BOGOR – Proses revitalisasi SD Negeri 02 dan 03 Leuwibatu, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, membuat ratusan siswa harus menempuh pembelajaran di lokasi sementara. Mereka kini belajar di rumah penduduk, pondok pesantren, bahkan di rumah guru.
Guru Kelas 6 SDN 03 Leuwibatu, Rejoko Puji Triantoro, mengungkapkan bahwa kondisi bangunan sekolah sebelum direvitalisasi memang sudah tidak layak.
“Sebelum kami melakukan pembelajaran di sini, kondisi kelas cukup memprihatinkan. Tembok mengelupas, lantai berdebu, atap bocor, dan pasir keluar dari dinding,” ujarnya, Rabu (13/8/2025).
Ia menceritakan, saat musim hujan, proses belajar sering terganggu akibat air masuk ke ruang kelas.
“Kalau bocor, ya kami bersihkan dan pel lantainya. Pagi-pagi kadang becek lagi, tetap kami bereskan supaya pembelajaran bisa berjalan,” katanya.
Meski harus belajar di tempat seadanya, semangat para siswa tetap tinggi.
“Anak-anak tetap antusias. Sesuai arahan Pak Menteri, pembelajaran harus tetap dilaksanakan meski dengan keterbatasan,” lanjut Rejoko.
Namun, ia mengakui bahwa pembelajaran di lokasi sementara tidak seefektif di sekolah.
“Kalau di kelas kan pakai meja dan kursi, sedangkan di sini duduk di lantai. Efektivitasnya sedikit berkurang, tapi kami berusaha membuat suasana tetap menyenangkan,” ucapnya.
Rejoko berharap, setelah proses revitalisasi selesai, kegiatan belajar mengajar (KBM) dapat berjalan lebih nyaman dan setara dengan sekolah di perkotaan.
“Harapannya nanti pembelajaran lebih efektif, nyaman, dan tidak ada lagi kebocoran. Kami dan anak-anak siap berkorban dulu demi hasil yang lebih baik,” pungkasnya.
Penulis : lazir
Editor : ameri













