RENTAK.ID – Kegemaran politisi Indonesia terhadap drakor dan dampak negatif yang ditimbulkannya pada industri drama lokal. Berbagai alasan mengapa politisi menyukai drakor akan diungkap, serta bagaimana hal ini mempengaruhi apresiasi terhadap karya seni lokal.
Presiden Jokowi sempat membuat pernyataan yang menarik perhatian publik, ketika ia menyebut adanya drakor dalam politik Indonesia. Walaupun pada awalnya dapat dianggap sebagai sebuah pernyataan yang bersifat humoris, beliau sebenarnya ingin menggambarkan bagaimana politik Indonesia kerap kali diwarnai oleh intrik dan konflik yang sering kali tidak jauh berbeda dengan jalan cerita dalam drakor.
Pernyataan tersebut menggambarkan sikap kritis Presiden Jokowi terhadap realitas politik di Indonesia. Beliau ingin mengajak masyarakat untuk melihat bagaimana adu domba, kisruh, dan intrik politik dapat menghambat proses pengambilan keputusan yang seharusnya menjadi prioritas. Analogi drakor sebagai gambaran politik di Indonesia ini memperlihatkan betapa politik dapat dipenuhi drama yang menghabiskan energi dan waktu.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa drakor atau drama Korea begitu populer di Indonesia. Tidak hanya masyarakat umum, namun juga politisi Indonesia pun gemar menonton drakor.
Lalu, apa alasan di balik fenomena ini? Beberapa faktor yang mungkin melatarbelakangi antusiasme para politisi ini adalah adanya kecenderungan menyukai drama yang menggambarkan kehidupan mewah, penuh intrik politik, atau bahkan yang mengangkat isu sosial kontemporer.
Meskipun demikian, kesukaan politisi terhadap drakor ini tidak sepenuhnya positif. Salah satu dampak negatif yang mulai terlihat adalah bagaimana drakor telah merusak cerita drama asli Indonesia. Industri drama lokal semakin tergilas popularitas drakor yang menampilkan produksi berkualitas tinggi, aktor dan aktris penuh pesona, serta cerita yang menarik dan adiktif.
Sebagai pemegang kekuasaan, politisi seharusnya menjadi contoh dan penyokong industri kreatif dalam negeri. Namun sayangnya, ketertarikan mereka terhadap drakor justru menghambat perkembangan drama asli Indonesia.
Sebagai solusi, kita dapat mulai mendorong industri kreatif Indonesia untuk menciptakan tontonan dengan kualitas yang mampu bersaing dengan drakor. Selain itu, menghadirkan politisi yang lebih memperhatikan pertumbuhan industri drama lokal juga merupakan langkah yang perlu dipertimbangkan.
Akhirnya, kesadaran akan pentingnya menghargai dan menjunjung tinggi karya asli Indonesia yang perlu dikedepankan. Dukungan dari politisi sebagai pengambil kebijakan dan masyarakat umum akan menjadi kunci keberhasilan industri drama lokal. Mari mulai membuka mata kita untuk melihat potensi yang dimiliki industri drama dalam negeri, dan menghargai serta mendukung penciptaan tontonan berkualitas dari tanah sendiri. (***)













