MEDAN – Mengendarai motor sendirian melintasi jalan-jalan berliku Sumatera Barat menjadi pengalaman tak terlupakan bagi H. Amsyal, seorang pegiat touring asal Medan.
Perjalanan dimulai pada 5 Oktober 2025 dari Medan dan berakhir kembali di kota yang sama pada 11 Oktober 2025 itu membawanya menjelajahi berbagai destinasi wisata alam nan memesona.
Rute yang ditempuh cukup panjang: Medan – Bukittinggi – Danau Singkarak – Solok – Aia Angek Gunung Kili – Danau Kembar (Danau Di Ateh dan Danau Di Bawah) – Alahan Panjang – Sitinjau Lauik – Jembatan Siti Nurbaya – Pantai Taplau Padang – Pantai Gandoriah Pariaman – Danau Maninjau – Bukittinggi – Medan.
“Saya sengaja perjalanan sendirian supaya bisa menikmati setiap destinasi tanpa terburu-buru,” ujar H. Amsyal, Rabu (15/10/2025)
“Kalau ramai-ramai, biasanya banyak kompromi dan tidak bisa benar-benar menikmati suasana alam dan masyarakat setempat.”
Menjelajah Alam dan Budaya Minang
Menurut H. Amsyal, jalanan di wilayah Sumatera Barat relatif bagus dan aman untuk touring, terutama di sekitar Danau Singkarak.
“Jalannya mulus, tapi tetap harus hati-hati karena banyak tikungan tajam dan pemandangan indah yang bikin mata teralihkan,” katanya sambil tertawa.
Setelah dua hari perjalanan, ia berhenti di Pemandian Air Panas Aia Angek Gunung Kili di Kabupaten Solok. Dengan tiket masuk hanya Rp5.000, pengunjung sudah bisa menikmati air panas alami dan parkir gratis.
“Lokasinya nyaman, ada masjid yang bersih dan indah untuk shalat subuh sebelum lanjut jalan,” ujarnya.
Ia juga menginap di penginapan sekitar lokasi pemandian dengan tarif Rp150.000 per malam.
“Pelayanannya ramah, tempatnya bersih, dan harganya jauh lebih murah dibanding pemandian Sidebuk-debuk di Karo, Sumatera Utara,” jelasnya.
Menikmati “Swiss-nya Sumatera Barat” di Alahan Panjang
Perjalanan berlanjut ke Alahan Panjang, yang terkenal dengan sebutan Swiss-nya Sumatera Barat. Terletak di ketinggian 1.560 meter di atas permukaan laut, kawasan ini menawarkan udara sejuk dengan suhu siang hari sekitar 21°C dan malam hari 17°C.
“Benar kata orang, Alahan Panjang itu kota dingin tanpa salju. Pemandangannya luar biasa, apalagi di tepi Danau Di Ateh,” ujar H. Amsyal kagum.
Dengan tiket Rp10.000 per orang, wisatawan sudah bisa menikmati panorama seperti di Eropa.
Dari Alahan Panjang, ia melanjutkan perjalanan ke Kota Padang. Setelah bermalam, ia melakukan city tour ke Jembatan Siti Nurbaya, Pantai Air Manis (lokasi legenda Malin Kundang), Pantai Taplau, dan Pantai Gandoriah Pariaman.
“Pantai Gandoriah sangat bersih dan terawat. Biaya masuknya gratis di hari biasa, dan hanya Rp10.000 di akhir pekan. Ini patut dicontoh oleh daerah wisata lain,” katanya sambil mengutip pernyataan Wali Kota Pariaman, Yota Balad, S.STP., M.Si., yang ditemuinya di lokasi.
Singgah di Kampung Halaman dan Bertemu Komunitas Touring
Setelah dari Padang, H. Amsyal melanjutkan perjalanan ke Lubuk Basung, Kabupaten Agam, dan bermalam di rumah rekannya, Om Eppi, anggota Touring Motor Indonesia Regional Sumbar.
Keesokan harinya, ia menyempatkan servis motor sebelum menuju Desa Bayur, Danau Maninjau, kampung halamannya yang sudah lama tak ia kunjungi.
Perjalanan diakhiri dengan bermalam di Bukittinggi sebelum kembali ke Medan.
“Yang paling berkesan itu keramahan masyarakat Sumatera Barat dan murahnya biaya wisata. Belum lagi kuliner Minangnya, enak dan terjangkau,” ujarnya dengan senyum puas.
Ia juga mengaku senang bisa bergabung dalam kopdar Touring Motor Indonesia Regional Sumbar, tempat ia bertemu banyak rekan baru sesama pecinta touring.
“Touring bukan hanya soal perjalanan, tapi juga tentang persaudaraan dan bagaimana kita menghargai setiap tempat yang kita lewati,” pungkasnya.
Penulis : lazir
Editor : ameri













