Harga Emas Dunia Bangkit Setelah Anjlok, Peluang Rebound Masih Terbuka

- Penulis

Senin, 8 Juni 2026 - 08:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Emas (foto. masterimportir)

Emas (foto. masterimportir)

JAKARTA – Harga emas dunia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada awal pekan setelah mengalami tekanan hebat pada perdagangan sebelumnya. Meski kenaikannya masih terbatas, pergerakan ini memberi harapan bagi investor yang sempat melihat harga logam mulia itu terpuruk ke level terendah tahun ini.

Pada Senin (8/6/2026) pukul 06.49 WIB, harga emas spot tercatat berada di level US$ 4.340,7 per troy ons atau naik 0,22 persen dibandingkan penutupan akhir pekan lalu. Kenaikan tersebut terjadi setelah emas anjlok hingga 3,21 persen pada Jumat (5/6), yang menjadi penurunan harian terdalam sepanjang tahun 2026.

Tekanan terhadap emas masih berasal dari kuatnya data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS). Laporan terbaru US Bureau of Labor Statistics menunjukkan ekonomi AS menciptakan 172.000 lapangan kerja non-pertanian (non-farm payroll) sepanjang Mei, jauh melampaui ekspektasi pasar yang hanya memperkirakan 85.000 pekerjaan baru.

Data tersebut memperlihatkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih sangat solid meskipun ekonomi menghadapi risiko inflasi yang dipicu kenaikan harga energi. Kondisi ini memperkuat keyakinan bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), belum memiliki alasan kuat untuk segera memangkas suku bunga.

Kepala Strategi Investasi WisdomTree, Kevin Flanagan, bahkan memperkirakan The Fed akan menghapus sinyal kecenderungan penurunan suku bunga dalam rapat kebijakan pada 16-17 Juni mendatang. Jika proyeksi itu terealisasi, pasar akan kembali menghadapi kebijakan moneter yang lebih ketat dalam beberapa bulan ke depan.

Bagi emas, situasi tersebut bukan kabar baik. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil atau non-yielding asset, daya tarik emas biasanya berkurang ketika suku bunga tetap tinggi. Investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih menarik seperti obligasi atau deposito.

Meski demikian, secara teknikal peluang pemulihan jangka pendek masih terbuka. Indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di level 35, yang menunjukkan emas masih berada dalam tren bearish karena berada di bawah level 50.

Namun, indikator Stochastic RSI 14 hari berada di level 11, menandakan kondisi oversold atau jenuh jual. Dalam analisis teknikal, kondisi ini sering menjadi sinyal bahwa tekanan jual mulai melemah dan harga berpotensi mengalami rebound.

Untuk perdagangan hari ini, pelaku pasar perlu mencermati area US$ 4.385 per troy ons sebagai level resistensi pertama yang bertepatan dengan Moving Average (MA) 5 hari. Jika mampu menembus level tersebut, harga emas berpotensi melanjutkan penguatan menuju area US$ 4.447 per troy ons yang menjadi MA 10 hari.

Meski peluang kenaikan masih ada, arah pergerakan emas dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan tetap sangat bergantung pada kebijakan suku bunga The Fed. Selama ekspektasi suku bunga tinggi bertahan, ruang penguatan emas kemungkinan masih akan terbatas. Namun bagi investor jangka panjang, koreksi harga yang terjadi saat ini bisa menjadi momentum untuk mencermati peluang akumulasi secara bertahap.

Penulis : guntar

Editor : ameri

Berita Terkait

Ateng Sutisna Desak Pemerintah Benahi Pasar Modal, Ancaman Turun Kelas MSCI Jadi Peringatan
Investasi Rp1.010 Triliun Diklaim Tumbuh, Hafisz Tohir Soroti Lelang SUN Anjlok 50 Persen
Di Tengah Ancaman Krisis Pangan Global, Indonesia Klaim Punya Stok Beras 25 Juta Ton
50 Orang Terkaya Kuasai Kekayaan Setara 55 Juta Penduduk, Hafisz Tohir Soroti Ketimpangan Indonesia
Belanja Online hingga Transaksi Kripto Sumbang Pajak Rp58,75 Triliun
Black October Guncang Dunia Digital, ICSF Ingatkan Indonesia Rawan Serangan Siber
Beras SPHP Dikemas Ulang Jadi 50 Kg, BULOG Turunkan Satgas Khusus ke Seluruh Indonesia
Wamentan Dorong Koperasi Beli Susu Peternak Langsung, Ini Targetnya

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 13:51 WIB

Investasi Rp1.010 Triliun Diklaim Tumbuh, Hafisz Tohir Soroti Lelang SUN Anjlok 50 Persen

Minggu, 1 November 2026 - 14:20 WIB

Di Tengah Ancaman Krisis Pangan Global, Indonesia Klaim Punya Stok Beras 25 Juta Ton

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:47 WIB

50 Orang Terkaya Kuasai Kekayaan Setara 55 Juta Penduduk, Hafisz Tohir Soroti Ketimpangan Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 14:20 WIB

Belanja Online hingga Transaksi Kripto Sumbang Pajak Rp58,75 Triliun

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:01 WIB

Black October Guncang Dunia Digital, ICSF Ingatkan Indonesia Rawan Serangan Siber

Berita Terbaru