Mendikdasmen: Pendidikan Jadi Kunci Membangun Kepercayaan Sosial di Tengah Masyarakat Majemuk

- Penulis

Kamis, 13 November 2025 - 07:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kemendikdasmen bersama Institut Leimena menggelar International Conference on Cross-Cultural Religious Literacy. (dok. kemendikdasmen)

Kemendikdasmen bersama Institut Leimena menggelar International Conference on Cross-Cultural Religious Literacy. (dok. kemendikdasmen)

JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Institut Leimena menggelar International Conference on Cross-Cultural Religious Literacy (ICCCRL) untuk menegaskan peran penting pendidikan dalam memperkuat rasa saling percaya di tengah masyarakat yang multikultural dan multifaith.

Mengusung tema “Education and Social Trust in Multifaith and Multicultural Societies”, konferensi ini menghadirkan para pemangku kepentingan dari dalam dan luar negeri untuk berbagi pengalaman dan gagasan dalam memperkuat kohesi sosial.

Konferensi internasional ini dibuka langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, yang menekankan bahwa kerukunan antaragama dan antarbudaya hanya dapat terwujud jika masyarakat mau membuka hati dan pikiran untuk bekerja sama.

“Kepercayaan ini bisa semakin kita tingkatkan seiring komitmen kita membekali generasi muda agar mereka percaya diri melintas batas sosial dan budaya. Kita perlu memberikan perhatian serius pada generasi muda, karena mereka yang akan memimpin dunia di masa depan,” ujar Abdul Mu’ti di Jakarta, Selasa (11/11).

Abdul Mu’ti menegaskan, Kemendikdasmen tengah memprioritaskan sejumlah langkah strategis untuk membentuk karakter generasi muda yang terbuka dan kolaboratif. Di antaranya melalui pembelajaran mendalam (deep learning) di ruang kelas, program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang mendorong aktivitas sosial dan olahraga, serta penguatan layanan konseling di sekolah dan keluarga agar komunikasi antara orang tua dan anak terjalin sehat.

“Forum ini penting bukan hanya untuk kajian teoritis, tetapi juga membangun gerakan pendidikan di sekolah, keluarga, dan masyarakat agar kehidupan sosial tercipta dalam suasana rukun dan harmonis,” tambahnya.

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menjelaskan bahwa kemampuan berkolaborasi dengan pihak berbeda agama dan keyakinan menjadi kunci tumbuhnya rasa saling percaya dalam masyarakat. Ia mengutip rekomendasi UNESCO tahun 2021 yang menekankan pentingnya pedagogi berbasis kerja sama dan solidaritas di tengah dunia yang semakin terpolarisasi.

“Semoga konferensi ini mendorong kita untuk berbagi pengalaman dan membangun sinergi dalam memperkuat masyarakat majemuk yang inklusif dan kohesif, baik di tingkat nasional, regional ASEAN, maupun global,” ujarnya.

Sementara itu, Christopher Stewart, Chief Grants Officer Templeton Religion Trust, menyoroti kolaborasi Institut Leimena dengan pemerintah Indonesia yang telah menginspirasi negara-negara ASEAN mengadaptasi program literasi keagamaan lintas budaya. Menurutnya, pendekatan ini berpotensi besar mengurangi ketegangan sosial, menyelesaikan konflik, dan mencegah ekstremisme.

“Sebagaimana visi ASEAN untuk membangun kawasan tangguh dan berorientasi pada manusia, literasi keagamaan lintas budaya adalah pendekatan yang efektif membangun masyarakat inklusif dan kohesif yang menghormati perbedaan politik, sosial, agama, budaya, dan etnis,” tutur Stewart.

Hal senada disampaikan Brett Scharffs, Director International Center for Law and Religion Studies, Brigham Young University Law School. Ia menilai model literasi keagamaan lintas budaya Indonesia kini diakui secara global sebagai pendekatan pendidikan yang membangun kepercayaan sosial melalui kolaborasi lintas komunitas.

“Model ini telah berkembang melampaui sekadar pelatihan guru, menjadi model nyata yang mendorong kerja sama bermakna antar komunitas. Harapannya, nilai-nilai ini bisa diperluas ke berbagai belahan dunia,” ujarnya.

Konferensi ICCCRL 2025 dihadiri lebih dari 200 peserta dari 20 negara, termasuk Austria, Denmark, Jepang, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Swiss, Inggris, dan negara-negara ASEAN. Peserta terdiri dari pejabat pemerintahan, akademisi, tokoh agama, pimpinan lembaga internasional, serta guru alumni program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) dari berbagai provinsi di Indonesia.

Penulis : amanda az

Editor : reni diana

Berita Terkait

20 Talenta Vokasi Indonesia Siap Bertarung di WorldSkills Competition 2026 Shanghai
Kekerasan Anak Terjadi di Rumah, Sekolah hingga Pesantren, DPR Soroti Sistem Perlindungan
SatuBeasiswa Indonesia Himpun 465 Jenis Beasiswa dari Berbagai Lembaga
PTGMI Lumajang Edukasi 100 Santri, Ajarkan Cara Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut
200 Mahasiswa Dikukuhkan di AMN Surabaya, Kemdiktisaintek: Keragaman adalah Kekuatan
Sekolah di Yogyakarta Perkuat Literasi dan Numerasi Lewat STEM Berbasis PISA
GEMPHAR Gelar Pelatihan dan Pembekalan Saksi Jelang Pilkades Sukadanau
Dua Ruang Kelas Roboh Akibat Gempa Nagekeo, Guru SD Katolik Doki Tak Berhenti Mengajar

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 09:08 WIB

20 Talenta Vokasi Indonesia Siap Bertarung di WorldSkills Competition 2026 Shanghai

Rabu, 16 September 2026 - 15:09 WIB

Kekerasan Anak Terjadi di Rumah, Sekolah hingga Pesantren, DPR Soroti Sistem Perlindungan

Rabu, 16 September 2026 - 14:01 WIB

SatuBeasiswa Indonesia Himpun 465 Jenis Beasiswa dari Berbagai Lembaga

Rabu, 16 September 2026 - 10:23 WIB

PTGMI Lumajang Edukasi 100 Santri, Ajarkan Cara Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut

Minggu, 13 September 2026 - 08:15 WIB

200 Mahasiswa Dikukuhkan di AMN Surabaya, Kemdiktisaintek: Keragaman adalah Kekuatan

Berita Terbaru