Genealogi Jaringan Pesantren di Wilayah Tabagsel, Sumatera Utara

- Penulis

Senin, 17 Februari 2025 - 18:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Santri Pondok Pesantren Musthafawiyah (Berdiri pada Tahun  1912), Desa Purba Baru, Kecamatan Lembah Sorik Marapi, Mandailing Natal, Sumatera Utara (Foto: iNews/Liansah)

Santri Pondok Pesantren Musthafawiyah (Berdiri pada Tahun 1912), Desa Purba Baru, Kecamatan Lembah Sorik Marapi, Mandailing Natal, Sumatera Utara (Foto: iNews/Liansah)

TABAGSEL – Sumatera Utara memiliki banyak ulama yang memberikan banyak warisan keilmuan diantara yang cukup masyhur dan berperan penting dalam perkembangan pesantren pada abad ke-20, adalah Syekh Musthafa Husein al-Mandily, seorang ulama yang sanad keilmuannya bersambung hingga ke Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani. Tidak bisa dipungkiri, tradisi keilmuan pesantren di Sumatera Utara banyak berakar pada Pesantren Musthafawiyah Purbabaru yang beliau dirikan pada tahun 1912. Menurut penelitian dalam jurnal Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, VOL: 11/NO: 03 Oktober 2022, yang ditulis oleh Hasan Asyari, dkk, menyebutkan bahwa lebih dari 40 pesantren di wilayah Tapanuli Bagian Selatan memiliki hubungan intelektual yang erat dengan pesantren ini.

Jaringan Ulama Mandailing dan Haramain

Menurut Azyumardi Azra, dalam bukunya “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia.”  Hubungan ulama Indonesia dengan Haramayn (Makkah dan Madinah) telah terjalin dengan cukup baik. Tradisi ini berlanjut hingga abad ke-20 ulama Mandailing yang menuntut ilmu di Haramain (Makkah dan Madinah). Beberapa mereka bahkan menjadi guru bagi banyak santri Nusantara di sana.  Diantaranya adalah Syekh Hasan Maksum (1884-1936), Syekh Musthafa Husein al-Mandily (1886-1955), Syekh Muhammad Yunus (1889-1960), dan Syekh Abdul Qadir bin Abdul Muthalib al-Mandily (1910-1965). Mereka adalah murid-murid dari Syekh Abdul Qadir bin Shabir al-Mandily, seorang ulama besar di Masjid al-Haram (1863 – 1934).

Syekh Musthafa Husein tidak hanya dikenal di Sumatera Utara, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan ulama-ulama besar di Jawa, seperti K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Wahab Chasbullah, dan K.H. Bisri Syansuri. Ketika menuntut ilmu di Makkah, mereka berguru pada sosok yang sama, yakni Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Hubungan intelektual ini memperkuat jaringan pesantren di Nusantara, termasuk di Sumatera Utara.

Perjalanan Hidup Syekh Musthafa Husein

Syekh Musthafa Husein lahir di Tano Bato, Mandailing Natal, pada tahun 1886 dengan nama kecil Muhammad Yatim. Ayahnya, Haji Husein, adalah seorang saudagar kaya yang memiliki jaringan luas hingga ke Pulau Jawa, sehingga mampu menyekolahkan anaknya hingga ke Timur Tengah.

Sejak kecil, Musthafa Husein telah menunjukkan kecerdasan luar biasa. Ia menempuh pendidikan di Volksschool (Sekolah Rakyat) di Tano Bato, kemudian sempat belajar di kweekschool (sekolah guru) di Padangsidimpuan. Namun, kecintaannya terhadap ilmu agama membawanya untuk berguru kepada Syekh Abdul Hamid Hutapungkut.

Kedekatannya dengan sang guru telah menempahnya menjadi perilaku yang lebih islami. Dalam dirinya semakin tumbuh semangat dan keyakinan untuk lebih giat belajar ilmu dan pengetahuan Islam. Sebagaimana telah dikutip dalam buku yang telah ditulis oleh Muhammad Darwis Dasopang, dkk. (Diaspora Ulama dan Santri Tapanuli.  Malang: AE Publishing, hal. 25)

“Kamu harus melanjutkan belajar ke Makkah,” saran gurunya saat melihat potensi besar dalam diri Musthafa Husein. Atas dorongan tersebut, pada tahun 1900, ia berangkat ke Makkah untuk menuntut ilmu.

