Indonesia Terpukul oleh Tarif Impor AS: Ancaman bagi Ekonomi dan Strategi Antisipasi

- Penulis

Kamis, 3 April 2025 - 20:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, M. Hanif Dhakiri. (dok. rentak.id)

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, M. Hanif Dhakiri. (dok. rentak.id)

JAKARTA – Pemerintah Indonesia menghadapi tantangan serius menyusul keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memberlakukan tarif impor tambahan sebesar 32% pada produk-produk asal Indonesia.

Kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran mendalam terhadap stabilitas ekonomi nasional dan masa depan jutaan pekerja di sektor industri padat karya.

Pada 2 April 2025, Presiden Trump mengumumkan tarif dasar 10% untuk semua negara, dengan tarif tambahan yang bervariasi berdasarkan penilaian terhadap praktik perdagangan masing-masing negara. Indonesia dikenakan tarif tambahan sebesar 32%, sementara negara lain seperti Vietnam menghadapi tarif 46% dan China 34%.

Kebijakan ini secara langsung mempengaruhi komoditas ekspor unggulan Indonesia, termasuk alas kaki, tekstil dan garmen, minyak nabati, serta peralatan listrik.

Pada tahun 2023, nilai ekspor Indonesia ke AS mencapai USD 31 miliar atau sekitar Rp500 triliun, menjadikannya mitra dagang terbesar kedua setelah China.

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, M. Hanif Dhakiri, menekankan pentingnya respons cepat dan tepat dari pemerintah.

“Ini bukan sekadar urusan dagang, tapi pukulan langsung ke industri padat karya dan jutaan pekerja. Pemerintah tak bisa hanya berdiri di pinggir lapangan. Harus turun tangan penuh,” ujarnya di Jakarta, Kamis (3/4/2025).

Hanif memperingatkan bahwa tanpa antisipasi yang tepat, dampak dari kebijakan ini bisa meluas, termasuk penurunan ekspor, peningkatan PHK, kenaikan inflasi, dan tekanan pada daya beli masyarakat.

Nilai tukar rupiah saat ini telah menyentuh Rp16.675 per dolar AS, meskipun Bank Indonesia telah menggelontorkan lebih dari USD 4,5 miliar cadangan devisa untuk intervensi pasar.

“Strategi moneter penting, tapi tak cukup. Tanpa penguatan sektor riil dan fiskal, ekonomi kita bisa limbung,” tegas Hanif, yang juga Wakil Ketua Umum DPP PKB.

Untuk mengurangi ketergantungan pada pasar AS, Hanif mendorong diversifikasi pasar ekspor ke kawasan BRIICS dan Afrika.

Selain itu, penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta industri berbahan baku lokal dianggap krusial agar lebih tangguh menghadapi guncangan eksternal.

“Tarif AS harus kita jawab dengan keberanian industrialisasi. Produk lokal tak boleh hanya bertahan—harus maju dan menembus pasar baru,” katanya.

Hanif juga menyoroti pentingnya investasi pada sumber daya manusia, termasuk pekerja migran yang tahun lalu menyumbang devisa sebesar USD 14 miliar.

“Mereka bukan beban, tapi kekuatan. Kalau dikelola serius, lima hingga sepuluh tahun ke depan mereka bisa jadi pilar ekonomi nasional,” ujar mantan Menteri Ketenagakerjaan RI ini. ***

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Kementerian PU Buka Pendaftaran P3-TGAI 2027, Siapkan Rp2,99 Triliun untuk 13.296 Lokasi
Tak Cukup Bermodal Bakat, 100 Pekerja Musik Difasilitasi Sertifikasi oleh Kemnaker
Sawit Terancam Tak Produktif Usai Penertiban Hutan, Tamsil Soroti Nasib Petani
Sampah Desa Bisa Jadi Energi, Mendes Yandri Bidik 75.266 Desa
90 Peserta Ikuti InaSkills 2026, Wamenaker: Kompetensi Jadi Kunci Hadapi Dunia Kerja
Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo Hampir Rampung, Kementerian PU Siapkan Asrama 5 Lantai dan Masjid 4 Lantai
Indrajaya Sentil Kebijakan Pusat: Jangan Cuma Bagus di Atas Kertas, Rakyat Harus Merasakan Dampaknya
BSU 2026 Rp900 Ribu, Ini Syarat Penerima dan Batas Gaji yang Ditetapkan Kemnaker

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 14:41 WIB

Kementerian PU Buka Pendaftaran P3-TGAI 2027, Siapkan Rp2,99 Triliun untuk 13.296 Lokasi

Minggu, 1 November 2026 - 09:16 WIB

Tak Cukup Bermodal Bakat, 100 Pekerja Musik Difasilitasi Sertifikasi oleh Kemnaker

Minggu, 1 November 2026 - 08:43 WIB

Sawit Terancam Tak Produktif Usai Penertiban Hutan, Tamsil Soroti Nasib Petani

Minggu, 1 November 2026 - 08:32 WIB

Sampah Desa Bisa Jadi Energi, Mendes Yandri Bidik 75.266 Desa

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:51 WIB

90 Peserta Ikuti InaSkills 2026, Wamenaker: Kompetensi Jadi Kunci Hadapi Dunia Kerja

Berita Terbaru