JAKARTA – Harga emas kembali menguat tajam pada perdagangan Kamis (20/8/2026). Penguatan ini melanjutkan lonjakan harga emas sehari sebelumnya setelah pasar merespons langkah tak terduga Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) untuk memperkuat likuiditas pasar obligasi pemerintah.
Pada pukul 07.42 WIB, harga emas berjangka untuk pengiriman Desember 2026 di Commodity Exchange berada di level US$4.568 per ons troi, naik 0,50% dibandingkan penutupan sebelumnya sebesar US$4.545,30 per ons troi.
Kenaikan tersebut memperpanjang reli emas setelah pada perdagangan Rabu harga logam mulia melonjak lebih dari 3%. Harga emas di pasar spot sempat menyentuh US$4.491,16 per ounce, level tertinggi sejak 4 Juni 2026.
Pada akhir perdagangan Rabu, harga emas spot tercatat naik 3,4% menjadi US$4.479,84 per ounce. Sementara itu, emas berjangka AS ditutup menguat 2,8% menjadi US$4.545,30 per ounce.
Buyback Utang AS Jadi Pemicu
Salah satu pemicu utama penguatan emas adalah pengumuman mengejutkan Departemen Keuangan AS terkait peningkatan operasi pembelian kembali atau buyback surat utang pemerintah.
Mengutip Bloomberg, Departemen Keuangan AS meningkatkan ukuran operasi buyback untuk mendukung likuiditas sekuritas dengan tenor panjang, terutama surat utang yang jatuh tempo 10 hingga 30 tahun.
Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah AS berupaya menjaga stabilitas pasar obligasi sekaligus menekan biaya pinjaman jangka panjang setelah imbal hasil Treasury berada di level tinggi dalam beberapa dekade.
Tak lama setelah pengumuman tersebut, Departemen Keuangan AS juga mengungkapkan total utang pemerintah Amerika Serikat telah menembus US$40 triliun.
Bagi pasar emas, kebijakan tersebut menjadi sentimen positif karena berpotensi menekan imbal hasil obligasi dan menurunkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan bunga seperti emas.
“Ini benar-benar tidak terduga. Sangat bullish untuk emas karena imbal hasil Treasury jangka panjang yang lebih rendah dan karena hal ini dapat membantu menekan dolar lebih rendah,” kata Robert Gottlieb, pakar industri sekaligus mantan kepala divisi logam mulia di Koch Supply and Trading.
Dolar AS Melemah, Emas Makin Menarik
Sentimen positif terhadap emas juga diperkuat pelemahan dolar AS. Indeks dolar turun 0,8% pada perdagangan Rabu.
Pelemahan dolar membuat emas yang dihargai dalam mata uang AS menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Kondisi tersebut biasanya meningkatkan daya tarik emas di pasar global.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS bertenor 30 tahun juga turun tajam setelah sebelumnya berada di sekitar level tertinggi dalam 19 tahun.
Dari sisi teknikal, harga emas spot bahkan berhasil menembus rata-rata pergerakan 100 hari yang berada di kisaran US$4.381 per ounce. Penembusan level tersebut menjadi sinyal tambahan bagi pelaku pasar bahwa tren penguatan emas masih memiliki ruang untuk berlanjut.
Pasar Menanti Sinyal The Fed
Perhatian investor kini beralih ke kebijakan moneter Amerika Serikat. Penguatan emas terjadi menjelang publikasi risalah rapat Federal Reserve atau The Fed pada Juli.
Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 15-16 September berada di sekitar 65%.
Ekspektasi tersebut menguat setelah sejumlah data ekonomi AS terbaru menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Kondisi itu membuat spekulasi mengenai kenaikan suku bunga kembali mereda.
Jika suku bunga riil bergerak turun, emas berpotensi mendapatkan tambahan tenaga. Investor biasanya meningkatkan kepemilikan emas ketika imbal hasil aset berbunga menurun karena biaya peluang memegang logam mulia ikut berkurang.
TD Securities menilai langkah Departemen Keuangan AS memberikan dorongan baru bagi pasar emas.
“Meski tekanan beli yang kuat telah mereda dalam beberapa hari terakhir, arus investasi emas dapat dengan cepat kembali di tengah dukungan likuiditas dari Departemen Keuangan, The Fed yang bersedia melihat melewati dampak guncangan energi, serta narasi stagflasi yang semakin berkembang,” tulis TD Securities dalam catatannya.
Lembaga tersebut menilai kombinasi faktor itu pada akhirnya dapat mendorong penurunan suku bunga riil dan menjadi katalis positif bagi harga emas.
Inflasi Energi Masih Jadi Risiko
Meski prospek emas terlihat positif, pasar tetap menghadapi sejumlah risiko. Salah satunya berasal dari tekanan inflasi yang dipicu kenaikan harga energi.
Jika harga energi terus meningkat dan mendorong inflasi, ruang gerak The Fed untuk memangkas suku bunga bisa menjadi lebih terbatas. Kondisi tersebut berpotensi menahan laju kenaikan harga emas.
Dengan demikian, pergerakan emas dalam beberapa waktu ke depan akan sangat dipengaruhi oleh tiga faktor utama: arah imbal hasil Treasury AS, pergerakan dolar, serta keputusan dan sinyal kebijakan The Fed.
Untuk sementara, kombinasi pelemahan dolar, turunnya imbal hasil obligasi jangka panjang, dan meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga membuat emas kembali menjadi salah satu aset yang paling diperhatikan investor global.
Penulis : amanda az
Editor : reni diana












