BANJARMASIN – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus berkomitmen mewujudkan pendidikan berkualitas bagi seluruh warga negara, sesuai amanat konstitusi.
Upaya ini ditegaskan kembali oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, dalam dialog pendidikan bersama warga SMA Negeri 7 Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Wamen Atip menekankan pentingnya menciptakan keunggulan yang berdiferensiasi di setiap satuan pendidikan.
“Kita semua dituntut untuk menghadirkan pendidikan berkualitas, di mana setiap individu memiliki keunggulan yang unik. Peran pendidik juga sangat krusial, karena mereka harus memiliki kompetensi dan kepemimpinan yang mumpuni untuk mendorong hal ini,” ujarnya di Banjarmasin, Sabtu (8/2/2025).
Selain berdialog dengan guru dan siswa, Wamen Atip juga menyempatkan diri meninjau program pengelolaan sampah daur ulang yang dijalankan oleh siswa SMA Negeri 7 Banjarmasin.
Program ini telah berjalan selama satu tahun dan dikelola oleh enam siswa yang memiliki kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan.
Affanda Rasya Ramadhan, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa program ini bermula dari partisipasi mereka dalam lomba Wirausaha Ekonomi Hijau yang diselenggarakan oleh Kalsel Kreatif.
“Dalam lomba tersebut, kami ditantang untuk menciptakan program yang mengubah isu lingkungan menjadi peluang wirausaha. Kami melihat banyaknya botol plastik yang menumpuk di lingkungan sekolah, lalu kami membuat keranjang sampah khusus botol plastik di setiap dua kelas. Setiap satu atau dua minggu sekali, kami mengumpulkan dan memilah sampah tersebut. Tutup botol, botol, dan labelnya dipisahkan untuk diolah lebih lanjut. Tutup botol kami ubah menjadi gantungan kunci, sementara botol dan labelnya dijadikan ecobrick,” papar Affanda.
Berkat inovasi ini, tim mereka berhasil meraih juara kedua dalam lomba tingkat Kalimantan Selatan.
Affanda juga memaparkan proses pengolahan sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomi.
“Tutup botol yang sudah dipilah dicacah menggunakan mesin, dilelehkan di oven, lalu diratakan menjadi kepingan. Setelah mengeras, kepingan tersebut dipotong menjadi berbagai bentuk huruf menggunakan mesin potong manual, lalu dihaluskan. Hasil akhirnya adalah gantungan kunci yang kami jual kepada guru dan siswa di sekolah,” jelasnya.
Meski program ini telah berjalan dengan baik, tantangan masih ada, terutama dalam hal keterbatasan peralatan yang mempengaruhi variasi produk yang bisa dihasilkan.
“Saat ini, bentuk yang bisa kami buat masih terbatas. Kami berharap dengan mesin yang lebih canggih, kami bisa menciptakan produk yang lebih beragam,” ujar Affanda.
Untuk memastikan keberlanjutan program, para siswa kelas 12 yang mengelola proyek ini telah mempersiapkan generasi penerus. “Kami sudah melatih adik-adik kelas agar mereka bisa melanjutkan program ini dan bahkan mengembangkannya ke skala yang lebih besar. Mungkin mereka tidak hanya melanjutkan program yang ada, tetapi juga menemukan solusi inovatif untuk isu lingkungan lainnya di sekolah,” tutur Affanda.
Kemendikdasmen memberikan apresiasi tinggi terhadap upaya siswa SMA Negeri 7 Banjarmasin dalam mengembangkan program yang tidak hanya peduli lingkungan, tetapi juga memiliki nilai wirausaha.
Diharapkan, inovasi semacam ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk menciptakan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga memiliki dampak sosial dan lingkungan yang positif.***













