Menatap Sunyi yang Retak: Ulasan atas Kumpulan Cerpen “Jangan Tatap Mataku”

- Penulis

Sabtu, 10 Januari 2026 - 09:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kumpulan Cerpen Jangan Tatap Mataku. (foto. ist)

Kumpulan Cerpen Jangan Tatap Mataku. (foto. ist)

JAKARTA – Ada buku yang menyapa pembaca dengan gemuruh peristiwa, ada pula yang hadir seperti desir angin—pelan, nyaris tak terdengar, namun menetap lama di ingatan. Jangan Tatap Mataku, kumpulan cerpen terbaru karya Marina Novianti, termasuk dalam jenis yang kedua. Buku ini bukan sekadar bacaan, melainkan pengalaman: perjalanan sunyi menelusuri batin manusia yang rapuh, terasing, dan penuh retakan perasaan.

Rencananya, buku ini akan diluncurkan pada akhir Maret 2026 di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Sebuah perayaan sastra yang patut ditunggu, sebab cerpen-cerpen Marina menawarkan sesuatu yang kian langka di tengah hiruk-pikuk dunia: keheningan yang bermakna.

Dalam cerpen-cerpennya, Marina tidak mengandalkan ledakan konflik atau kejutan dramatis. Ia justru memilih peristiwa-peristiwa kecil dalam kehidupan sehari-hari—percakapan yang terputus, ingatan yang terpendam, tatapan yang tak berani dibalas—sebagai pintu masuk menuju persoalan eksistensial yang dalam. Dunia yang ia bangun adalah dunia yang sunyi, seolah-olah setiap tokohnya hidup dalam ruang batin yang sempit, penuh bayangan masa lalu.

Tokoh-tokoh Marina kerap hadir dari wilayah pinggiran: perempuan yang terhimpit tradisi, manusia yang terasing dalam keluarganya sendiri, atau individu yang kehilangan makna dalam relasi sosial yang kaku. Namun, mereka tidak diposisikan sebagai objek belas kasihan.

Marina menjaga jarak naratif yang tenang. Ia mengajak pembaca mengamati, bukan menghakimi. Dari sikap inilah muncul kesan dingin yang khas, tetapi justru membuat cerpen-cerpennya terasa jujur dan menggugah renungan.

Kekuatan utama Marina Novianti terletak pada pengolahan bahasa. Kalimat-kalimatnya ekonomis, bersih, dan terukur. Ia menulis seperti menggoreskan pisau tipis: tidak langsung melukai, tetapi meninggalkan perih yang lama terasa. Emosi jarang diungkapkan secara eksplisit. Ia hadir lewat gerak tubuh kecil, benda-benda sepele, atau dialog yang terpotong. Teknik ini membuat cerpen-cerpennya sugestif, membuka ruang tafsir yang luas, dan memberi kebebasan pembaca untuk menafsirkan luka tokohnya dengan pengalaman masing-masing.

Tema kemanusiaan menjadi benang merah dalam buku ini. Marina berbicara tentang tubuh, ingatan, kehilangan, dan waktu dengan sudut pandang yang personal sekaligus sosial. Dalam beberapa cerpen, tampak kritik halus terhadap struktur budaya dan kuasa patriarki. Namun, kritik itu tidak pernah hadir sebagai slogan. Ia ditampilkan melalui dampaknya pada kehidupan batin tokoh, sehingga terasa lebih manusiawi dan jauh dari kesan menggurui.

Membaca Jangan Tatap Mataku membutuhkan kesabaran. Ini bukan buku yang menawarkan sensasi instan atau klimaks yang menggelegar. Cerpen-cerpennya bekerja perlahan, seperti gema di ruang kosong. Ia menetap dalam pikiran dan sering baru terasa maknanya setelah halaman terakhir ditutup.

Marina Novianti menulis sunyi—dan justru dari sunyi itulah pembaca diajak menatap retakan-retakan kemanusiaan yang sering luput kita perhatikan. Buku ini adalah undangan untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam diri, dan menyadari bahwa di balik hidup yang tampak biasa-biasa saja, selalu ada luka yang diam-diam ingin didengar.

