BEKASI – Upaya memperkuat sistem keamanan pangan di kawasan Asia Tenggara terus didorong Badan Karantina Indonesia (Barantin) melalui penguatan kapasitas laboratorium dan kolaborasi internasional. Salah satunya diwujudkan lewat penyelenggaraan Food Safety Laboratory Management Workshop yang menjadi bagian dari program CanSafe Project – Phase 1.
Kegiatan ini dinilai sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pengujian laboratorium sekaligus mempererat kerja sama antarnegara anggota ASEAN dalam menghadapi tantangan keamanan pangan global.
BEKASI – Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat M. Panggabean, menegaskan bahwa workshop tersebut merupakan tindak lanjut dari kemitraan antara ASEAN dan Kanada dalam kerangka Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), khususnya pada aspek Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS).
“Keamanan pangan menjadi isu strategis di kawasan ASEAN, baik dalam perdagangan intra-regional maupun dalam pemenuhan kebutuhan pangan dari luar kawasan. Tantangan global seperti cemaran pangan, termasuk antimicrobial resistance (AMR), memerlukan penguatan sistem pengujian laboratorium yang andal dan terstandar,” ujar Sahat, Senin (20/4/2026).
Ia menjelaskan, kerja sama ini menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi yang tetap mengedepankan perlindungan kesehatan manusia, hewan, ikan, tumbuhan, serta kelestarian lingkungan.
Sementara itu, Executive Director Indo-Pacific Agriculture and Agrofood, Diedrah Kelly, menyoroti pentingnya kolaborasi lintas negara dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan pangan yang semakin kompleks.
Hal senada disampaikan Agricultural Counsellor Kedutaan Besar Kanada untuk Indonesia, Jasmine Lebelle, yang mengapresiasi peran aktif Indonesia sebagai tuan rumah kegiatan tersebut.
“Kanada bangga dapat bermitra dengan ASEAN, termasuk Indonesia, dalam memperkuat sistem keamanan pangan. Melalui inisiatif seperti CanSafe Project, kami mendorong pertukaran keahlian dan praktik terbaik guna memastikan sistem laboratorium yang kuat, transparan, dan berbasis standar internasional,” kata Lebelle.
Workshop yang berlangsung hingga Kamis (23/4) ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perwakilan Pemerintah Kanada, Canadian Food Inspection Agency (CFIA), Indo-Pacific Agriculture and Agri-Food Office (IPAAO), Centre for Agriculture and Bioscience International (CABI), Sekretariat ASEAN, hingga delegasi dari seluruh negara anggota ASEAN.
Melalui forum ini, para peserta diharapkan dapat saling bertukar pengetahuan dan pengalaman dalam pengelolaan laboratorium keamanan pangan, termasuk penerapan standar internasional serta peningkatan kompetensi analis laboratorium.
Sahat menekankan bahwa laboratorium keamanan pangan memiliki peran vital dalam memastikan kebijakan berbasis data ilmiah yang akurat, dapat ditelusuri, serta memenuhi standar kualitas yang terjamin.
“Penguatan kapasitas manajemen laboratorium, penerapan standar internasional, serta peningkatan kompetensi analis menjadi kunci dalam membangun sistem keamanan pangan yang tangguh,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan ini, termasuk Sekretariat ASEAN, Pemerintah Kanada, IPAAO, CFIA, CABI, serta seluruh panitia dan mitra kerja.
Ke depan, Barantin membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di bidang biosekuriti guna memperkuat sistem keamanan pangan yang berkelanjutan di kawasan.
“Barantin terbuka terhadap kerja sama ilmiah di bidang biosekuriti di masa depan guna mendukung sistem keamanan pangan yang berkelanjutan,” pungkas Sahat.
Penulis : lazir
Editor : ameri













