JAKARTA – Baru-baru ini, media sosial X diramaikan dengan tagar #KaburAjaDulu, yang menjadi trending topic di Indonesia. Tagar ini mencerminkan keinginan banyak anak muda untuk mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri, baik dari segi pendidikan, karier, maupun kesejahteraan. Fenomena ini menunjukkan ketidakpuasan sebagian masyarakat terhadap kondisi di dalam negeri, di mana peluang yang tersedia dianggap belum cukup menjanjikan.
Fenomena Keinginan Hijrah ke Luar Negeri
Tagar ini bukan sekadar tren biasa, melainkan cerminan dari realitas bahwa banyak generasi muda ingin mencari pengalaman baru, mendapatkan kualitas pendidikan yang lebih baik, atau memperbaiki taraf hidup mereka. Beberapa bahkan mempertimbangkan pindah kewarganegaraan demi kehidupan yang lebih stabil dan terjamin.
Seorang netizen dengan akun @abanggS*** mengungkapkan keresahannya,
“Kami yang bekerja di luar negeri sering kali diragukan nasionalismenya. Padahal, keputusan kami bukan sekadar ingin pergi, tapi ada keluarga yang harus dinafkahi, istri yang sedang hamil, anak-anak yang butuh pendidikan dan kesehatan yang layak. Kami berjuang di negeri orang bukan untuk diri sendiri, tapi agar keluarga di Indonesia sejahtera. Ironisnya, kami justru diragukan kecintaan kami pada negeri ini. Padahal, coba bapak lihat, siapa penyumbang devisa terbesar nomor dua setelah migas? Ya, para pekerja migran yang bapak anggap tidak nasionalis!”Seorang pengguna X lainnya, @yaniar*, menuliskan:
“3.912 anak muda Indonesia berpindah kewarganegaraan. Indonesia cemas di ujung tanduk.”
Tak sedikit juga yang menyoroti fenomena ini sebagai tamparan keras bagi pemerintah. warganet lainnya memberikan komentar.
“Biar pejabat elite sadar! Warganya kabur ke luar negeri cari kerja, sementara mereka hidup nyaman tanpa mikirin rakyat.”
Bahkan, ada ungkapan yang kemudian muncul, “Lebih baik hujan emas di negeri orang, daripada hujan batu di negeri sendiri.”
Ketika Pejabat dan Akademisi Angkat Bicara
Fenomena ini semakin diperkuat dengan berita viral tentang seorang kepala desa di Ciamis yang mengundurkan diri demi bekerja di Jepang. Keputusan ini memperlihatkan bahwa kondisi ekonomi di dalam negeri semakin sulit, bahkan untuk seorang pemimpin di tingkat desa.
Menanggapi situasi ini, akademisi dan intelektual Indonesia, Nadirsyah Hosen, yang telah lama mengajar di Fakultas Hukum, Universitas Melbourne, turut memberikan pandangannya. Ia mengungkapkan sebagaimana di kutip dalam laman facebook nya.
“Aku sudah hidup di luar negeri sejak 1997. Aku menikmati mengajar di kampus hukum terbaik di dunia. Namun, hatiku selalu tertinggal di tanah air. Aku ingin pulang, bukan karena gagal di luar negeri, tapi karena aku ingin membangun. Aku ingin melihat generasi baru tumbuh lebih kuat, mencetak akademisi kelas dunia, dan menyalakan obor keilmuan serta keadilan di Indonesia.”
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Indonesia memang memiliki kekurangan, namun bukan berarti harus ditinggalkan. Menurutnya, negeri ini seperti ladang luas yang butuh tangan-tangan yang mau menggarap, bukan sekadar orang-orang yang mencari ladang lain yang sudah subur.
Refleksi untuk Pemerintah
Viralnya tagar #KaburAjaDulu menjadi alarm bagi pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan yang selama ini diterapkan. Jika semakin banyak anak bangsa memilih untuk pergi, bukankah ada yang perlu diperbaiki di dalam negeri?
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa ada perubahan signifikan, bukan tidak mungkin Indonesia akan kehilangan banyak talenta terbaiknya. Pertanyaannya, akankah ada langkah konkret dari pemerintah untuk membuat anak muda tetap merasa memiliki harapan di negeri sendiri? Ataukah fenomena “kabur dulu” ini justru akan semakin menjadi pilihan utama? (Rahmat Kurnia)