 

PENGANTAR Tubuh yang Menulis, Suara yang Bertahan

Write yourself. Your body must be heard.”
— Hélène Cixous

Kutipan Hélène Cixous di atas barangkali bisa menjadi pintu masuk yang penting bagi kumpulan cerpen ini. Seruan write yourself tidak semata-mata dimaknai sebagai ajakan menulis, melainkan sebagai upaya merebut kembali tubuh dari bahasa yang selama ini menamainya secara sepihak. Dalam cerpen-cerpen ini, tubuh—terutama tubuh perempuan—kerap hadir sebagai objek tatapan, penilaian, dan pengaturan. Menulis menjadi cara untuk mengembalikan tubuh sebagai subjek yang memiliki suara, meski suara itu sering kali muncul dalam bentuk yang rapuh.

Cerpen-cerpen dalam buku ini dapat dibaca sebagai upaya tubuh untuk bersuara, terutama ketika bahasa sosial tidak lagi menyediakan ruang yang aman. Tokoh-tokoh yang hadir di sini tidak selalu memiliki kesempatan untuk berbicara dengan lantang. Karena itu, suara mereka muncul melalui bentuk-bentuk yang beragam, seperti dialog yang terputus, keheningan yang panjang, deskripsi batin yang rinci, hingga peristiwa-peristiwa kecil yang tampak sepele namun penuh makna.

Keragaman suara itu juga tercermin dalam pilihan gaya penulisan yang tidak seragam. Dalam cerpen Dialog di Kota Tua, misalnya, narasi bergerak hampir sepenuhnya melalui percakapan yang rapuh antara subjek dan ruang kota. Tidak ada penjelasan deskriptif mau pun psikologis, yang hadir hanyalah suara, jeda, dan ketidakpastian. Kota tua menjadi tempat di mana bahasa kehilangan pijakan, dan dialog bukan lagi alat untuk mencapai makna, melainkan cara tubuh menegaskan keberadaannya seperti yang termaktub dalam kalimat pertamanya: “Kita menulis maka kita ada.”

Pilihan ekstrem terhadap bentuk dialog ini muncul lebih jauh dalam cerpen Dialog Sepasang Pasien Rumah Sakit Jiwa, di mana penulis nyaris tidak memberikan keterangan apa pun selain percakapan antartokoh. Tidak ada penjelasan latar, tidak ada diagnosis, tidak ada panduan emosi bagi pembaca. Dengan cara ini, pembaca dipaksa memasuki ruang yang tidak stabil, mendengar suara-suara tanpa pegangan otoritatif. Kewarasan dan kegilaan tidak ditentukan oleh narator, melainkan dibiarkan bergetar di antara kalimat-kalimat yang saling bersilang.

Sebaliknya, dalam cerpen Apapun yang Terjadi, penulis mengambil jarak yang berbeda. Cerpen ini ditulis dengan penjelasan batin yang rinci dan sadar, menelusuri perasaan tokoh secara perlahan; ketakutan, kemarahan, kelelahan, dan tekad yang tumbuh di tengah tekanan ekonomi dan moral. Di sini, bahasa tidak ditarik hingga ke titik minimal, tetapi justru dipakai untuk menamai luka dengan jelas. Detail perasaan menjadi penting, karena keputusan tokoh—untuk tetap bekerja dan belajar—lahir dari proses batin yang panjang dan penuh risiko.

Pendekatan naratif yang beragam ini menunjukkan bahwa buku ini tidak tunduk pada satu gaya penulisan tunggal. Dalam Sonata Buta Dameria dan Sepasang Mata di Kamar 310, narasi bergerak melalui sensasi tubuh dan pengalaman ditatap, dengan bahasa yang cenderung menahan diri, memberi ruang bagi pembaca untuk merasakan tekanan tanpa harus selalu dijelaskan.

