JAKARTA – Indonesia memperkuat posisinya sebagai pemain utama seafood global dengan menonjolkan praktik berkelanjutan dan sistem ketertelusuran dalam rantai pasok. Hal ini ditegaskan dalam seminar bertajuk “Indonesia in Dialogue: A Tuna Case Study Toward Sustainable and Traceable Seafood” yang digelar di Paviliun Indonesia pada hari kedua ajang Seafood Expo North America 2026 di Boston, Amerika Serikat, Senin (16/3/2026).
Forum ini menjadi wadah bagi Indonesia untuk memaparkan strategi memperkuat ekspor sektor perikanan di pasar global, khususnya melalui penerapan prinsip keberlanjutan (sustainability) dan ketertelusuran (traceability). Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia melalui Atase Perdagangan RI di Washington D.C. bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington D.C., serta berkolaborasi dengan Global Dialogue on Sustainable Traceability dan Tuna Consortium.
Sejumlah narasumber turut hadir dalam diskusi ini, di antaranya Bara Hasibuan, Andajani, Craig Turley, dan Michael McNicholas.
Atase Perdagangan RI Washington D.C., Ranitya Kusumadewi, menjelaskan bahwa seminar ini bertujuan menunjukkan komitmen jangka panjang Indonesia dalam menjaga pangsa pasar ekspor seafood, khususnya ke Amerika Serikat. Menurutnya, keberlanjutan dan ketertelusuran kini menjadi kunci stabilitas bisnis global.
“Indonesia terus memperkuat tata kelola sektor perikanan melalui peningkatan sertifikasi, inspeksi, pengujian laboratorium, serta sistem dokumentasi dan ketertelusuran di sepanjang rantai pasok,” ujarnya.
Sementara itu, Bara menegaskan bahwa sebagai produsen tuna terbesar dunia, Indonesia harus adaptif menghadapi tantangan global, termasuk kebijakan Marine Mammal Protection Act dan standar keamanan pangan yang semakin ketat. Ia menekankan tiga pilar utama yang harus dijaga, yakni keberlanjutan, keamanan pangan, dan ketertelusuran.
“Pemerintah berkomitmen menerapkan kebijakan pencegahan dan zero tolerance terhadap produk yang tidak memenuhi standar internasional,” kata Bara.
Dari sisi industri, Andajani menyebut pelaku usaha terus beradaptasi dengan standar global, salah satunya melalui metode penangkapan ramah lingkungan seperti handline dan pole-and-line. Pendekatan ini dinilai tidak hanya menjaga kualitas, tetapi juga meningkatkan nilai jual produk.
Craig Turley turut mengapresiasi langkah Indonesia dalam menerapkan standar keberlanjutan dan sistem ketertelusuran yang sejalan dengan standar global. Menurutnya, hal ini meningkatkan efisiensi rantai pasok sekaligus memperkuat kepercayaan buyer internasional.
Adapun Michael McNicholas menyoroti pentingnya sistem ketertelusuran yang terintegrasi dan transparansi data sebagai faktor utama dalam pengambilan keputusan buyer serta keberlanjutan kerja sama jangka panjang.
Partisipasi Indonesia dalam SENA 2026 yang berlangsung pada 15–17 Maret menjadi upaya konkret pemerintah dalam memperkuat citra Indonesia sebagai pemasok seafood global yang andal. Pada hari kedua pameran di Boston Convention and Exhibition Center, jumlah pengunjung ke Paviliun Indonesia meningkat signifikan, dengan interaksi bisnis yang semakin intensif.
Sejumlah perusahaan Indonesia bahkan telah melaporkan adanya potensi transaksi serta penjajakan kerja sama dengan mitra internasional.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menyatakan optimisme terhadap respons pasar.
“Ini menunjukkan kepercayaan global terhadap kualitas, keberlanjutan, dan daya saing seafood Indonesia,” ujarnya.
Di tengah dinamika perdagangan global, kinerja ekspor perikanan Indonesia ke AS tetap menunjukkan tren positif. Pada 2025, nilai ekspor mencapai USD 1,17 miliar. Sementara pada Januari 2026, ekspor tercatat USD 107,32 juta atau tumbuh 14,84 persen dibanding periode sebelumnya.
Produk unggulan yang mendominasi ekspor meliputi udang, tuna beku, filet ikan, tilapia, dan moluska. Tingginya permintaan ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap kualitas produk serta kemampuan industri Indonesia dalam memenuhi standar global.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, total perdagangan Indonesia dengan AS pada 2025 mencapai USD 43,80 miliar, dengan nilai ekspor sebesar USD 30,96 miliar dan impor USD 12,85 miliar.
Penulis : lazir
Editor : ameri






