JAKARTA – Langkah pemerintah yang berencana membuka impor Gula Kristal Mentah (GKM) sebanyak 200 ribu ton menuai kritik tajam dari Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto.
Menurutnya, kebijakan ini justru bertentangan dengan komitmen pemerintah untuk mencapai swasembada pangan, yang sering digembar-gemborkan. Darmadi mempertanyakan konsistensi pemerintah dalam kebijakan pangan, yang sering kali berubah-ubah tanpa landasan yang jelas.
“Pemerintah harus konsisten intinya. Kalau belum pasti atau matang, jangan buat statement atau janji,” ujar Darmadi kepada wartawan, Selasa, (4/3/2025).
Meski mengkritik langkah tersebut, Darmadi mengaku memaklumi bila kebijakan impor dilakukan dalam situasi yang benar-benar mendesak dan didukung data yang valid. “Kalau terpaksa impor, tapi untuk kesejahteraan rakyat, kami setuju. Tapi buat perencanaan yang matang, supaya jangan banyak janji. Kalau janji-janji tidak terpenuhi kan membuat integritas Pemerintah bisa terdilusi,” tegasnya.
Darmadi pun kembali menyoroti ketidakkonsistenan kebijakan pemerintah, yang dinilai bisa menjauhkan cita-cita swasembada pangan dari kenyataan. “Pada akhirnya cita-cita swasembada pangan hanya sekedar ilusi belaka, jika setiap kebijakan kerap diubah-ubah tanpa basis kajian yang memadai,” sindirnya.
Kritik yang dilontarkan Darmadi semakin tajam ketika membahas soal impor gula. Menurutnya, pemerintah tampak tidak memiliki data yang akurat terkait kebutuhan dan kapasitas produksi gula dalam negeri.
“Impor harusnya jadi opsi terakhir, itupun dengan syarat bahwa kebutuhan gula dalam negeri memang tidak bisa dipenuhi oleh industri lokal. Tapi, pertanyaannya apakah benar industri lokal kita tak sanggup penuhi kebutuhan dalam negeri?” ujar Darmadi, mempertanyakan keputusan tersebut.
Darmadi juga menegaskan agar pemerintah tidak hanya sibuk dengan pencitraan politik semata. “Periode sebelumnya publik sudah overload atau bosan dicekoki narasi-narasi penuh janji-janji kosong. Mestinya pemerintah sekarang tidak meniru model sebelumnya yang hanya pandai beretorika, tapi tidak pernah konsisten dalam mengimplementasikan janjinya,” tambahnya.
Terakhir, Darmadi mengingatkan bahwa jika impor gula terus dilakukan, industri gula lokal bisa terancam gulung tikar.
“Ketimbang sibuk dengan impor, mestinya pemerintah fokus membenahi industri gula kita dari hulu ke hilir, yang selama ini banyak problem—seperti supply chain, monopoli kelompok tertentu, dan para petani tebu yang belum sejahtera,” pungkasnya. ***
Penulis : lazir
Editor : ameri