Dalam cerpen Percakapan dengan Hantu, sosok hantu tidak hadir sebagai sosok horor, melainkan sebagai cermin dialektika yang memungkinkan sang tokoh berbicara jujur tentang kesepian, penerimaan, dan pencarian makna hidup. Dengan mencampurkan observasi keseharian, humor, dan refleksi filosofis tentang waktu, rumah, dan kematian, cerpen ini menolak dramatik konvensional dan memilih keintiman dialog sebagai cara bertahan untuk menegaskan bahwa yang paling menakutkan bukanlah yang gaib, melainkan kemungkinan hidup tanpa pernah benar-benar ditemani.

Senada dengan itu, cerpen Teman menggambarkan kehadiran tikus yang biasa dianggap sebagai ancaman , dalam cerpen ini justru diposisikan sebagai teman. Relasi lintas-spesies ini seolah ingin mengatakan bahwa ketika jiwa manusia terlalu sarat dipenuhi kesepian , kehadiran makhluk lain bisa menawarkan perasaan yang membuat kita tidak merasa sendirian.
Perbedaan-perbedaan gaya ini bukan sekadar variasi teknis, melainkan bagian dari sikap estetik buku ini. Setiap cerpen memilih bentuk yang paling memungkinkan bagi tubuh tokohnya untuk bersuara; kadang dengan berdiam, kadang dengan berbicara terus-menerus, kadang dengan menjelaskan secara rinci, bahkan kadang dengan menolak penjelasan sama sekali.

Kumpulan cerpen ini tidak bermaksud menawarkan jawaban atau penghiburan instan. Ia mengajak pembaca untuk bergerak dari satu bentuk ke bentuk lain, dari dialog yang telanjang hingga narasi batin yang detail, dari keheningan hingga pengakuan. Jika ada satu hal yang ingin ditegaskan, barangkali hanya ini: bahwa tidak ada satu cara tunggal bagi tubuh untuk didengar. Dan menulis, adalah upaya untuk terus mengatakan, dalam kondisi apa pun: aku masih di sini.

Roy Julian

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Jejak Majapahit Dihidupkan Kembali, Menbud Fadli Zon Sulap Candi Jabung Jadi Pusat Ekosistem Budaya
Banyuwangi Art Exhibition 2025 Hadirkan 157 Karya, Lukisan Bupati Ditawar Rp 1 Triliun
Banjir dan Longsor Rusak Situs Budaya, LKKI Minta Pemerintah Bertindak Cepat
Tari Sufi Kian Hidup di Pesantren Indonesia, Perpaduan Dzikir dan Keindahan Gerak
Ketua Teater Imago Medan Tanggapi Aspirasi Kolaborasi dengan TENA: “Kapal Seni Perlu Bahan Bakar, Bukan Sekadar Ide”
Naskah Monolog “Pisang Terakhir”
Kemenag Akhiri Tugas Penyelenggaraan Haji dengan Indeks Kepuasan Jamaah Capai 88,46
Badan Bahasa Dukung Penuh Pertemuan Penyair Nusantara XIII di Jakarta

Berita Terkait

Senin, 26 Januari 2026 - 08:28 WIB

Jejak Majapahit Dihidupkan Kembali, Menbud Fadli Zon Sulap Candi Jabung Jadi Pusat Ekosistem Budaya

Sabtu, 10 Januari 2026 - 09:56 WIB

Menatap Sunyi yang Retak: Ulasan atas Kumpulan Cerpen “Jangan Tatap Mataku”

Senin, 22 Desember 2025 - 07:07 WIB

Banyuwangi Art Exhibition 2025 Hadirkan 157 Karya, Lukisan Bupati Ditawar Rp 1 Triliun

Minggu, 21 Desember 2025 - 10:01 WIB

Banjir dan Longsor Rusak Situs Budaya, LKKI Minta Pemerintah Bertindak Cepat

Rabu, 12 November 2025 - 19:23 WIB

Tari Sufi Kian Hidup di Pesantren Indonesia, Perpaduan Dzikir dan Keindahan Gerak

Berita Terbaru