Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja, Salah Satu Sumber Kemiskinan

- Penulis

Selasa, 24 Februari 2026 - 08:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengawas Ketenagakerjaan Ahli Madya, Sunardi Manampiar Sinaga. (dok. rentak.id)

Pengawas Ketenagakerjaan Ahli Madya, Sunardi Manampiar Sinaga. (dok. rentak.id)

JAKARTA – Tingginya angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja di Indonesia menjadi momok yang menakutkan bagi pekerja dan keluarganya.

Hal itu disampaikan Pengawas Ketenagakerjaan Ahli Madya, Sunardi Manampiar Sinaga, Senin (23/2/2026).

Berdasarkan data 2024, tercatat lebih dari 356 ribu kasus kecelakaan kerja. Memasuki awal 2025, angka tersebut kembali menunjukkan tren tinggi dengan sekitar 47.300 kasus.

“Data ini menunjukkan masih rendahnya kepatuhan terhadap standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Jika kepatuhan rendah, maka risiko kecelakaan meningkat dan otomatis nilai klaim Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) juga akan terus naik,” ujar Sunardi.

Ia menegaskan fenomena ini tidak boleh dianggap remeh. “Perlu perhatian serius mulai dari tahap perencanaan, mitigasi risiko, upaya pencegahan, hingga penanganan pertama saat kecelakaan kerja terjadi,” katanya.

Menurut Sunardi, kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja disebabkan berbagai faktor, terutama faktor individu pekerja dan tanggung jawab perusahaan.

“Pekerja harus mampu mempersiapkan diri menghadapi risiko K3, mulai dari memahami SOP, memprediksi potensi bahaya, hingga memastikan kesiapan Alat Pelindung Diri. Prinsipnya, pekerja wajib memahami Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan (ATHG) K3 agar mampu menghindari atau meminimalkan risiko,” jelasnya.

Di sisi lain, perusahaan memiliki peran yang tidak kalah penting. “Perusahaan wajib menyiapkan infrastruktur, sarana, dan sistem mitigasi K3. Tidak boleh ada pekerja yang dipekerjakan tanpa perlindungan keselamatan. Jika hal ini diabaikan, maka perusahaan telah melanggar hak asasi manusia dan dapat dituntut secara hukum,” tegas Sunardi.

Ia juga menyoroti dampak sosial yang luas dari kecelakaan kerja. “Harus dicatat, kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat menjadi salah satu sumber kemiskinan. Bayangkan jika yang menjadi korban adalah tulang punggung keluarga dan tidak bisa bekerja kembali. Keluarganya akan kehilangan sumber penghasilan dan berisiko jatuh ke jurang kemiskinan. Pada akhirnya, persoalan ini akan kembali menjadi tanggung jawab negara sebagai penanggung jawab terakhir masalah sosial,” ungkapnya.

Dalam konteks tersebut, pemerintah diminta bersikap tegas. “Pemerintah sebagai regulator harus menindak perusahaan yang abai terhadap K3, karena keselamatan kerja adalah hak dasar setiap pekerja,” katanya.

Sunardi juga menegaskan pekerja memiliki hak menolak pekerjaan berisiko tinggi jika tidak dilengkapi SOP dan alat pelindung diri. “Pekerja tidak boleh dipaksa bekerja dalam kondisi berbahaya tanpa perlindungan. Misalnya, pekerjaan di ruang terbatas seperti terowongan atau sumur wajib dilengkapi APD dan suplai oksigen. Tanpa itu, risiko keracunan gas dan kekurangan oksigen sangat tinggi,” jelasnya.

Ia menambahkan sektor konstruksi, manufaktur, logistik, dan transportasi termasuk bidang dengan risiko kecelakaan kerja tinggi yang membutuhkan pengawasan ketat.

Untuk menekan angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, diperlukan kolaborasi semua pihak.

“Pemerintah, perusahaan, dan pekerja harus memiliki kesadaran dan tanggung jawab bersama. Keselamatan dan kesehatan kerja bukan sekadar kewajiban, melainkan investasi utama. Pekerja yang sehat dan selamat akan meningkatkan produktivitas, memperkuat perusahaan, menyejahterakan pekerja, dan pada akhirnya memajukan bangsa,” pungkas Sunardi.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Sugiono Temukan Akar Masalah Stunting di Subang, MBG Saja Tak Cukup
Kementerian PU Buka Pendaftaran P3-TGAI 2027, Siapkan Rp2,99 Triliun untuk 13.296 Lokasi
Tak Cukup Bermodal Bakat, 100 Pekerja Musik Difasilitasi Sertifikasi oleh Kemnaker
Sawit Terancam Tak Produktif Usai Penertiban Hutan, Tamsil Soroti Nasib Petani
Sampah Desa Bisa Jadi Energi, Mendes Yandri Bidik 75.266 Desa
90 Peserta Ikuti InaSkills 2026, Wamenaker: Kompetensi Jadi Kunci Hadapi Dunia Kerja
Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo Hampir Rampung, Kementerian PU Siapkan Asrama 5 Lantai dan Masjid 4 Lantai
Indrajaya Sentil Kebijakan Pusat: Jangan Cuma Bagus di Atas Kertas, Rakyat Harus Merasakan Dampaknya

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 08:53 WIB

Sugiono Temukan Akar Masalah Stunting di Subang, MBG Saja Tak Cukup

Minggu, 1 November 2026 - 14:41 WIB

Kementerian PU Buka Pendaftaran P3-TGAI 2027, Siapkan Rp2,99 Triliun untuk 13.296 Lokasi

Minggu, 1 November 2026 - 09:16 WIB

Tak Cukup Bermodal Bakat, 100 Pekerja Musik Difasilitasi Sertifikasi oleh Kemnaker

Minggu, 1 November 2026 - 08:43 WIB

Sawit Terancam Tak Produktif Usai Penertiban Hutan, Tamsil Soroti Nasib Petani

Minggu, 1 November 2026 - 08:32 WIB

Sampah Desa Bisa Jadi Energi, Mendes Yandri Bidik 75.266 Desa

Berita Terbaru