JAKARTA – Harga emas kembali menjadi sorotan pada perdagangan Sabtu (22/8/2026). Di dalam negeri, harga emas Antam kembali menguat setelah sempat terkoreksi pada pertengahan pekan. Sementara itu, harga emas di pasar global melesat hingga menembus level US$4.600 per ounce.
Pergerakan tersebut membuat pasar emas semakin menarik dicermati, terutama setelah harga logam mulia dunia mencatat kenaikan mingguan selama tiga pekan berturut-turut.
Di Pegadaian, harga emas batangan yang tersedia melalui Galeri 24 bergerak beragam. Emas Galeri 24 ukuran 1 gram dipatok Rp2.699.000, naik tipis Rp1.000 dari perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp2.698.000.
Sementara emas Antam ukuran 1 gram di Galeri 24 dijual Rp2.766.000 atau masih sama seperti harga sehari sebelumnya.
Berbeda dengan dua produk tersebut, emas UBS ukuran 1 gram justru turun Rp4.000 menjadi Rp2.768.000 dari sebelumnya Rp2.772.000.
Adapun Antam Mulia Retro ukuran 1 gram dibanderol Rp2.740.000. Harga ini melemah Rp4.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya yang mencapai Rp2.744.000.
Harga Emas Antam Kembali Naik
Di butik resmi Logam Mulia, harga emas Antam ukuran 1 gram pada Sabtu kembali naik Rp15.000 menjadi Rp2.740.000 per gram. Sehari sebelumnya, harga berada di level Rp2.725.000.
Kenaikan tersebut memperpanjang penguatan emas Antam setelah sebelumnya mengalami lonjakan cukup besar pada Kamis (20/8/2026).
Pada perdagangan Kamis, harga emas Antam melonjak Rp80.000 per gram, dari Rp2.645.000 menjadi Rp2.725.000.
Sebelumnya, harga emas sempat terkoreksi pada Rabu (19/8/2026), turun Rp50.000 dari Rp2.695.000 menjadi Rp2.645.000 per gram.
Sehari sebelumnya, Selasa (18/8/2026), harga emas Antam masih menguat Rp18.000 menjadi Rp2.695.000 per gram.
Dengan kenaikan terbaru, harga emas Antam kembali berada di atas level psikologis Rp2,7 juta per gram.
Harga buyback emas Antam pada Sabtu juga tercatat naik Rp15.000 menjadi Rp2.600.000 per gram.
Berikut harga emas Antam berdasarkan pecahan pada Sabtu (22/8/2026):
0,5 gram: Rp1.420.000
1 gram: Rp2.740.000
2 gram: Rp5.430.000
3 gram: Rp8.127.000
5 gram: Rp13.515.000
10 gram: Rp26.950.000
25 gram: Rp67.210.000
50 gram: Rp134.225.000
100 gram: Rp266.712.000
250 gram: Rp670.560.000
500 gram: Rp1.340.900.000
1.000 gram: Rp2.680.600.000
Emas Dunia Tembus US$4.600
Penguatan emas domestik tidak lepas dari pergerakan pasar global. Harga emas dunia melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan pada Jumat (21/8/2026) atau Sabtu waktu Jakarta.
Mengutip CNBC, harga emas spot naik 2,3 persen menjadi US$4.619,57 per ounce. Sementara emas berjangka AS melesat 2,4 persen ke US$4.680,60 per ounce.
Dalam sepekan, harga emas dunia telah melonjak sekitar 5 persen. Kenaikan tersebut sekaligus membawa emas menuju penguatan mingguan selama tiga pekan berturut-turut.
Penguatan emas juga terjadi setelah logam mulia tersebut berhasil menembus rata-rata pergerakan 200 hari di sekitar US$4.513 per ounce. Dalam analisis teknikal, kondisi tersebut menjadi sinyal bullish yang menunjukkan momentum penguatan masih terbuka.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menilai faktor teknikal menjadi salah satu pendorong utama reli emas.
“Faktor besarnya, tentu saja, adalah teknikal. Langkah selanjutnya adalah menuju US$4.700 jika momentum ini berlanjut,” kata Melek.
Ia menambahkan, pelemahan dolar AS turut memberikan tenaga tambahan bagi kenaikan harga emas.
Dolar AS Tertekan, Prospek Emas Makin Menarik
Dolar AS tertahan di dekat level terendah sejak pertengahan Mei. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi emas untuk kembali menguat karena logam mulia biasanya bergerak berlawanan dengan mata uang AS.
Sentimen pasar juga dipengaruhi kebijakan Departemen Keuangan AS terkait program pembelian kembali atau buyback obligasi.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya menyatakan pemerintah dapat memperluas program buyback obligasi. Departemen Keuangan AS juga telah mengumumkan rencana meningkatkan pembelian kembali obligasi jangka panjang.
Di sisi lain, pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga AS. The Fed mempertahankan suku bunga pada Juli, sementara sejumlah data ekonomi AS yang melemah kembali meningkatkan spekulasi mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.
Goldman Sachs menilai kondisi tersebut turut menghidupkan kembali minat spekulatif terhadap emas, termasuk melalui pasar COMEX dan produk ETF berbasis emas.
“Permintaan opsi beli emas melonjak tajam di tengah tingginya kembali permintaan atas perlindungan kebijakan makro global,” demikian catatan riset Goldman Sachs.
Dari pasar fisik, kenaikan harga emas yang cukup cepat mulai menahan minat pembeli ritel di India. Namun, permintaan dari China sebagai salah satu konsumen emas terbesar dunia masih relatif stabil.
Data lainnya menunjukkan bank sentral Polandia memperlambat pembelian emas menjadi 7,8 ton pada Juli.
Pergerakan emas global yang semakin kuat tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat harga emas di dalam negeri kembali menarik perhatian. Bagi investor, kenaikan harga ini sekaligus menunjukkan bahwa emas masih menjadi aset yang sensitif terhadap perubahan dolar AS, ekspektasi suku bunga, dan ketidakpastian kebijakan ekonomi global.
Penulis : lazir
Editor : ameri






