JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan. Hingga awal April 2025, rupiah nyaris menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Menanggapi situasi ini, Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Sugiono, memperingatkan bahwa pelemahan rupiah ini merupakan sinyal memburuknya kondisi perekonomian nasional.
“Rupiah yang mendekati Rp17.000 per dolar AS menunjukkan depresiasi signifikan. Ini cerminan dari melemahnya kepercayaan pasar terhadap ketahanan ekonomi Indonesia,” ujar Sugiono saat dihubungi Minggu (6/4/2025).
Tekanan terhadap pasar keuangan domestik semakin diperburuk dengan dua kali penghentian sementara perdagangan (trading halt) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam sepekan terakhir, imbas dari arus keluar dana asing (capital outflows) yang masif.
Menurut Sugiono, arus keluar dana asing ini bukan hanya melemahkan nilai tukar rupiah, tetapi juga mencerminkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi jangka pendek. Ia memprediksi kondisi ini bisa terus memburuk bila pemerintah belum mampu meyakinkan publik dan pelaku pasar mengenai ketahanan sistem ekonomi dan sektor perbankan nasional.
“Selama pemerintah belum menunjukkan langkah nyata dalam memperkuat fundamental ekonomi, serta menjamin sektor perbankan tetap aman dari risiko seperti net interest margin (NIM) negatif, tekanan ini akan terus berlanjut,” jelasnya.
Kondisi global juga ikut memperkeruh situasi. Kenaikan tarif impor oleh pemerintah AS baru-baru ini berdampak besar pada penguatan dolar, yang turut menekan mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sugiono menambahkan, fenomena keluarnya “hot money” saat masa libur panjang seperti Lebaran bukanlah hal baru. Situasi serupa pernah terjadi pada 1996–1998, saat krisis moneter Asia, serta pada 2008 dan 2010 ketika terjadi gejolak ekonomi global.
Namun, ia menekankan bahwa pemerintah, khususnya tim ekonomi di bawah kepemimpinan Presiden terpilih Prabowo Subianto, perlu bertindak cepat dan konkret untuk mengatasi tekanan ini sebelum berlarut dan menimbulkan kepanikan lebih lanjut di pasar. ***
Penulis : lazir
Editor : gardo













