JAKARTA — Sekretaris Jenderal Lembaga Kajian Kebudayaan Indonesia (LKKI), Gunawan Tarigan, mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan kebudayaan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang terdampak bencana alam.
Menurut Gunawan, rusaknya situs budaya, karya seni, dan manuskrip literasi bukan sekadar kehilangan fisik, melainkan ancaman serius terhadap keberlangsungan peradaban suatu daerah.
“Hancurnya sebuah peradaban selalu diawali dengan hilangnya kebudayaan. Ketika kebudayaan binasa, identitas dan sejarah suatu daerah ikut lenyap,” ujar Gunawan dalam keterangannya, Minggu (21/12/2025).
Gunawan meminta pemerintah, khususnya Kementerian Kebudayaan RI, untuk segera melakukan pendataan menyeluruh terhadap bangunan bersejarah, pusat kebudayaan, manuskrip kuno, serta buku-buku tua yang rusak atau hilang akibat bencana di tiga provinsi tersebut.
Ia menilai selama ini perhatian negara masih terlalu terfokus pada kegiatan seremonial, sementara persoalan di lapangan belum tertangani secara optimal.
“Kementerian tidak boleh hanya berpangku tangan, menggelar lomba, jumpa pers, atau sekadar memberikan penghargaan kepada tokoh seniman. Masyarakat di Aceh, Sumut, dan Sumbar membutuhkan gerakan nyata di lapangan,” tegas aktor yang sempat berlakon dalam Tayangan YouTube (Tayub) Mengejar Bintang ini.
Gunawan juga mengkritik kebiasaan penyelenggaraan seminar dan seremoni di hotel-hotel mewah, sementara kondisi kebudayaan di daerah terdampak justru berada di ambang kehancuran.
“Jangan hanya duduk di ruangan ber-AC. Datanglah ke lapangan, temui para seniman, lihat langsung situs-situs yang hancur, dan selamatkan naskah-naskah kuno yang masih tersisa,” katanya.
Selain pendataan situs budaya, LKKI juga mendorong pemerintah untuk mencatat jumlah budayawan dan pelaku seni yang hilang atau meninggal dunia akibat bencana. Langkah ini dinilai krusial agar proses alih pengetahuan dan regenerasi kebudayaan tetap berjalan.
“Jika sebuah seni atau kebudayaan hanya dikuasai oleh satu orang, itu sangat berbahaya. Ketika orang tersebut hilang, maka lenyap pula kesenian itu,” ujar Gunawan.
Ia menekankan, revitalisasi kebudayaan harus menjadi prioritas sebelum pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk kegiatan lain yang dinilai belum mendesak.
“Sebelum situs budaya, seni, dan peninggalan sejarah direvitalisasi, sebaiknya Kementerian Kebudayaan menahan diri dari kegiatan yang menghamburkan anggaran. Ini soal empati terhadap kebudayaan yang hampir musnah,” katanya.
43 Situs Budaya Terancam
Berdasarkan data LKKI, bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah mengancam sedikitnya 43 situs budaya.
Di Aceh, tercatat 34 situs budaya terdampak, di antaranya Makam Sultan Ma’ruf Syah, Masjid Poteumeureuhom, dan Rumah Adat Toweren.
Di Sumatera Utara, terdapat tujuh situs budaya yang mengalami kerusakan, termasuk Masjid Al-Osmani dan Bagas Godang Sipirok.
Sementara di Sumatera Barat, dua situs budaya terdampak, yakni Rumah Rasuna Said dan jalur kereta bersejarah Sawahlunto–Teluk Bayur.
Gunawan menegaskan, upaya penyelamatan kebudayaan tidak bisa ditunda.
“Ini bukan hanya soal bangunan, tetapi tentang identitas bangsa dan warisan sejarah yang harus dijaga untuk generasi mendatang,” pungkasnya.
Penulis : lazir
Editor : ameri













