Widiatmoko (lazir)
Usai pelatihan, pada tahun 2023 lalu, sebanyak 30 orang yang merupakan pelaku UMKM di Pasar Dusun Karet (Paduka) mengikuti studi komparasi di Pasar Papringan, Temanggung, Jawa Tengah.
“Sebanyak 30 orang ikut dan menginap di sana, ikut berdagang, kemudian ikut belajar membuat makanan yang secara tradisional tanpa pengawet,” kata Agus Widiatmoko, menjelaskan.
Selain belajar berdagang, pedagang Pasar Dusun Karet juga diajarkan untuk membuat peduli lingkungan dengan tidak menggunakan plastik untuk berjualan.
“Setelah pulang dari sana kita coba di sini, masyarakat yang tadi 30 orang UMKM ini mencoba menjual makanan tradisional di sini, kemudian kerajinan dan menggunakan adat istiadat di sini,” ucapnya.
Belajar ke Sungai Mekong, Vietnam
Selanjutnya, dalam waktu dekat, pihak Kemendikbudristek akan mengajak sejumlah masyarakat untuk melakukan studi ke Vietnam.
Ini dilakukan untuk mempelajari cara masyarakat di tepi Sungai Mekong dapat melestarikan kebudayaan sekaligus memanfaatkan nilai ekonomisnya untuk dapat diterapkan di wilayah KCBN Muaro Jambi.
Di Vietnam, terdapat bangunan candi di pinggiran sungai Mekong yang menjadi destinasi yang luar biasa.
Agus mengungkapkan bahwa tidak hanya aspek pariwisatanya yang menonjol di Vietnamtetapi nilai-nilai tradisionalnya dan kearifan lokalnya juga diangkat secara memadai.
“Jadi bukan hanya aspek pariwisatanya tetapi nilai-nilai tradisionalnya dan kearifan lokalnya diangkat betul, sekaligus memberi manfaat kemudian ekonomi masyarakat yang ada di pinggiran sungai Mekong,” kata Agus.
Agus pun berharap bahwa warga di sekitar KCBN Muaro Jambi memiliki peningkatan karakter yang tidak hanya sebatas pada aspek ekonomi saja. Rencananya, masyarakat yang menjadi peserta dalam studi ke Vietnam akan berangkat pada 25 Februari-3 Maret 2023.

Kawasan Candi di MuaroJambi (lazir)
“Ternyata geografis di sana mirip dengan kawasan di Muara Jambi ini, jadi bagaimana di sana nanti diadopsi ke sini. Nilai-nilai baiknya kita bawa ke sini, tidak harus meniru tetapi paling tidak bisa memberikan wawasan baru untuk bisa kita lakukan di sini,” ujar Agus.
Pihak Kemendikbudristek sendiri secara rutin mengevaluasi pedagang yang berada di kawasan KCBN Muaro Jambi. Misalnya, ada pedagang yang pendapatannya selalu lebih rendah dibandingkan pedagang lainnya, sehingga akan dievaluasi kekurangan dari penjualan pedagang tersebut.
“Jadi, penting bagi kami dalam transaksi ini bukan hanya soal angka tetapi evaluasi per individu bagaimana meningkatkan kapasitas pelaku usaha ini. Jadi tidak hanya kapasitas barang dagangannya saja yang harus ditingkatkan, tetapi karakter pelaku usahanya juga harus dibentuk agar menjadi lebih baik,” kata Agus.
Sementara itu, Surna, salah satu warga yang tinggal di kawasan KCBN Muaro Jambi bahkan beralih profesi menjadi supir ojek setelah terjadi program revitalisasi. Surna yang sebelumnya bekerja sebagai tukang mematok harga Rp10 ribu setiap pelancong yang diantarinya, kini mengantarkan pelancong yang datang setelah adanya pembangunan.
“Alhamdulillah, dibenerin seperti ini jadi ramai. Pendapatan juga bertambah,” katanya. ***













