Simposium KPPU: Pasal 86M UU BUMN Dinilai Berpotensi Langgar Prinsip Persaingan Sehat

- Penulis

Selasa, 1 Juli 2025 - 10:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua KPPU, M. Fanshurullah Asa (dok. rentak.)

Ketua KPPU, M. Fanshurullah Asa (dok. rentak.)

JAKARTA – Hak monopoli bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kembali menjadi perdebatan hangat dalam diskursus hukum dan ekonomi nasional. Simposium nasional bertajuk “Undang-Undang BUMN dalam Perspektif Persaingan Usaha” yang digelar Senin (30/6/2025) menjadi wadah kritik dan refleksi atas keberadaan Pasal 86M dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 tentang BUMN.

Simposium yang diselenggarakan oleh Forum Dosen Persaingan Usaha (FDPU), Universitas Paramadina, dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) ini menyoroti secara tajam ketentuan yang memberikan kewenangan kepada Presiden untuk menetapkan hak monopoli kepada BUMN atau anak usahanya melalui Peraturan Pemerintah (PP).

Ketua KPPU M. Fanshurullah Asa menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan negara melalui BUMN dan prinsip persaingan usaha yang sehat.

“Sejak 2020, KPPU telah memberikan enam saran kebijakan kepada Kementerian BUMN, termasuk mitigasi jabatan rangkap dan penguatan program kepatuhan persaingan. Kami ingin memastikan bahwa BUMN dikelola secara profesional dan berdaya saing, tetapi tetap tunduk pada prinsip-prinsip persaingan yang sehat dan adil,” tegasnya dalam pembukaan simposium.

Taufik Ariyanto, Deputi Bidang Kajian dan Advokasi KPPU, mengungkapkan bahwa keberadaan Pasal 86M dalam UU BUMN yang baru telah menjadi perhatian serius karena berpotensi mengaburkan batas antara peran negara dan dominasi pasar.

Forum ini menghadirkan sejumlah pakar hukum dan ekonomi, antara lain Prof. Dr. Ningrum Natasya Sirait (Universitas Sumatera Utara), T.M. Zakir S. Machmud, Ph.D. (Universitas Indonesia), dan Wahyu Setyawan, S.H., LL.M., M.M., Pelaksana Tugas Deputi Bidang Hukum dan Perundang-undangan Kementerian BUMN.

Para pakar secara umum menyampaikan keprihatinan terhadap konsekuensi yuridis, institusional, dan ekonomi dari pemberian hak monopoli melalui PP. Mereka sepakat bahwa PP turunan dari Pasal 86M harus mengandung penjabaran definisi, indikator, dan kriteria yang jelas mengenai jenis usaha atau layanan yang dapat diberikan status monopoli.

“Penetapan hak monopoli kepada BUMN tanpa kejelasan indikator bisa menimbulkan distorsi pasar dan mengikis semangat reformasi ekonomi yang selama ini dibangun,” ujar salah satu pembicara.

Dalam diskusi tersebut, disampaikan pula bahwa keterlibatan aktif KPPU dalam pembahasan regulasi turunan dari UU BUMN menjadi mutlak. Hal ini diperlukan untuk memastikan bahwa prinsip-prinsip persaingan usaha yang sehat tetap terjaga dan tidak dikompromikan oleh kepentingan sektoral.

Anggota KPPU Eugenia Mardanugraha, mantan Anggota KPPU Chandra Setiawan (periode 2018–2023), Guru Besar Universitas Pelita Harapan Prof. (jur) Udin Silalahi, dan Wakil Rektor Universitas Paramadina Dr. Handi Risza Idris juga turut hadir dan menyampaikan pemikirannya dalam forum tersebut.

Ketua FDPU Sukarmi menutup acara dengan harapan agar simposium ini dapat menjadi pijakan awal untuk menyusun kebijakan yang lebih adil dan akuntabel dalam pengelolaan BUMN di tengah dinamika persaingan usaha yang semakin kompleks.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Produk UMKM Sulit Tembus Pasar Global? Barantin dan Kemendag Siapkan Langkah Ini
Hashim Ungkap Rencana HP Gratis untuk Warga, Ada Saldo Awal Rp50 Ribu
Drone Pembersih Insulator Listrik Diuji, Duta Topkey Energi Bidik Implementasi pada 2027
1.985 Koperasi Merah Putih Masuk Jaringan BULOG, Pesanan Beras SPHP Capai 624 Ton
Harga Emas Antam Anjlok Rp20.000 per Gram, Perak Ikut Melemah Hari Ini
Garam Merah Putih Bima Siap Tembus Pasar Nasional, Petambak Lokal Punya Harapan Baru
Kuota Tuna Sirip Biru Indonesia Naik 25 Persen, Berpeluang Tembus 3.170 Ton per Tahun
Laba BULOG Cetak Rekor Rp2,4 Triliun, Akhir Tahun Diprediksi Tembus Rp3 Triliun

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:52 WIB

Hashim Ungkap Rencana HP Gratis untuk Warga, Ada Saldo Awal Rp50 Ribu

Rabu, 14 Oktober 2026 - 23:03 WIB

Drone Pembersih Insulator Listrik Diuji, Duta Topkey Energi Bidik Implementasi pada 2027

Rabu, 14 Oktober 2026 - 07:42 WIB

1.985 Koperasi Merah Putih Masuk Jaringan BULOG, Pesanan Beras SPHP Capai 624 Ton

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:14 WIB

Harga Emas Antam Anjlok Rp20.000 per Gram, Perak Ikut Melemah Hari Ini

Minggu, 11 Oktober 2026 - 14:34 WIB

Garam Merah Putih Bima Siap Tembus Pasar Nasional, Petambak Lokal Punya Harapan Baru

Berita Terbaru