Tabrakan Tongkang di Jembatan Mahakam Jadi Alarm Serius: Perlu Reformasi Tata Kelola dan Sistem Proteksi

- Penulis

Selasa, 6 Mei 2025 - 14:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Marcellus Hakeng Jayawibawa (dok. rentak.id)

Marcellus Hakeng Jayawibawa (dok. rentak.id)

JAKARTA – Insiden kapal tongkang bermuatan batu bara yang menghantam salah satu tiang penyangga Jembatan Mahakam pada 28 April 2025 bukan sekadar kecelakaan biasa.

Peristiwa ini menjadi sinyal kuat akan rentannya infrastruktur penting terhadap lalu lintas logistik yang padat, terutama di kawasan vital seperti Kalimantan Timur. Akibat benturan tersebut, otoritas memutuskan menutup jembatan sementara mulai 30 April hingga 1 Mei sebagai tindakan pengamanan, sembari menunggu hasil penilaian teknis lebih lanjut.

Namun, menurut DR. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, S.SiT., M.Mar, pengamat maritim dari IKAL Strategic Center (ISC), persoalan ini jauh lebih dalam dari sekadar kerusakan fisik. “Masalah ini menyentuh sisi tata kelola lintas sektor yang belum solid, serta ketidakseimbangan antara aspek keselamatan dan ekonomi dalam pengambilan kebijakan,” ujarnya di Jakarta (6/5/2025).

Lebih lanjut, Capt. Hakeng menegaskan, “Jembatan Mahakam berdiri tepat di atas arteri pelayaran yang menopang distribusi batu bara dan barang penting lainnya. Saat jalur ini terganggu, dampaknya merambat ke mana-mana: pengiriman terhambat, biaya membengkak, dan aktivitas pelabuhan jadi kacau.”

Menurutnya, insiden semacam ini tidak bisa ditangani secara parsial. Ia menyoroti lemahnya koordinasi antara instansi seperti Kementerian PUPR yang mengelola jembatan dan Kementerian Perhubungan yang bertanggung jawab atas lalu lintas sungai melalui KSOP.

“Akibatnya, ketika ada kejadian, kita tidak punya satu komando terpadu yang bisa bergerak cepat dan tepat. Respons jadi lamban dan kebijakan sering kali bersifat tambal sulam,” ujarnya.

Penutupan sementara Jembatan Mahakam juga memperlihatkan dilema yang dihadapi pemerintah: memilih antara menjaga keselamatan atau menjaga kelancaran ekonomi. “Padahal, ini bukan pilihan yang harus saling meniadakan. Harus ada solusi yang menyatukan keduanya,” kata Capt. Hakeng.

Dalam jangka pendek, ia menilai kerugian ekonomi akibat insiden ini mencakup naiknya ongkos logistik, terganggunya aliran distribusi, dan tekanan pada pelabuhan yang jadi overkapasitas. “Kalau berlarut, hal ini bisa menurunkan minat investor dan menggerus daya saing produk ekspor kita,” tambahnya.

Sebagai langkah konkret, Capt. Hakeng mendorong pemasangan fender—pelindung karet elastis—di sekitar tiang jembatan. “Fender mampu menyerap benturan kapal, dan ini sudah diterapkan secara luas di banyak negara dengan lalu lintas pelayaran padat,” jelasnya. Ia menyayangkan bahwa meski Jembatan Mahakam sudah lebih dari 20 kali mengalami insiden serupa, sistem pelindung ini belum dijadikan bagian permanen dari infrastruktur.

Ia mengusulkan pembiayaan fender bisa dibagi melalui skema retribusi antara pemerintah dan pelaku industri pelayaran. “Dengan begitu, tidak membebani APBN sepenuhnya, tapi justru menjadi investasi strategis jangka panjang,” tegasnya.

Namun, solusi teknis saja tak cukup. Capt. Hakeng juga menyerukan adanya reformasi kelembagaan dan perbaikan tata kelola antarinstansi. Pemerintah daerah, meskipun tidak punya kewenangan langsung, perlu diberi ruang dalam mitigasi karena merekalah yang paling memahami dampak sosial dan kebutuhan lapangan. “Ada urgensi untuk membentuk sistem koordinasi lintas sektoral yang lebih responsif dan adaptif,” katanya.

Tak hanya itu, ia menyarankan penambahan alat bantu navigasi modern seperti radar, lampu pandu, dan sistem kamera pengawas, serta implementasi sistem peringatan dini. “Dengan teknologi sekarang, semua itu sangat mungkin diterapkan dan justru akan menekan biaya kerusakan di masa depan,” tambahnya.

Akhirnya, Capt. Hakeng menekankan bahwa insiden ini seharusnya jadi titik balik dalam cara kita memperlakukan infrastruktur strategis. “Tidak cukup membangun yang kokoh. Kita juga harus membangun sistem yang melindungi, mengelola, dan merespons dengan cepat. Keselamatan dan ekonomi bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya bisa berjalan seiring, jika dirancang dengan visi dan strategi yang matang,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait

Kemenag Siapkan Seleksi Majelis Masyayikh 2026–2031, Bentuk Tim AHWA
Menko Polkam Djamari Chaniago: Polri Harus Jadi Institusi yang Dicintai Rakyat
Proyek Normalisasi Sungai Ciliwung Dikebut, AHY Sebut Sudah Tembus 17 Kilometer
Permenaker 7/2026 Diprotes, KSPI dan Partai Buruh Desak Revisi Aturan Outsourcing
3 SPPG di Bangka Belitung Rampung, Siap Dukung Program Makan Bergizi Gratis
Program BSPS 2026: Pemerintah Targetkan 3 Juta Rumah Layak Huni hingga 2029
Irman Gusman: Pariwisata Sumatera Barat Punya Potensi Besar, Mentawai Bisa Jadi Destinasi Global
Kuliah Umum di UNWAHAS, Nusron Wahid Tekankan Pentingnya Pemerataan Akses Tanah

Berita Terkait

Sabtu, 9 Mei 2026 - 08:02 WIB

Kemenag Siapkan Seleksi Majelis Masyayikh 2026–2031, Bentuk Tim AHWA

Kamis, 7 Mei 2026 - 15:59 WIB

Proyek Normalisasi Sungai Ciliwung Dikebut, AHY Sebut Sudah Tembus 17 Kilometer

Senin, 4 Mei 2026 - 15:01 WIB

Permenaker 7/2026 Diprotes, KSPI dan Partai Buruh Desak Revisi Aturan Outsourcing

Senin, 4 Mei 2026 - 07:24 WIB

3 SPPG di Bangka Belitung Rampung, Siap Dukung Program Makan Bergizi Gratis

Minggu, 3 Mei 2026 - 19:22 WIB

Program BSPS 2026: Pemerintah Targetkan 3 Juta Rumah Layak Huni hingga 2029

Berita Terbaru