RENTAK.ID – Aktris Tya Ariestya menerapkan pola asuh yang menekankan pentingnya kesederhanaan dan kemampuan mengelola keuangan kepada anak-anaknya.
Meski hidup sebagai figur publik, Tya Ariestya tidak ingin anak-anaknya terbiasa dengan gaya hidup mewah. Ia memilih memberikan pemahaman mengenai nilai uang melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satunya dengan meminta anak mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran dari uang saku yang diterima. Menurut Tya Ariestya, kebiasaan tersebut dapat membantu anak memahami penggunaan uang sekaligus belajar menghargai setiap rupiah.
“Aku tuh minta dia tuh bikin catatannya itu. Jadi hari ini uangnya dipakai buat jajan apa saja gitu. Pemasukan sama pengeluarannya diajarin ya, biar tahu, biar kayak dilatih sedikit demi sedikit gitu. Biar lebih menghargai uang saja sih,” kata Tya Ariestya kepada awak media di Studio Trans7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Tya Ariestya juga berusaha memberikan pengalaman langsung kepada anak agar pemahaman mengenai kesederhanaan tidak hanya disampaikan melalui teori.
Ia menceritakan pengalamannya mengajak sang anak menikmati makanan di pinggir jalan, salah satunya nasi gulai tikungan atau gultik yang harganya relatif terjangkau.
Saat mengetahui harga makanan tersebut hanya sekitar Rp7.000, anak Tya sempat mempertanyakan bagaimana makanan bisa dijual dengan harga murah.
“‘Nasi Gultik ini harganya cuma Rp7 ribu Kak. Harganya Rp7 ribu.’ Dia tanya, kok bisa ya Bunda Rp7 ribu? ‘Iya, karena kan memang dia tidak sewa tempat mungkin ya, kita tidak tahu tempatnya tidak bayar AC dan lain-lain jadi dia bisa kasih harga murah.’ Pikirannya itu sampai ke situ,” tutur Tya.
Menurut Tya, pengalaman seperti itu penting agar anak memahami bahwa kenyamanan tidak selalu harus diperoleh dari tempat atau fasilitas yang mahal.
Ia ingin anak-anaknya mampu beradaptasi ketika berada di lingkungan dengan kondisi sosial dan ekonomi yang beragam.
“Karena kan ini kita gak selamanya tuh bermewah-mewahan gitu. Kita juga harus bisa dan nanti juga punya teman juga kan gak semua teman-temannya juga mungkin bisa berkelebihan seperti Kanaka, Alhamdulillah. Aku pengen dia bisa masuk ke semua kalangan,” ujar Tya.
Bagi Tya, pendidikan mengenai kesederhanaan bukan berarti membatasi anak untuk menikmati fasilitas yang dimiliki keluarga. Ia lebih ingin membangun kesadaran agar anak tidak menjadikan kemewahan sebagai satu-satunya ukuran kenyamanan dalam kehidupan. ***






