MALUKU – Perjalanan saya kali ini membawa langkah ke Kota Ambon, yang akrab dijuluki Ambon Manise. Seperti biasa, dalam setiap perjalanan, saya selalu mencari kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal. Momen sederhana namun berkesan terjadi saat saya menyapa seorang anak kecil yang berjualan singkong dan papeda di dekat tukang cukur asal Madura.
“Beta pu nama sapa?” tanya saya dengan senyum ramah.
“Jackson!” jawabnya penuh percaya diri.
“Masih sekolah, ka?” lanjut saya penasaran.
“Iya, kelas lima, sebentar lagi naik kelas enam,” sahutnya.
Saya pun bertanya lagi, “Pu bapa kerja apa?”
“Pu bapa kerja tukang ojek, mama kerja di bos pu rumah,” jawab Jackson mantap tanpa ragu.
Percakapan singkat itu memberi kesan mendalam. Saya semakin yakin bahwa masyarakat Ambon adalah orang-orang yang ramah, hangat, dan terbuka kepada siapa saja. Hal serupa saya rasakan saat berbincang dengan Antonio, seorang tukang ojek pangkalan di depan hotel tempat saya menginap. Dengan senyum bersahaja, ia menawarkan jasa ojek untuk mengantar saya berkeliling Kota Ambon dengan tarif seikhlasnya. “Biar seikhlasnya saja, Pak, yang penting beta bisa bantu,” katanya. Meski begitu, saya tetap membayarnya sesuai tarif yang pantas, karena kerja keras tetap harus dihargai.
Menyusuri Jejak Sejarah di Ambon
Sebelum menjelajahi kota ini, saya sempat melakukan riset kecil-kecilan lewat internet. Salah satu tujuan pertama saya adalah Gong Perdamaian Dunia. Monumen ini berdiri sebagai simbol perdamaian setelah tragedi kelam yang melanda Kota Ambon pada tahun 1999. Konflik antar kelompok yang dipicu oleh kesalahpahaman dan maraknya berita hoaks kala itu berlangsung hingga tahun 2002, menorehkan luka mendalam di hati masyarakat.
“Dulu Ambon sempat gelap karena perpecahan, tapi sekarang beta bersyukur, kota ini kembali terang dengan damai,” ungkap Antonio sambil melirik Gong Perdamaian.
Monumen ini bukan sekadar simbol, melainkan wujud nyata kesadaran masyarakat Ambon akan pentingnya hidup rukun. Tragedi itu menjadi pelajaran berharga bahwa hoaks dan adu domba bisa membawa dampak yang sangat fatal, baik di dunia nyata maupun di jagat maya.
Pesona Alam dan Sejarah di Setiap Sudut Kota
Selain Gong Perdamaian Dunia, banyak destinasi menarik yang wajib dikunjungi di Ambon. Ada Patung Pahlawan Pattimura dan Martha Christina Tiahahu, dua pahlawan besar Maluku yang menjadi simbol perjuangan melawan penjajahan. Saya juga menyusuri jejak sejarah di Benteng Duurstede dan Benteng Victoria, peninggalan Portugis dari abad ke-17 yang masih kokoh berdiri hingga kini.
Tak ketinggalan, saya menikmati keindahan Jembatan Merah Putih (JMP), jembatan terpanjang di Indonesia Timur yang membentang megah sejauh 1.140 meter di atas Teluk Ambon. Pemandangan di atas jembatan ini sungguh menakjubkan, apalagi saat senja, ketika langit berwarna jingga keemasan memantul di permukaan air.
Ragam Budaya yang Memikat Hati
Ambon tidak hanya memikat lewat keindahan alam dan sejarahnya, tapi juga kekayaan budayanya. Bahasa daerah, tarian tradisional, serta ragam kuliner khas seperti papeda, sagu, dan ikan bakar rica membuat pengalaman saya semakin lengkap.
Saya teringat slogan yang sering terdengar di Ambon, “Ale Punya, Beta Punya. Ale Angkat, Beta Angkat.” Sebuah ungkapan sederhana yang mencerminkan filosofi hidup masyarakat Ambon—tentang solidaritas, persaudaraan, dan gotong royong.
Jackson, Antonio, dan Nicolaus adalah orang yang saya temui di sepanjang perjalanan ini, telah mengajarkan saya tentang makna kebhinekaan yang sesungguhnya. Mereka adalah potret kecil dari Indonesia yang besar, negara dengan ribuan pulau, beragam suku, bahasa, dan budaya, namun tetap satu dalam harmoni.
Kelak, saya ingin kembali menulis tentang jejak Nusantara, Indonesia yang kaya, penuh warna, sejarah yang penuh hikmah dan kebijaksanaan tertuang di dalamnya. (Rahmat Kurnia Lubis)
Penulis : Rahmat Kurnia Lubis
Editor : Rahmat Kurnia Lubis













