GORONTALO – Upaya mewujudkan swasembada pangan nasional tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan pemerintah. Di balik ketahanan pangan yang terjaga, ada peran besar petani dan nelayan yang setiap hari memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap tersedia.
Komitmen untuk terus mendampingi para pelaku pangan tersebut kembali ditegaskan Perum BULOG dalam Temu Wicara Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo. Kegiatan yang dihadiri lebih dari 370 petani dan nelayan dari berbagai daerah di Indonesia itu menjadi ruang dialog sekaligus penguatan kolaborasi antara pemerintah dan pelaku pangan di lapangan.
Dalam forum tersebut, Direktur Utama Perum BULOG, Letjen TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani, S.Sos., S.H., M.Han., menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan merupakan hasil kerja keras para petani, nelayan, dan seluruh pelaku sektor pangan di berbagai wilayah.
Menurutnya, BULOG akan terus memperkuat perannya sebagai stabilisator pangan nasional sekaligus mitra strategis petani untuk memastikan hasil produksi terserap dengan harga yang layak dan menguntungkan.
“Petani dan nelayan adalah pahlawan pangan bangsa. Perannya sangat besar dalam menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat Indonesia. Karena itu, bagi Perum BULOG, ketahanan pangan tidak hanya bicara soal stok, tetapi juga tentang keberpihakan kepada para pelaku pangan di lapangan. Perum BULOG akan terus hadir sebagai mitra strategis, mulai dari penyerapan hasil panen, penguatan cadangan pangan, hingga stabilisasi pasokan dan harga,” kata Ahmad Rizal Ramdhani, Senin (22/6/2026)
Sebagai bentuk nyata dukungan kepada petani, BULOG terus mengoptimalkan penyerapan hasil panen, khususnya Gabah Kering Panen (GKP), sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram.
Hingga 19 Juni 2026, realisasi pengadaan beras BULOG telah mencapai 3.151.332 ton atau sekitar 78,55 persen dari target pengadaan tahun 2026 yang diproyeksikan mendekati 4 juta ton.
Tidak hanya fokus pada pengadaan, BULOG juga menjalankan fungsi stabilisasi di tingkat hilir melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta penyaluran Bantuan Pangan. Saat ini, stok beras yang dikelola BULOG mencapai 5,19 juta ton, menjadi modal strategis dalam menjaga ketersediaan dan keterjangkauan pangan nasional.
Melalui program SPHP, BULOG telah menyalurkan lebih dari 357 ribu ton beras ke berbagai saluran distribusi, mulai dari pasar rakyat, ritel modern, Gerakan Pangan Murah, hingga jaringan Rumah Pangan Kita.
Rizal menambahkan, keberhasilan swasembada pangan harus dijaga melalui kolaborasi yang berkelanjutan antara pemerintah, BUMN pangan, petani, dan nelayan. Menurutnya, petani dan nelayan bukan sekadar penerima manfaat kebijakan, melainkan aktor utama yang menentukan keberlanjutan sistem pangan nasional.
Karena itu, Temu Wicara PENAS Petani Nelayan XVII Tahun 2026 dinilai menjadi momentum penting untuk menyerap aspirasi, memperkuat jejaring kerja sama, serta memastikan kebijakan pangan semakin sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha pangan di lapangan.
Melalui keikutsertaannya dalam forum nasional tersebut, Perum BULOG kembali menegaskan komitmennya sebagai bagian dari upaya besar pemerintah menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas pangan nasional, sekaligus memperkuat keberpihakan kepada petani, nelayan, dan seluruh pelaku pangan Indonesia.
Penulis : lazir
Editor : ameri