Selama 13 tahun di Makkah, ia belajar di Masjid al-Haram dan Madrasah as-Shoulatiyah, berguru pada ulama-ulama besar seperti Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Abdul Qadir bin Shabir al-Mandily, dan Syekh Muhammad Amin Mardin. Berkat kecerdasannya, ia bahkan diizinkan mengajar di Masjid al-Haram selama lima tahun. Pada tahun 1911, ia menerima kabar bahwa ayahnya telah wafat. Setahun kemudian, ia kembali ke Mandailing atas permintaan ibunya dan masyarakat sekitar.

Pendirian Pesantren Musthafawiyah Purbabaru

Sepulang dari Makkah, Syekh Musthafa Husein mendirikan Pesantren Musthafawiyah Purbabaru. Pesantren ini berkembang pesat dan menjadi pusat pendidikan Islam di Sumatera Utara.

Pesantren ini melahirkan ribuan alumni yang tersebar di berbagai daerah, menjadi ulama, dai, pemimpin pesantren, maupun birokrat dan politisi. Hingga saat ini diyakini bahwa pesantren yang ada di wilayah Tapanuli Bagian Selatan memiliki hubungan intelektual dengan Musthafawiyah Purbabaru.

“Santri-santri dari Musthafawiyah telah menyebar ke berbagai daerah, membawa misi dakwah dan pendidikan Islam,” 

Atas jasa-jasanya, Syekh Musthafa Husein kini tengah diusulkan sebagai Pahlawan Nasional. Perannya dalam memperkuat tradisi pesantren dan menyebarkan ilmu Islam di Nusantara tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagaimana disampaikan dalam buku Tuhfah al-Qāshi wa al-Dāni, beliau sejajar dengan ulama-ulama besar Nusantara seperti Syekh Abdul Wahab Chasbullah, Syekh Bisri Syansuri, dan Syekh Sulaiman ar-Rasuli. Warisan keilmuannya tetap hidup melalui pesantren dan para muridnya, yang terus melanjutkan perjuangan dakwah hingga saat ini. (RKL)

Penulis : Rahmat Kurnia Lubis

Editor : Erka

Berita Terkait

Merawat Daerah dari Pinggiran: Inovasi Irman Gusman dalam Menafsirkan Konstitusi
Rahasia Tubuh Manusia Saat Puasa: Mengapa 14 Jam Tanpa Makan Ternyata Bisa
Kenapa Dianjurkan Berbuka dengan Kurma? Ini Penjelasan Ilmiah dan Hikmahnya
Kamrussamad: Luruskan Polemik Anggaran MBG, Sikap PDI Perjuangan Harus Jelas
Ramadan Bukan Akhir Ibadah, Tapi Awal Kehidupan Bertakwa
Lima Air dari Seorang Ibu yang Tidak Bisa diganti Apapun
Setetes Darah, Banyak Manfaat: Mengapa Donor Darah Penting bagi Semua
Kecerdasan Buatan: Manfaat dan Ancaman AI bagi Manusia!

Berita Terkait

Kamis, 19 Maret 2026 - 19:04 WIB

Merawat Daerah dari Pinggiran: Inovasi Irman Gusman dalam Menafsirkan Konstitusi

Senin, 9 Maret 2026 - 20:37 WIB

Rahasia Tubuh Manusia Saat Puasa: Mengapa 14 Jam Tanpa Makan Ternyata Bisa

Kamis, 5 Maret 2026 - 20:05 WIB

Kenapa Dianjurkan Berbuka dengan Kurma? Ini Penjelasan Ilmiah dan Hikmahnya

Jumat, 27 Februari 2026 - 20:17 WIB

Kamrussamad: Luruskan Polemik Anggaran MBG, Sikap PDI Perjuangan Harus Jelas

Sabtu, 21 Februari 2026 - 20:13 WIB

Ramadan Bukan Akhir Ibadah, Tapi Awal Kehidupan Bertakwa

Berita Terbaru