RENTAK.ID – Pengamat politik dari lembaga Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah mengungkapkan, bahwa Media Center Indonesia Maju dapat dimanfaatkan untuk kepentingan politik koalisi Indonesia Maju.
Dalam Pilpres 2024 mendatang, Bahlil Lahadalia juga didukung oleh Gibran, meskipun ia tidak mengakui bahwa media centre ini ditujukan untuk Capres dari koalisi Prabowo.
Dalam wawancaranya pada Selasa (5/12/2023), Dedi mengatakan, “Jika Media Centre ini tidak terkait dengan Pilpres dan hanya untuk informasi umum terkait pemerintah, maka Bahlil sudah melebihi kewenangannya secara resmi, seperti kewenangan Menkominfo, KSP, dan bahkan para pekerja di Humas di semua lembaga pemerintah.”
Dedi menegaskan bahwa kekacauan yang diakibatkan oleh Bahlil jelas mendapat restu dari para penguasa dan ini menambah panjang daftar keterlibatan elit pemerintah dalam intervensi Pilpres. Dedi juga menambahkan, “Bahlil seharusnya lebih bersikap ksatria, ia harus mundur dari posisi Menteri dan fokus menjadi tim sukses Prabowo.”
Sebelumnya, Ahmad Sahroni, Bendahara Umum NasDem, memberikan tanggapannya mengenai diresmikannya Media Center Indonesia Maju. Menurutnya, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia hadir langsung dalam peresmian media center ini.
Ketika diminta tanggapannya, Ahmad Sahroni menyatakan, “Saya tidak paham kenapa Pemerintah harus mendirikan media center terlebih menjelang hari pencoblosan pada 14 Februari 2024. Apa yang terkait dengannya? Apakah ada masalah berat yang harus diatasi sehingga media center diputuskan harus didirikan?” ujarnya dengan nada tawa.
Wakil Ketua Komisi III DPR RI ini menyoroti masalah pengaduan masyarakat yang sedang marak di media sosial. Menurutnya, pemerintah masih terlambat dalam melayani masyarakat.
“Pengaduan masyarakat yang dilakukan secara sistemik melalui media sosial saja belum mendapat respons yang cepat dari pemerintah,” ucap Sahroni.
Sahroni menekankan, “Media Center sebaiknya diurus oleh Kominfo yang lebih tepat dan kompeten dalam mengelolanya.” ***













