JAKARTA – Harga emas kembali menemukan pijakannya setelah sempat tertekan hingga menyentuh level terendah hampir satu bulan. Pada perdagangan Rabu (2/9/2026), harga emas dunia menguat lebih dari 1% seiring pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).
Penguatan harga emas terjadi ketika pelaku pasar mulai mengalihkan perhatian pada data ketenagakerjaan AS yang akan menjadi salah satu penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Mengutip CNBC, Kamis (3/9/2026), harga emas spot naik 1,1% menjadi US$4.373,87 per ons. Sebelumnya, harga emas sempat turun ke level US$4.373,87 per ons, yang menjadi posisi terendah sejak 7 Agustus 2026.
Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman Desember naik 0,6% menjadi US$4.423,90 per ons.
Pada perdagangan Kamis pagi, harga emas spot masih melanjutkan penguatan. Harga tercatat berada di sekitar US$4.388,21 per ons, naik 6,53 poin atau 0,15%.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan penurunan imbal hasil Treasury AS menjadi salah satu faktor yang membantu emas bangkit dari tekanan.
“Salah satu alasan mengapa harga emas mampu kembali naik adalah karena kita melihat sedikit penurunan imbal hasil obligasi hari ini. Hal itu memungkinkan harga emas memantul dari beberapa titik terendah baru-baru ini,” kata Meger.
Menurut dia, pergerakan imbal hasil obligasi dan sektor energi masih akan menjadi perhatian utama pasar emas dalam beberapa waktu ke depan.
“Kompleks energi dan imbal hasil tetap menjadi fokus utama pasar emas ke depannya,” ujarnya.
Investor Menunggu Data Tenaga Kerja AS
Pergerakan emas juga tidak lepas dari ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam hampir tiga tahun, sebelum akhirnya kembali turun.
Pada saat yang sama, dolar AS melemah dari level tertinggi hampir tiga minggu. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi emas untuk kembali menguat.
Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang tidak semata-mata dipicu kekhawatiran terhadap inflasi.
Menurutnya, kenaikan tersebut justru mencerminkan kondisi perekonomian AS yang masih solid.
Sementara itu, data pertumbuhan penggajian swasta AS pada Agustus tercatat di bawah ekspektasi pasar. Namun, data tersebut belum mampu menjadi penggerak utama harga emas karena investor masih menunggu laporan nonfarm payrolls (NFP) yang dijadwalkan dirilis Jumat.
Kepala Analisis Pasar StoneX, Rhona O’Connell, mengatakan data ketenagakerjaan swasta tidak selalu bisa dijadikan patokan utama.
“Data ketenagakerjaan tidak dapat diandalkan dan mungkin memberikan gambaran awal mengenai nonfarm payrolls, tetapi data nonfarm payrolls jauh lebih penting bagi pasar,” kata O’Connell.
Pasar saat ini memperkirakan peluang penurunan suku bunga The Fed sebesar 64% pada pertemuan kebijakan bulan ini berdasarkan CME FedWatch.
Jika data tenaga kerja menunjukkan pelemahan ekonomi AS, ekspektasi pemangkasan suku bunga berpotensi semakin menguat. Kondisi tersebut biasanya menjadi katalis positif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.
Bank Sentral Belanda Pindahkan 86 Ton Emas
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap emas sebagai aset lindung nilai, bank sentral Belanda mengungkapkan telah memindahkan 86 metrik ton emas dari New York dan Ottawa ke London selama enam bulan terakhir.
Pemindahan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemudahan perdagangan emas sekaligus memperkuat kesiapan menghadapi kemungkinan kondisi krisis.
Pergerakan positif juga terjadi pada sejumlah logam mulia lainnya.
Harga perak spot naik sekitar 1,6%–1,8% menjadi US$65,2858 per ons. Platinum menguat hingga US$1.771,52 per ons, sedangkan palladium naik 2,4% menjadi US$1.342,50 per ons.
Harga Emas Antam Naik Tipis
Penguatan harga emas global turut menjadi perhatian pasar emas domestik. Harga emas batangan Antam pada Kamis (3/9/2026) tercatat naik tipis menjadi sekitar Rp2,402 juta per gram.
Harga tersebut meningkat dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang berada di kisaran Rp2,4 juta per gram.
Sementara harga buyback atau pembelian kembali emas Antam tercatat sekitar Rp2,664 juta per gram berdasarkan data yang digunakan dalam bahan ini.
Rincian harga emas Antam yang tercantum untuk perdagangan 3 September 2026 antara lain:
Berat Harga Jual
0,5 gram Rp1.201.000
1 gram Rp2.402.000
5 gram Rp11.900.000
10 gram Rp23.700.000
1.000 gram Rp2.400.532.000
Pergerakan harga emas domestik tetap dipengaruhi oleh harga emas dunia, nilai tukar rupiah, kondisi pasar keuangan serta kebijakan perpajakan atas transaksi emas.
Bagi investor, kenaikan harga emas kembali menunjukkan bahwa logam mulia masih menjadi salah satu instrumen yang banyak diperhatikan ketika pasar menghadapi ketidakpastian.
Namun, pergerakan harga emas dalam jangka pendek tetap sangat bergantung pada arah dolar AS, imbal hasil obligasi Treasury, data ekonomi AS, serta keputusan The Fed.
Dengan data NFP yang segera dirilis, pasar emas kini menghadapi satu penentu penting. Jika data tenaga kerja AS memperlihatkan tanda-tanda pelemahan, ekspektasi pemangkasan suku bunga bisa kembali meningkat dan berpotensi memberikan tenaga tambahan bagi harga emas.
Penulis : dafri jh
Editor : guntar












